Tata Cara Meng-qadha Sholat yang Terlewat



كيفية قضاء الفوائت

Tata Cara Meng-qadha Sholat yang Terlewat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tata Cara Meng-qadha Sholat yang Terlewat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

أنا سيدة عمري 24 عاما ملتزمة والحمد لله سؤالي عن كيفية قضاء الصلوات الفائتة حيث إني لم أكن أواظب على جميع الصلوات إلا منذ عدة سنوات فهل قضاؤها يكون بالنوافل وقيام الليل أم أن أؤدي كل فرض مرتين أو ثلاث؟ وما مصيري لو توفيت قبل قضائها كلها؟ أفيدوني جزاكم الله خيرا

Saya adalah seorang wanita berusia 24 tahun yang telah berkomitmen (menjalankan agama), walhamdulillah. Pertanyaan saya adalah mengenai tata cara meng-qodho sholat-sholat yang terlewat, di mana saya tidak menjaga seluruh sholat kecuali sejak beberapa tahun yang lalu. Apakah cara meng-qodho-nya dengan mengerjakan nawafil (sholat sunnah) dan qiyamul lail, ataukah saya mengerjakan setiap fardhu sebanyak dua atau tiga kali? Dan bagaimana nasib saya jika saya meninggal dunia sebelum menyelesaikan qodho semuanya? Mohon penjelasannya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:

فنرجو الله تعالى أن يثبت الأخت السائلة على الالتزام بطاعة الله، وأن يعينها على قضاء ما فات عليها من الصلوات.

Kami memohon kepada Allah Ta‘ala agar meneguhkan saudari penanya dalam ketaatan kepada Allah, serta menolongnya untuk meng-qodho sholat-sholat yang telah terlewat darinya.

ونقول لها: عليها أن تتوب إلى الله تعالى من التفريط في الصلاة في الماضي، كما يجب عليها أن يحافظ عليها في المستقبل حيث إن ترك الصلاة ليس بالهين، فهناك من العلماء من يقول بكفر من ترك الصلاة ولو تهاونا عملا بظاهر الأحاديث الدالة على كفر من ترك الصلاة مطلقا.

Kami katakan kepadanya: Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta‘ala dari kelalaian dalam mengerjakan sholat di masa lalu, sebagaimana ia wajib menjaganya di masa depan, karena meninggalkan sholat bukanlah perkara yang ringan. Di antara ulama ada yang berpendapat tentang kekafiran orang yang meninggalkan sholat meskipun karena meremehkan (malas), berdasarkan makna lahiriah hadits-hadits yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan sholat secara mutlak.

لكن مذهب جمهور الفقهاء أنه غير كافر، ويستتاب تارك الصلاة ثلاثة أيام كالمرتد، فإن تاب وإلا قتل كفرا عند الحنابلة، وحدا عند المالكية والشافعية، كما أوضحنا في الفتوى الأخرى هنا 

Namun, madzhab mayoritas (jumhur) fuqoha berpendapat bahwa ia tidak kafir. Orang yang meninggalkan sholat diminta bertaubat selama tiga hari sebagaimana orang murtad; jika ia bertaubat (maka diterima), jika tidak maka ia dibunuh karena kekafiran menurut Hanabilah, dan dibunuh sebagai hadd menurut Malikiyah dan Syafi’iyah, sebagaimana telah kami jelaskan dalam fatwa lainnya di sini.

وذكرنا فيها وجوب قضاء الفوائت عند الجمهور أي تقضي ما فات عليها من الصلوات إن علمت عدد السنين أو الشهور أو الأيام التي تركت فيها الصلاة.

Kami juga telah menyebutkan di dalamnya kewajiban meng-qodho sholat yang terlewat menurut jumhur, yaitu ia meng-qodho sholat yang terlewat jika ia mengetahui jumlah tahun, bulan, atau hari di saat ia meninggalkan sholat tersebut.

تقضي ذلك حسب الاستطاعة، فإن لم تعلم عدد ذلك فعليها أن تقضي حتى تتيقن براءة ذمتها، وسواء كان القضاء في الليل أو في النهار، ولو في أوقات النهي مع وجوب مراعاة الترتيب مثال ذلك أن تصلي الصبح ثم الظهر ثم العصر ثم المغرب ثم العشاء، فهذا يوم.

Ia meng-qodho hal tersebut sesuai kemampuannya. Jika ia tidak mengetahui jumlah pastinya, maka ia wajib meng-qodho sampai ia merasa yakin bahwa tanggungannya telah terbayar. Baik qodho tersebut dilakukan di malam hari maupun siang hari, bahkan pada waktu-waktu yang dilarang, dengan tetap wajib memperhatikan urutan (tartib). Contohnya adalah dengan mengerjakan shubuh, kemudian zhuhur, ‘ashar, maghrib, lalu ‘isya; ini dihitung satu hari.

وهذا الترتيب واجب عند المالكية لكنه ليس شرطا في صحة القضاء، وواجب عند الحنابلة، وهو شرط عندهم في صحة الصلاة إلا لعذر، ومستحب عند الشافعية. قال في منح الجليل وهو مالكي: والمعتمد أن ترتيب الفوائت في أنفسها واجب غير شرط. انتهى.

