Metode Syariat dalam Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri



الطريقة الشرعية لحل الخلاف بين الزوجين

Metode Syariat dalam Menyelesaikan Perselisihan Antara Suami Istri

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Metode Syariat dalam Menyelesaikan Perselisihan Antara Suami Istri ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته …. وبعد :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

أنا شاب عمري 27 سنة ومتزوج منذ عام تقريبا وزوجتى عمرها 23 سنة ورزقنا الله بطفلة رغم محاولة امتناعي عن الإنجاب ولكنها إرادة الله والحمد لله على ذلك. للأسف الشديد زوجتي لا تعتني بي ولا تهتم بشئوني الخاصة أو العامة ويكاد يكون الحديث بيننا منقطعا رغم أننا متزوجان حديثا 

Saya seorang pemuda berusia 27 tahun dan telah menikah selama kurang lebih satu tahun. Istri saya berusia 23 tahun dan Allah telah mengaruniakan kami seorang bayi perempuan, meskipun saya sempat mencoba menunda momongan, namun itu adalah kehendak Allah dan alhamdulillah atas hal tersebut. Sayangnya, istri saya tidak merawat saya dan tidak mempedulikan urusan pribadi maupun umum saya. Komunikasi di antara kami hampir terputus padahal kami baru saja menikah.

وزوجتي ترى أن الزواج والاهتمام بي يكون فى شئون المنزل فقط مثل الطعام والشراب فقط. بالرغم أننا فى حال ميسور ووضعنا الاجتماعى فوق المتوسط وليس هناك أي مشاكل غير الخلاف بيننا فى كل أمور الحياة فكريا وعمليا وعدم إحساسها بالمسئولية الاجتماعية التى يفرضها عليها الزواج والإنجاب والأمومة. 

Istri saya beranggapan bahwa pernikahan dan perhatian kepada saya hanyalah sebatas urusan rumah tangga seperti makanan dan minuman saja. Padahal kami berada dalam kondisi ekonomi yang mapan dan status sosial di atas rata-rata. Tidak ada masalah lain kecuali perselisihan di antara kami dalam segala urusan kehidupan, baik secara pemikiran maupun praktis, serta kurangnya rasa tanggung jawab sosial yang seharusnya ia emban akibat pernikahan, kelahiran anak, dan peran sebagai ibu.

السؤال: ما هي الأسباب التى إذا توفرت أو وجدت وجب الطلاق؟ وما هي الأسباب التى ذكرها الإسلام فى حق طلب الزوج للطلاق؟ والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته .

Pertanyaan saya: Apa sajakah sebab-sebab yang jika terpenuhi atau ditemukan maka wajib dilakukan thalaq? Dan apa saja sebab-sebab yang disebutkan dalam Islam terkait hak suami untuk menuntut thalaq? Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الحياة الزوجية تستقيم إذا علم كل من الزوجين حق صاحبه وأداه إليه راضياً، فللزوج حقوق على زوجته، وللزوجة حقوق على زوجها، قال تعالى:

Sesungguhnya kehidupan rumah tangga akan berjalan lurus jika masing-masing pasangan mengetahui hak pasangannya dan menunaikannya dengan ridha. Suami memiliki hak atas istrinya, dan istri pun memiliki hak atas suaminya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ [البقرة: ٢٢٨]

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” [Al-Baqarah: 228]

وعلى الزوج أن يعاشرها بالمعروف وهي كذلك، قال تعالى:

Wajib bagi suami untuk menggaulinya dengan cara yang baik (ma’ruf), demikian pula sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا [النساء: ١٩]

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [An-Nisaa: 19]

ويجب على المرأة أن تطيع زوجها ـ في غير معصية ـ فإن هي فعلت ذلك فإن جزاءها الجنة. قال صلى الله عليه وسلم:

Dan wajib bagi wanita untuk menaati suaminya —selama bukan dalam kemaksiatan—. Jika ia melakukannya, maka balasannya adalah surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki.'” (HR. Ahmad)

وسبب الشقاق بين كثير من الأزواج أن أحدهما يطلب حقه، ولا يعطى للآخر حقه أو يقصر فيه، أو لا يتغاضى عن الهفوات والزلات التي تحدث من غير قصد، ولا ينظر إلى المحاسن، ولكن ينظر إلى العيوب ويتعاظم لديه شأنها، قال صلى الله عليه وسلم:

Sebab perselisihan (syiqaq) di antara banyak pasangan adalah salah satunya menuntut haknya namun tidak memberikan hak pasangannya atau melalaikannya, atau tidak mau memaafkan kekhilafan dan kesalahan kecil yang terjadi tanpa sengaja. Ia tidak melihat pada kebaikan-kebaikan, melainkan hanya melihat pada kekurangan-kekurangan dan membesar-besarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang mukmin perempuan. Jika ia tidak menyukai salah satu perangainya, ia (pasti) ridha dengan perangainya yang lain.”

Makna “La yafrak” adalah jangan membenci.

غير أنه قد يستحكم الشقاق ويدوم الخلاف لنشوز الزوجة، وعدم اكتراثها بطاعة بعلها وليس كل خلاف ينبعث عنه الطلاق، وإنما الذي يعينه هو دوام الشقاق الذي تستحيل معه العشرة الزوجية، مع عدم رأب الصدع وصلاح الحال. وفي حالة الشقاق نفسه لا ينبغي فصم عرى الزوجية مباشرة، وإنما يسلك الزوج ما أمره الله به، قال تعالى:

Meski demikian, perselisihan bisa menjadi kronis dan konflik terus berlanjut karena nusyuz (kedurhakaan) istri serta sikap tidak peduli terhadap ketaatan kepada suaminya. Namun tidak setiap perselisihan berujung pada thalaq. Yang menentukan (thalaq) adalah perselisihan yang terus-menerus sehingga hubungan suami istri menjadi mustahil dijalankan, sementara keretakan tidak dapat diperbaiki dan kondisi tidak kunjung membaik. Dalam kondisi syiqaq itu sendiri, tidak sepantasnya memutus ikatan pernikahan secara langsung, melainkan suami harus menempuh langkah-langkah yang telah Allah perintahkan. Allah Ta’ala berfirman:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا * وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا [النساء: ٣٤-٣٥]

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada perselisihan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [An-Nisaa: 34-35]

فإن نفدت وسائل الإصلاح والجمع واستحكم الشقاق، وتحقق لدى الحكمين أن التفريق أجدى فالفرقة في هذه الحالة أفضل.

Jika sarana-sarana perbaikan dan usaha penyatuan telah habis namun perselisihan tetap kuat, serta kedua hakam (mediator) berkeyakinan bahwa perpisahan lebih membawa manfaat, maka perpisahan dalam kondisi ini adalah yang lebih baik.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.