Kondisi-kondisi yang Membolehkan Istri Menuntut Cerai



الحالات التي تسوغ للزوجة طلب الطلاق

Kondisi-kondisi yang Membolehkan Istri Menuntut Cerai

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kondisi-kondisi yang Membolehkan Istri Menuntut Cerai ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

فتاة متزوجة تريد أن تطلب الطلاق، لأن زوجها رجل غير صالح، وهو لا يريدأن يطلقها، فما الحكم في ذلك؟

Seorang pemudi yang sudah menikah ingin menuntut cerai karena suaminya adalah laki-laki yang tidak shalih, sedangkan sang suami tidak mau menceraikannya. Bagaimanakah hukum dalam hal tersebut?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن المرجو دوام العشرة بين الزوجين لقوة الرابطة بينهما، والميثاق الغليظ الذي أخذه كل من الزوجين على صاحبه بعقد النكاح، الذي جعل بينهما مكاشفة واتصالاً جسدياً كان قبل العقد كبيرة من الكبائر، وصار بينهما مودة ورحمة وسكنا، لا يحصل بين أي فردين متقاربين كالأخ مع أخيه، قال تعالى:

Sesungguhnya yang diharapkan adalah keberlangsungan hubungan antara suami istri karena kuatnya ikatan di antara keduanya, serta miitsaaqan ghalizhan (perjanjian yang kokoh) yang diambil oleh masing-masing pasangan atas pasangannya melalui akad nikah. Akad tersebut menjadikan keterbukaan dan hubungan fisik di antara keduanya —yang mana sebelum akad merupakan dosa besar— menjadi sebuah mawaddah, rahmah, dan ketenangan (sakinah) yang tidak didapatkan di antara dua orang manapun meskipun sangat dekat seperti saudara laki-laki dengan saudara laki-lakinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً [الروم: ٢١]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” [Ar-Ruum: 21]

وقال سبحانه:

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا [النساء: ٢١]

“Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” [An-Nisaa: 21]

والزوجة لا ينبغي لها أن تطلب الطلاق من زوجها في غير حاجة ماسة، أو ضرورة. لأن الإسلام جاء ليبني لا ليهدم، وليجمع – على الخير- لا ليفرق، وجاء الإسلام ليسعد النفوس، لا لشقائها، لهذا جاء الوعيد الشديد لمن طلبت من زوجها الطلاق بدون سبب وجيه، فقد روى أصحاب السنن من حديث ثوبان رضي الله عنه أنه قال: قال صلى الله عليه وسلم:

Seorang istri tidak sepantasnya menuntut cerai dari suaminya tanpa adanya kebutuhan yang mendesak atau darurat. Karena Islam datang untuk membangun bukan untuk meruntuhkan, untuk menyatukan —dalam kebaikan— bukan untuk memisahkan, dan Islam datang untuk membahagiakan jiwa, bukan untuk menyengsarakannya. Oleh karena itu, datang ancaman yang keras bagi siapa saja yang menuntut cerai dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan. Ash-habus Sunan telah meriwayatkan dari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan (baks), maka haram baginya bau surga.”

ولكن إذا صارت العشرة بين الزوجين هماً وشقاوة لأسباب معتبرة، منها: فسوق أحد الزوجين أو فجوره، أو عدم أدائه العبادات المفروضة كالصلاة والصيام، وقد صبر عليه شريكه، ونصحه، وجاء له بمن ينصحه فلم يرعو، وأخذته العزة بالإثم، فللزوجة -إن كان زوجها كذلك- أن تسأله الطلاق، فإن أبى فلها أن ترفع أمرها للقضاء ليرفع عنها الضرر.

Akan tetapi, jika pergaulan antara suami istri telah menjadi kegelisahan dan kesengsaraan karena sebab-sebab yang diakui (mu’tabarah), di antaranya: kefasikan salah satu pasangan atau kemaksiatannya, atau tidak menunaikan ibadah-ibadah wajib seperti shalat dan puasa, padahal pasangannya telah bersabar terhadapnya, menasehatinya, dan mendatangkan orang lain untuk menasehatinya namun ia tidak menghiraukannya bahkan malah merasa bangga dengan dosanya; maka bagi istri —jika suaminya demikian— boleh baginya meminta cerai. Jika suami menolak, maka ia boleh mengajukan perkaranya ke pengadilan agar dharar (bahaya/kerugian) tersebut dihilangkan darinya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.