Doa Seekor Semut



دعاء نملة

Doa Seekor Semut

Penulis:  Adel Abdullah Hindi

Alih Bahasa: Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Doa Seekor Semut ini masuk dalam Kategori Hadits

وردَ عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خرج سليمان عليه السلام يستقي، فرأى نملةً مستلقيَةً على ظهرها، رافعةً قوائمَها إلى السماء، تقول: اللهم، إنا خَلْقٌ مِن خلقِك، ليس بنا غنًى عن سُقيَاك، فقال لهم سليمان: ارجعوا؛ فقد سُقيتُم بدعوة غيركم (رواه أحمد، وصحَّحه الحاكم)

“Sulaiman ‘alaihissalam keluar untuk memohon hujan (istisqa), lalu ia melihat seekor semut yang berbaring telentang di atas punggungnya sambil mengangkat kaki-kakinya ke arah langit dan berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-Mu, kami tidak bisa lepas dari siraman air-Mu.’ Maka Sulaiman berkata kepada kaumnya: ‘Pulanglah kalian, sungguh kalian telah diberi minum (hujan) berkat doa makhluk selain kalian.'” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan disahihkan oleh Al-Hakim).

أخي المسلم الكريم، إنه في الحقيقة لولا شيوخٌ رُكَّعٌ، وأطفالٌ رُضَّعٌ، وبهائم رُتَّعٌ – ما سُقِينا قطرةَ ماءٍ.

Saudaraku Muslim yang mulia, sesungguhnya pada hakikatnya jika bukan karena orang-orang tua yang ruku’, bayi-bayi yang menyusu, dan hewan-hewan yang merumput, niscaya kita tidak akan diberi minum setetes air pun.

إن حديث أبي هريرة السابق يستوقف كل مسلمٍ ومسلمةٍ وقفةً طويلةً؛ وذلك للتأمل في عجائب قدرة الله، وللتأمل فيما وهب الله لأصغر مخلوقاته من معرفته سبحانه، وما أهمَّه وجعل فيه من غرائز تفوق عقل الإنسان في تصرفاته وعقائده.

Sesungguhnya hadits Abu Hurairah di atas seharusnya membuat setiap Muslim dan Muslimah berhenti sejenak dalam waktu yang lama; guna merenungkan keajaiban kekuasaan Allah, dan merenungkan apa yang Allah anugerahkan kepada makhluk-Nya yang terkecil berupa makrifat (pengenalan) kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, serta apa yang Dia ilhamkan dan tanamkan padanya berupa insting yang melampaui akal manusia dalam tindakan dan keyakinannya.

وعن هذه القصَّة العجيبة، وعن دعاء تلك النملة يروي بعض العلماء أن النملة رأتهم مِن مسافة ستَّة أميالٍ قبل أن يصلوا، ثم أنذرَت قومها، وفي ذلك دعوةٌ للمسلم: أن يدعو أمَّتَه للخير، ويُنْذرها من الشر، ما استطاع إلى ذلك سبيلًا، 

Mengenai kisah yang menakjubkan ini dan tentang doa semut tersebut, sebagian ulama meriwayatkan bahwa semut itu melihat mereka dari jarak enam mil sebelum mereka sampai, kemudian ia memperingatkan kaumnya. Hal ini merupakan ajakan bagi seorang Muslim: agar menyeru umatnya kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari keburukan semampunya.

ونبي الله سليمان خرج يستسقي، أي: يَطلُب السُّقيا، فإذا به يرى نَملةً، ولم يرَ النمل كلَّه، فيراها على تلك الحالة، ورأى قوائمها التي تكاد تكون أنحل من الشعر، وهي رافعةٌ قوائمَها إلى السماء، ولها ست قوائم، فاسْتَلْقَت على ظهرها ورفعت قوائمها، 

Nabi Allah Sulaiman keluar untuk istisqa, yakni memohon hujan, lalu tiba-tiba ia melihat seekor semut—ia tidak melihat seluruh semut—ia melihatnya dalam kondisi tersebut. Beliau melihat kaki-kakinya yang hampir lebih tipis dari rambut, sementara ia mengangkat kaki-kakinya ke langit—semut memiliki enam kaki—lalu ia berbaring telentang dan mengangkat kaki-kakinya.

