الطرق التي تسلكها الزوجة تجاه زوجها الذي لا يصوم رمضان
Langkah-langkah Istri terhadap Suami yang Tidak Berpuasa Ramadhan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Langkah-langkah yang Ditempuh Istri terhadap Suami yang Tidak Berpuasa Ramadhan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
عندي سؤال هو: وجدت زوجي يأكل في رمضان، ونصحته مرارا. فبماذا تنصحوني أن أفعل مع هذا الرجل. فهل يصح لي البقاء معه؛ لأنه لا يصوم رمضان وعندي منه أولاد، وهو طبعا مسلم كما يزعم؟
Saya memiliki pertanyaan: Saya dapati suami saya makan di bulan Ramadhan, dan saya sudah menasehatinya berulang kali. Apa nasehat Anda tentang apa yang harus saya lakukan terhadap laki-laki ini? Apakah boleh bagi saya untuk tetap tinggal bersamanya, karena ia tidak berpuasa Ramadhan padahal saya memiliki anak-anak darinya, dan ia tentu saja seorang Muslim sebagaimana yang ia klaim?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فلعلك تعنين أنه يأكل في نهار رمضان، فإذا كان الأمر كذلك فنقول: إن كان له عذر يرخص له بسببه شرعا في الإفطار كالمرض، فلا حرج عليه في الفطر في هذه الحالة. وأما إن لم يكن له عذر، فهو على خطر عظيم، ومرتكب لإثم مبين، فينبغي الاستمرار في نصحه برفق ولين، واستعيني عليه بالله تعالى: أولا بدعائه والتضرع إليه بتوفيقه إلى التوبة والصلاح، ثم استعيني عليه ببعض أهل الخير والصلاح عسى أن يجدي نصحهم له.
Mungkin yang Anda maksud adalah ia makan di siang hari Ramadhan. Jika demikian keadaannya, maka kami katakan: Jika ia memiliki udzur yang membolehkannya secara syariat untuk berbuka seperti sakit, maka tidak ada dosa baginya untuk berbuka dalam kondisi tersebut. Adapun jika ia tidak memiliki udzur, maka ia berada dalam bahaya yang besar dan melakukan dosa yang nyata. Maka hendaknya Anda terus menasehatinya dengan lembut dan santun. Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala untuknya: pertama dengan mendoakannya dan merendahkan diri kepada-Nya agar ia diberi taufiq untuk bertaubat dan menjadi baik. Kemudian mintalah bantuan kepada sebagian orang-orang baik dan shalih, semoga nasehat mereka bermanfaat baginya.
فإن تاب إلى الله ورجع إلى رشده، فذاك المطلوب والحمد لله، وإن أصر على ما هو عليه، فلك الحق في طلب الطلاق لفسقه. وما دمت قد رزقت منه الأولاد فاصبري عليه، واستمري في نصحه، ولا تطلبي منه الطلاق إلا إذا ترجحت مصلحته.
Jika ia bertaubat kepada Allah dan kembali kepada kesadarannya, maka itulah yang diharapkan, walhamdulillah. Namun jika ia bersikeras pada kondisinya tersebut, maka Anda memiliki hak untuk menuntut cerai karena kefasikannya. Selama Anda telah dikaruniai anak-anak darinya, maka bersabarlah terhadapnya dan teruslah menasehatinya, serta janganlah menuntut cerai darinya kecuali jika maslahatnya lebih kuat (untuk melakukan hal tersebut).
وراجعي لمزيد الفائدة الفتوى الأخرى هنا.
Dan lihatlah untuk manfaat lebih lanjut pada Fatwa yang lain disini :
- Kaffarah Berbuka Puasa dengan Sengaja di Siang Hari Ramadhan
- Kondisi-kondisi yang Disyariatkan bagi Wanita untuk Menuntut Cerai
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply