Mengikuti Bilangan Dzikir yang Disebutkan dalam Hadits



الالتزام بأعداد الأذكار المذكورة في الاحاديث

Mengikuti Bilangan Dzikir yang Disebutkan dalam Hadits

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Mengikuti Bilangan Dzikir yang Disebutkan dalam Hadits ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم الالتزام بالعدد عند الذكر كقول سبحان الله ٣٣ مرة أو من قال لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين ( ما دعا به مهموم ولا مكروب ثلاث مرات إلا استجيب له ) وهناك أحادث كثيرة ذكر فيها العدد . ثلاثة أو سبعة أو أربعة ؟ وجزاكم الله خيرا.

Apa hukum mematuhi jumlah tertentu saat berdzikir, seperti ucapan Subhanallah 33 kali, atau orang yang mengucapkan: “Laa ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” (tidaklah orang yang sedang gundah atau kesulitan membacanya tiga kali melainkan akan dikabulkan baginya)? Dan ada banyak hadits yang menyebutkan jumlah tertentu; tiga, tujuh, atau empat? Jazakumullahu khaira.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الله سبحانه وتعالى قد أمر عباده المؤمنين أن يذكروه كثيرا ويسبحوه بكرة وأصيلا، ولا حرج على المسلم أن يسبح الله تعالى ويهلله ثلاثا أو أربعا أو سبعا أو نحو ذلك.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berdzikir kepada-Nya dengan dzikir yang banyak dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Tidak ada keberatan bagi seorang Muslim untuk bertasbih kepada Allah Ta’ala dan bertahlil sebanyak tiga, empat, tujuh kali, atau semacamnya.

إلا أنه لا ينبغي اتخاذ عدد معين من الذكر لم يرد في تعيين عدده شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم، وقد ورد التسبيح ثلاثا وثلاثين مرة مع أذكار أخرى عند النوم وبعد الصلاة كما سبق بيانه في الفتوى الأخرى هنا.

Hanya saja, tidak seyogyanya menetapkan jumlah tertentu untuk suatu dzikir yang tidak ada ketetapan jumlahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah warid (datang) tuntunan tasbih sebanyak 33 kali bersama dzikir-dzikir lainnya saat akan tidur dan setelah shalat, sebagaimana telah dijelaskan dalam Fatwa lain di sini.

وقد سبق أن بينا أيضا حكم الزيادة على العدد الوارد في بعض الأذكار في الفتوى الأخرى هنا، فارجع إليها. أما دعاء ذي النون فقد روى الترمذي بسنده أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Kami juga telah menjelaskan hukum menambah jumlah yang telah ditentukan dalam sebagian dzikir pada Fatwa lain di sini, maka silakan merujuk kepadanya. Adapun doa Dzun-Nun, Imam at-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun-Nun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Sesungguhnya tidaklah seorang Muslim berdoa dengannya dalam suatu urusan apa pun melainkan Allah akan mengabulkannya.”

وهو حديث صحيح ورواه النسائي أيضا، وليس فيه التقييد بعدد معين، وخلاصة القول أنه ينبغي التقيد بالأذكار الواردة عن النبي صلى الله عليه وسلم بعدد معين في أوقاتها مثل الذكر الوارد بعد الصلاة ونحوه.

Ini adalah hadits shahih yang juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i, dan di dalamnya tidak terdapat pembatasan dengan jumlah tertentu. Kesimpulannya adalah hendaknya seseorang membatasi diri pada dzikir-dzikir yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah tertentu pada waktu-waktunya, seperti dzikir setelah shalat dan sejenisnya.

وما عدا ذلك فلا حرج على المسلم في أي عدد من الذكر ما لم يتخذ عددا بعينه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم فيه شيء كما سبق بيانه في الفتوى الأخرى هنا.

Adapun selain itu, maka tidak ada keberatan bagi seorang Muslim untuk berdzikir dengan jumlah berapa pun, selama ia tidak menetapkan suatu jumlah tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah dijelaskan dalam Fatwa lain di sini.

وننبه السائل إلى أنه إن كان يقصد السؤال عن غير ما فهمناه من سؤاله فبإمكانه أن يعيد السؤال مرة أخرى بصورة أوضح حتى يتسنى لنا أن نجيبه كما يريد. 

Kami mengingatkan penanya bahwa jika yang ia maksudkan adalah hal lain di luar apa yang kami pahami, maka ia dapat mengulang pertanyaannya dengan bentuk yang lebih jelas agar kami dapat menjawab sesuai keinginannya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.