Kaffarah Berbuka Puasa dengan Sengaja di Siang Hari Ramadhan



كفارة الفطر عمداً في نهار رمضان

Kaffarah Berbuka Puasa dengan Sengaja di Siang Hari Ramadhan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kaffarah Berbuka Puasa dengan Sengaja di Siang Hari Ramadhan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. أما بعد جزاكم الله خيراً.. شخص أكل خمسة وعشرين يوما من رمضان يومها كان في فرنسا وكان لا يصلي، ما هو الحكم ؟ والسلام عليكم.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du, jazakumullahu khairan. Seseorang makan (tidak berpuasa) selama dua puluh lima hari di bulan Ramadhan, pada saat itu ia berada di Perancis dan ia tidak melaksanakan shalat. Bagaimanakah hukumnya? Wassalamu’alaikum.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن من أفطر في نهار رمضان متعمداً من غير رخصة من مرض أو سفر أو حيض فقد ارتكب إثماً عظيماً، وأتى كبيرة من كبائر الذنوب بانتهاكه حرمة ركن من أركان الإسلام، وقد روى الإمام أحمد وابن ماجه عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Sesungguhnya barangsiapa yang berbuka di siang hari Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya rukhshah (keringanan) baik karena sakit, safar, maupun haidh, maka ia telah melakukan dosa yang besar, dan telah mendatangi salah satu dosa besar (kaba-irudz dzunub) karena telah melanggar kehormatan salah satu rukun Islam. Imam Ahmad dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَمْ يَجْزِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhshah, maka puasa setahun penuh tidak akan mencukupinya (sebagai pengganti).”

قال العلماء: لا يكون مثلا له من كل وجه، وذلك لبقاء إثم التعمد ولفضل العبادة في رمضان… وعلى هذا الشخص أن يبادر بالتوبة النصوح إلى الله تعالى، ويقضي ما أفطر، ويكثر من أعمال الخير والنوافل لعل الله تعالى أن يبدل سيئاته حسنات.

Para ulama berkata: “Puasa tersebut tidak akan menjadi sebanding dengannya dari segala sisi, hal itu dikarenakan masih adanya dosa kesengajaan serta dikarenakan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan…” Maka atas orang tersebut hendaknya ia bersegera melakukan taubatan nashuha kepada Allah Ta’ala, meng-qadha puasa yang ia tinggalkan, serta memperbanyak amal kebaikan dan shalat-shalat nawafil, semoga Allah Ta’ala mengganti keburukan-keburukannya menjadi kebaikan.

وذهب المالكية على أن عليه القضاء والكفارة المغلظة، فألحقوا الأكل والشرب عمداً في نهار رمضان بالجماع، وذهب غيرهم إلى وجوب القضاء فقط وهو الراجح إن شاء الله.

Madzhab Malikiyah berpendapat bahwa ia wajib menunaikan qadha dan kaffarah mughallazhah (denda yang berat), mereka menyamakan antara makan dan minum dengan sengaja di siang hari Ramadhan dengan jima’ (hubungan suami istri). Sedangkan ulama lainnya berpendapat tentang wajibnya qadha saja, dan inilah pendapat yang rajih (kuat) insya Allah.

واتفق الجميع على أنه إذا أصبح صائماً ثم حصل جماع في نهار رمضان عمداً من غير عذر أن عليه الكفارة الكبرى وهي عتق رقبة، أو صيام شهرين متتابعين، أو إطعام ستين مسكيناً عن كل يوم.

Seluruh ulama sepakat bahwa jika seseorang di pagi hari dalam keadaan berpuasa lalu terjadi jima’ di siang hari Ramadhan secara sengaja tanpa adanya udzur, maka ia wajib menunaikan kaffarah kubra, yaitu memerdekakan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin untuk setiap harinya.

وهذه الكفارة على التخيير عند المالكية، وأفضلها الإطعام عندهم، وهي عند الجمهور على الترتيب فيعتق أولاً رقبة، فإذا لم يجدها يصوم شهرين متتابعين، فإذا لم يستطيع يطعم ستين مسكيناً. ومذهب الجمهور هو الراجح.

Kaffarah ini bersifat pilihan (takhyir) menurut Malikiyah, dan yang paling utama menurut mereka adalah memberi makan. Sedangkan menurut Jumhur (mayoritas ulama), kaffarah ini bersifat urutan (tartib); maka ia memerdekakan budak terlebih dahulu, jika tidak mendapatinya maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu maka ia memberi makan enam puluh orang miskin. Dan madzhab Jumhur adalah yang rajih.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.