فهذه نملة تعرف أين تتوجه، ويا ليت قومي يَعقِلون، وتسأل المولى لا من بطن الأرض، ولا من شرق ولا غرب، ولكن من السماءِ، مِن العلوِّ، ترفع قوائمها إلى الله فقط، كالذي يرفع يديه مستصرخًا ضارعًا؛ كما ثبت لنا أنه – صلى الله عليه وسلم – رفع يديه حتى رُئي بياض إبطيه، أي: في هذه الحالة بالذات، وهو يدعو مولاه ويستجير به ويستنجِدُ، وهذه النملة مستلقية على ظهرها، ورفعت قوائمها تسأل الله.

Ini adalah seekor semut yang mengetahui ke mana ia harus menghadap, dan duhai kiranya kaumku mengerti. Ia memohon kepada Tuhannya bukan dari perut bumi, bukan dari timur atau barat, melainkan dari langit, dari ketinggian. Ia mengangkat kaki-kakinya hanya kepada Allah saja, seperti orang yang mengangkat kedua tangannya sambil berteriak memohon dan merendah diri; sebagaimana tetap bagi kita bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih ketiaknya, yakni dalam kondisi khusus ini saat berdoa kepada Tuhannya, memohon perlindungan dan pertolongan. Semut ini berbaring telentang dan mengangkat kaki-kakinya memohon kepada Allah.

ثم يروي لنا أنها قالت: 

Kemudian diriwayatkan kepada kita bahwa ia (semut) berkata:

(اللهم، إنا خَلقٌ مِن خلقك، فلا تمنع عنا بذنوبنا فضلَك)، أو(بذنوب العباد)، 

“Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-Mu, maka janganlah Engkau halangi karunia-Mu dari kami karena dosa-dosa kami,” atau “karena dosa-dosa para hamba.”

كما في رواية أحمد: 

Sebagaimana dalam riwayat Ahmad:

(فلا تُهلكنا بذنوب العِباد، لا غِنى لنا عن سُقياك)

“Maka janganlah Engkau binasakan kami karena dosa-dosa para hamba, kami tidak bisa lepas dari siraman air-Mu.”

وفي بعض الروايات كما يذكرها الجاحظ: 

Dalam sebagian riwayat sebagaimana disebutkan oleh Al-Jahiz:

(إنْ لم تَسقِنا تُهلكْنا، إنْ لم تسقنا فأمِتْنا)، أي: لنستريح من عذاب القحط،

“Jika Engkau tidak memberi kami minum, niscaya Engkau membinasakan kami. Jika Engkau tidak memberi kami minum, maka matikanlah kami,” maksudnya: agar kami beristirahat dari azab kekeringan.

 فهذه نملةٌ، وهي أيسَر ما تكون تأتي بهذا العمل، فمَن أحقُّ باللجوء إلى الله: الإنسانُ أم هذه الحشرة؟ ومَن أحقُّ بالضراعة إليه: الإنسان أم هي؟ ومَن أحق بالاعتقاد بأن كل شيء بيده سبحانَه؟

Ini adalah seekor semut, makhluk yang paling kecil, sanggup melakukan tindakan ini. Maka siapakah yang lebih berhak untuk berlindung kepada Allah: manusia atau serangga ini? Siapakah yang lebih berhak untuk merendah diri kepada-Nya: manusia atau dia? Dan siapakah yang lebih berhak untuk meyakini bahwa segala sesuatu berada di tangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala?

فما كان مِن نبي الله سليمان إلا أن اكتفى بدعائها، وقال لِمَن معه: (ارجعوا؛ فقد سُقيتم بدعوة غيركم)؛ فالله تعالى سمع دعاء النملة.

Maka tidak ada yang dilakukan Nabi Allah Sulaiman melainkan merasa cukup dengan doa semut itu, dan berkata kepada orang-orang yang bersamanya: “Pulanglah kalian, sungguh kalian telah diberi minum berkat doa selain kalian.” Karena Allah Ta’ala mendengar doa sang semut.

