Syarat Sah dan Syarat Wajib Puasa



شروط صحة ووجوب الصوم

Syarat Sah dan Syarat Wajib Puasa

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Syarat Sah dan Syarat Wajib Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

ماهي شروط الصوم ؟

Apa sajakah syarat-syarat puasa?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Syarat-syarat puasa terbagi menjadi tiga jenis:

أولاً: شروط الوجوب وهي:

Pertama: Syarat-syarat Wajib (Syuruthul Wujuub), yaitu:

١- البلوغ: فلا يجب الصوم على الصبي ولو كان مراهقاً، لقول النبي صلى الله عليه وسلم:

1. Baligh: Maka tidak wajib puasa bagi anak kecil meskipun ia sudah remaja (murahiq), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَالنَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَالْمَجْنُونِ حَتَّى يَفِيقَ

“Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan: anak kecil hingga ia bermimpi basah (baligh), orang yang tidur hingga ia bangun, dan orang gila hingga ia sadar.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawuud. Namun, wajib bagi wali dari anak yang sudah tamyiz untuk memerintahkannya berpuasa jika ia mampu, dan memukulnya (dengan pukulan edukatif) jika sudah mencapai usia sepuluh tahun sebagaimana shalat agar ia terbiasa.

٢- القدرة: فلا يجب على العاجز عنه لكبر أو مرض، لقول الله تعالى:

2. Kemampuan (Al-Qudrah): Maka tidak wajib bagi orang yang tidak mampu melakukannya karena usia lanjut atau sakit, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ [البقرة: ١٨٤]

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” [Surah Al-Baqarah: 184]

٣- الإقامة: فلا يجب على المسافر بل له أن يفطر ويقضي، لقول الله تعالى:

3. Menetap (Al-Iqamah): Maka tidak wajib bagi musafir, bahkan ia boleh berbuka dan meng-qadha, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ [البقرة: ١٨٤]

“Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” [Surah Al-Baqarah: 184]

ثانياً: شروط الصحة وهي:

Kedua: Syarat-syarat Sah (Syuruthush Shih-hah), yaitu:

١- النية: لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “إنما الأعمال بالنيات”. وتكون من الليل.

1. Niat: Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih). Dan niat tersebut harus dilakukan pada malam hari berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak memalamkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawuud dan An-Nasa’i)

٢- التمييز: فلا يصح من الصبي غير المميز لعدم علمه بمقصد العبادات ومعناها.

2. Tamyiz: Maka tidak sah puasa dari anak yang belum tamyiz karena ia belum mengetahui maksud dan makna ibadah.

٣- الزمان القابل للصوم: فلا يصح في الأيام المحرمة كيوم العيد.

3. Waktu yang diperbolehkan untuk puasa: Maka tidak sah puasa pada hari-hari yang diharamkan seperti hari raya.

ثالثاً: شروط الوجوب والصحة معاً، فلا يجب الصوم ولا يصح بدونها:

Ketiga: Syarat-syarat Wajib dan Sah Sekaligus (Syuruthul Wujuub wash Shih-hah Ma’an):

١- الإسلام: فالكافر الأصلي والمرتد عمله غير مقبول، لقول الله تعالى:

1. Islam: Maka orang kafir asli maupun murtad amalnya tidak diterima, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الزمـر: ٦٥]

“Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” [Surah Az-Zumar: 65]

٢- العقل: فالقلم مرفوع عن المجنون، للحديث السابق: “رفع القلم عن ثلاثة……………والمجنون حتى يفيق”

2. Berakal (‘Aql): Maka pena catatan amal diangkat dari orang gila, berdasarkan hadits yang telah disebutkan sebelumnya: “…dan orang gila hingga ia sadar.”

٣- الطهارة من دم الحيض والنفاس: فالحائض والنفساء يحرم عليهما الصيام ويجب عليهما القضاء.

3. Suci dari darah haidh dan nifas: Maka wanita yang sedang haidh dan nifas diharamkan atas keduanya untuk berpuasa dan wajib bagi keduanya untuk meng-qadha. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Dahulu kami mengalami haidh pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.