Urutan ini wajib menurut Malikiyah namun bukan merupakan syarat sahnya qodho. Urutan ini juga wajib menurut Hanabilah dan merupakan syarat sahnya sholat menurut mereka kecuali jika ada ‘udzur. Sedangkan menurut Syafi’iyah, hal itu hukumnya mustahabb (sunnah). Disebutkan dalam Minah al-Jalil (kitab bermadzhab Maliki): “Pendapat yang kuat adalah bahwa mengurutkan sholat-sholat yang terlewat itu sendiri adalah wajib namun bukan syarat (sahnya).” Selesai kutipan.

وقال الحطاب وهو مالكي أيضا: قال في مواهب الجليل: قال الشيخ زروق في شرح الرسالة: قوله- يعني صاحب الرسالة-: ومن عليه صلوات كثيرة صلاها في كل وقت من ليل أو نهار، وعند طلوع الشمس وعند غروبها، وكيفما تيسر له يعني من القلة والكثرة ما لم يخرج لحد التفريط، ولا حد في ذلك بل يجتهد بقدر استطاعته.

Al-Hathtab—yang juga ber-madzhab Maliki—berkata dalam Mawahib al-Jalil: Syaikh Zarruq berkata dalam Syarah ar-Risalah: Perkataannya—yakni penulis ar-Risalah: “Barangsiapa memiliki tanggungan sholat yang banyak, ia mengerjakannya di setiap waktu baik malam maupun siang, saat matahari terbit maupun terbenam, dan dengan cara apa pun yang mudah baginya,” yakni baik sedikit maupun banyak selama tidak keluar menuju batas melalaikan. Tidak ada batasan dalam hal itu, melainkan ia bersungguh-sungguh sesuai kemampuannya.

قال ابن رشد مع التكسب لعياله ونحوه، لا كما قال ابن العربي عن أبي محمد صالح إن قضى في كل يوم يومين لم يكن مفرطا، ويذكر خمسا، فأما مع كل صلاة كما تقول العامة فعل لا يساوي بصلة، ومن لم يقدر إلا على ذلك فلا يدعه لأن بعض الشر أهون من بعض. انتهى.

Ibnu Rusyd berkata (dan ini adalah perkataan Al-Hathtab) bersamaan dengan tetap mencari nafkah bagi keluarganya dan semacamnya. Tidak sebagaimana perkataan Ibnu al-‘Arabi dari Abu Muhammad Shalih bahwa jika seseorang meng-qodho dua hari dalam setiap harinya maka ia tidak dianggap lalai; ia juga menyebutkan lima hari. Adapun mengerjakan satu qodho bersama setiap satu sholat (saat ini) sebagaimana perkataan orang awam, maka itu adalah perbuatan yang tidak seberapa nilainya. Namun barangsiapa yang tidak mampu kecuali hanya itu, maka janganlah ia meninggalkannya karena sebagian keburukan itu lebih ringan daripada sebagian lainnya. Selesai kutipan.

وقال في مطالب أولي النهى وهو حنبلي: ويجب على مكلف لا مانع به قضاء مكتوبة فائتة من الخمس مرتبا إلى أن قال: ولو كثرت الفوائت كما لو قلت، فإن ترك ترتيبها بلا عذر لم يصح لأنه شرط كترتيب الركوع والسجود. انتهى.

Disebutkan dalam Mathalib Uli an-Nuha (kitab bermadzhab Hanbali): “Wajib bagi mukallaf yang tidak memiliki penghalang untuk meng-qodho sholat wajib yang terlewat dari sholat lima waktu secara berurutan,” sampai ia berkata: “Meskipun sholat yang terlewat itu banyak sebagaimana jika sedikit. Jika ia meninggalkan urutannya tanpa ‘udzur maka tidak sah, karena urutan tersebut adalah syarat sebagaimana urutan ruku‘ dan sujud.” Selesai kutipan.

وقال في أسنى المطالب وهو شافعي: ويجب قضاء الفوائت الفرائض بخبر الصحيحين:

Disebutkan dalam Asna al-Mathalib (kitab bermadzhab Syafi’i): “Wajib meng-qodho sholat-sholat wajib yang terlewat berdasarkan kabar di Shohihain:”

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa tertidur dari suatu sholat atau melupakannya, maka hendaklah ia mengerjakannya ketika ia mengingatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

ثم إن فاتت بغير عذر وجب قضاؤها على الفور، وإلا ندب ويستحب ترتيبها لترتيبه صلى الله عليه وسلم فوائت الخندق وخروجا من الخلاف. انتهى.

“Kemudian jika sholat tersebut terlewat tanpa ‘udzur maka wajib meng-qodho-nya dengan segera (al-faur), jika tidak (karena ada udzur) maka hukumnya mandub (sunnah). Dan disunnahkan mengurutkannya karena perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengurutkan sholat-sholat yang terlewat saat perang Khandaq, serta untuk keluar dari perbedaan pendapat.” Selesai kutipan.

وننبه هنا إلى أنه إذا حضرت الصلاة الحاضرة قدمت على قضاء الفوائت، ثم إن من تاب تاب الله عليه، ولو أن أحدا ارتكب ما ارتكب من المحرمات ثم تاب إلى الله توبة نصوحا ومات فإنه مرحوم إن شاء الله تعالى.

Kami ingatkan di sini bahwa jika waktu sholat yang sedang berlangsung telah hadir (dan waktunya sempit), maka ia didahulukan daripada meng-qodho sholat yang terlewat. Kemudian, sesungguhnya barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya. Seandainya seseorang melakukan apa pun dari kemaksiatan lalu ia bertaubat kepada Allah dengan taubah nasuha kemudian ia meninggal dunia, maka sesungguhnya ia dirahmati insya Allah Ta‘ala.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.