كما يقول الزمخشري:

يَا مَنْ يَرَى مَدَّ الْبَعُوضِ جَنَاحَهَا
في ظُلْمَةِ اللَّيْلِ الْبَهِيمِ الألْيَلِ
وَيَرَى نِيَاطَ عُرُوقِهَا في نَحْرِهَا
وَالْمُخُّ مِنْ تِلْكَ الْعِظَامِ النُّحَّلِ

Sebagaimana dikatakan oleh Az-Zamakhshari:

Wahai Dzat yang melihat nyamuk membentangkan sayapnya
Di kegelapan malam yang hitam pekat
Dan melihat urat-urat di lehernya
Serta sumsum di dalam tulang-tulangnya yang amat tipis

فالمولى سبحانه يسمع ويرى دبيب النملة السوداء، في الليلة الظلماء، تحت الصخرة الصماء؛ فهذه هي القدرة الإلهية والعظمة الربانية، فهو الله ذو الجلال والإكرام سبحانه، وأنت، أخي المسلم، إما تعي أن الله أكبر مِن كل كبير، وأعظم من كل عظيم، وأقدر من أي شيء وأي مخلوق، هو وحده يقدر، هو وحده يعطي ويمنع، هو وحده يُعِزُّ ويُذِلُّ، هو وحده يَنصُر ويُفَرِّج الكرب والهم والغم، فلِمَ لا نلجأ إليه كما لجأتْ إليه النملة؟!

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar dan melihat langkah semut hitam, di malam yang gelap gulita, di bawah batu yang keras membisu. Inilah kekuasaan Ilahi dan keagungan Rabbani. Dialah Allah Pemilik Keagungan dan Kemuliaan Subhanahu wa Ta’ala. Dan engkau wahai saudaraku Muslim, harus menyadari bahwa Allah lebih besar dari segala yang besar, lebih agung dari segala yang agung, dan lebih berkuasa atas segala sesuatu dan setiap makhluk. Dia semata yang berkuasa, Dia semata yang memberi dan menahan, Dia semata yang memuliakan dan menghinakan, Dia semata yang menolong dan melapangkan kesusahan, kesedihan, serta kegalauan. Lalu mengapa kita tidak berlindung kepada-Nya sebagaimana semut itu berlindung kepada-Nya?!

إخواني، يا مَن تطلبون العزة والنصرة؛ لئلا نُمْنَع الخير، ونمنع النصرة، ونمنع العزة والكرامة والتمكين. هيَّا أيها المسلمون لنجدِّد العهد مع الله من جديدٍ، ونلجأ إليه ونستعين به وحده، وسيرينا الله من آثار ذلك الخير الكثير، كما منح النملة ومَن معها، ومنَح سليمان ومَن معه، ونحن عبيدُه، وأكرَم عنده مِن كل مخلوقٍ آخر.

Saudara-saudaraku, wahai kalian yang mencari kemuliaan dan pertolongan; agar kita tidak dihalangi dari kebaikan, tidak dihalangi dari pertolongan, serta tidak dihalangi dari kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan. Marilah wahai kaum Muslimin, kita perbaharui janji dengan Allah sekali lagi, kita berlindung kepada-Nya dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya semata. Allah akan memperlihatkan kepada kita dampak dari kebaikan yang banyak itu, sebagaimana Dia memberikannya kepada semut dan yang bersamanya, serta memberikannya kepada Suleiman dan yang bersamanya. Sedangkan kita adalah hamba-hamba-Nya, dan kita lebih mulia di sisi-Nya daripada makhluk lainnya.

اللهم، إنَّا نسألك نَصرَك الذي وَعَدْت للمسلمين، اللهم، انصر دينك وكتابك وسنَّة نبيِّك وعبادَك الموحِّدين، اللهم، فرِّج الكروب والهمُوم والغمُوم، وانصر كل مسلم مظلوم.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, lapangkanlah kesulitan, kesedihan, dan kegalauan, serta tolonglah setiap Muslim yang terzalimi.

Sumber: Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.