Riwayat Penjauhan Api Neraka dari Wajah Orang yang Berpuasa



الجمع بين رواية مباعدة النار عن وجه الصائم سبعين خريفا ورواية مائة عام

Kompromi Antara Riwayat Penjauhan Api Neraka dari Wajah Orang yang Berpuasa Sejauh Tujuh Puluh Musim Gugur dan Riwayat Seratus Tahun

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kompromi Antara Riwayat Penjauhan Api Neraka dari Wajah Orang yang Berpuasa Sejauh Tujuh Puluh Musim Gugur dan Riwayat Seratus Tahun ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

عندي سؤال: هناك حديث: من صام في سبيل الله باعد الله وجهه سبعين خريفا عن النار ـ وحديث آخر: من صام في سبيل الله باعد الله وجهه مائة سنة، فكيف نجمع بين هذين الحديثين؟ ففي الأول سبعون خريفا وفي الثاني مائة سنة؟ أفيدونا مما علمكم الله، وجزاكم الله خيرا.

Saya memiliki pertanyaan: Ada sebuah hadits: “Barangsiapa berpuasa di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim gugur” — dan hadits lain: “Barangsiapa berpuasa di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya sejauh seratus tahun”. Bagaimana cara mengompromikan antara kedua hadits ini? Karena pada yang pertama disebutkan tujuh puluh musim gugur dan pada yang kedua seratus tahun? Berilah kami manfaat dari apa yang telah Allah ajarkan kepada kalian, jazakumullahu khairan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فحديث: من صام يوما في سبيل الله باعد الله به وجهه عن النار سبعين خريفا. ثابت في الصحيح من حديث أبي سعيد ـ رضي الله عنه.

Hadits: “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim gugur,” telah tsabit dalam Kitab Shahih dari hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu.

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بِهِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim gugur.”

وقد حمل بعض العلماء قوله: سبعين خريفا ـ على إرادة التكثير جمعا بينه وبين رواية مائة عام المشار إليها، وحمله بعضهم على اختلاف أحوال الصائمين في كمال الصوم، وقيل غير ذلك، قال الحافظ في الفتح: قال الْقُرْطُبِيُّ وَرَدَ ذِكْرُ السَّبْعِينَ لِإِرَادَةِ التَّكْثِيرِ كَثِيرًا انْتَهَى، وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ النَّسَائِيَّ أَخْرَجَ الْحَدِيثَ الْمَذْكُورَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَالطَّبَرَانِيّ عَن عَمْرو بن عَنْبَسَة وَأَبُو يَعْلَى عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ فَقَالُوا جَمِيعًا فِي رواياتهم مائَة عَام. انتهى.

Sebagian ulama memaknai sabda beliau: “Tujuh puluh musim gugur” sebagai bentuk ungkapan untuk menunjukkan banyaknya pahala (taktsir), guna mengompromikan antara hadits tersebut dengan riwayat “seratus tahun” yang diisyaratkan. Sebagian lainnya memaknainya berdasarkan perbedaan kondisi orang-orang yang berpuasa dalam hal kesempurnaan puasanya, dan ada pula pendapat lainnya. Al-Hafizh (Ibnu Hajar) berkata dalam al-Fath: Al-Qurthubi berkata: “Penyebutan angka tujuh puluh seringkali dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah yang banyak.” Selesai. Hal ini diperkuat oleh riwayat An-Nasa’i yang mengeluarkan hadits tersebut dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, Ath-Thabrani dari ‘Amru bin ‘Anbasah, dan Abu Ya’la dari Mu’adz bin Anas, yang mana mereka semua menyebutkan dalam riwayat-riwayat mereka: “Seratus tahun.” Selesai.

وقال العيني بعد ذكر الروايات المختلفة في مقدار مباعدة الصائم عن النار: فَإِن قلت: مَا التَّوْفِيق بَيْن هَذِه الرِّوَايَات؟ قلت: الأَصْل أَن يرجح مَا طَرِيقَته صَحِيحَة، وأصحها رِوَايَة: سبعين خَرِيفًا، فَإِنَّهَا مُتَّفق عَلَيْهَا من حَدِيث أبي سعيد، وَجَوَاب آخر: أَن الله أعلم نبيه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أَولا بِأَقَلّ المسافاة فِي الأبعاد، ثمَّ أعلمهُ بعد ذَلِك بِالزِّيَادَةِ على التدريج فِي مَرَاتِب الزِّيَادَة وَيحْتَمل أَن يكون ذَلِك بِحَسب اخْتِلَاف أَحْوَال الصائمين فِي كَمَال الصَّوْم ونقصانه. انتهى.

Al-‘Ayni berkata setelah menyebutkan berbagai riwayat yang berbeda mengenai kadar penjauhan orang yang berpuasa dari neraka: “Jika engkau bertanya: Apa kompromi di antara riwayat-riwayat ini? Aku katakan: Prinsip dasarnya adalah mengunggulkan riwayat yang jalurnya shahih, dan yang paling shahih adalah riwayat ‘tujuh puluh musim gugur’, karena ia disepakati keshahihannya (muttafaqun ‘alaih) dari hadits Abu Sa’id. Jawaban lainnya adalah: Sesungguhnya Allah mula-mula memberitahu Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jarak penjauhan yang paling minimal, kemudian setelah itu Dia memberitahunya tentang adanya tambahan secara bertahap pada tingkatan tambahan tersebut. Dan ada kemungkinan hal itu sesuai dengan perbedaan kondisi orang-orang yang berpuasa dalam hal kesempurnaan maupun kekurangan puasanya.” Selesai.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.