التقيد في الأذكار بعدد معين بدعة إلا ما حدده الشرع
Membatasi Dzikir dengan Bilangan Tertentu Adalah Bid’ah Kecuali yang Telah Ditetapkan Syariat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Membatasi Dzikir dengan Bilangan Tertentu Adalah Bid’ah Kecuali yang Telah Ditetapkan Syariat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم التسبيح ببعض أسماء الله الحسنى بأرقام معينة؟ وكذلك ذكر اسم الله الأعظم في أرقام معينة ؟ هل في ذالك شيء أفتونا يرحمكم الله ؟
Apa hukum bertasbih dengan sebagian Asmaul Husna menggunakan jumlah bilangan tertentu? Demikian pula menyebut Ismullah al-A’zam (Nama Allah yang Paling Agung) dalam bilangan tertentu? Apakah hal tersebut diperbolehkan? Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Allah merahmati Anda.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فما شرعه الله تعالى من الذكر والتسبيح والاستغفار نوعان: الأول: ما علق الفضل فيه على عدد معين، فينبغي تحصيل هذا العدد والتزامه، وذلك كالتسبيح والتحميد والتكبير والتهليل بعد الصلوات الخمس، وكبعض أذكار الصباح والمساء المقيدة بعدد معين.
Apa yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala berupa dzikir, tasbih, dan istighfar terbagi menjadi dua jenis: Pertama, dzikir yang keutamaannya dikaitkan dengan jumlah bilangan tertentu; maka hendaknya memenuhi jumlah tersebut dan konsisten dengannya. Hal ini seperti tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil setelah shalat lima waktu, serta sebagian dzikir pagi dan petang yang dibatasi dengan bilangan tertentu.
والثاني: ما جاء مطلقاً، كالتسبيح والاستغفار ونحوه سائر اليوم، فلا يشرع فيه التزام عدد معين، لما في ذلك من مضاهاة التشريع.
Kedua, dzikir yang datang secara mutlak (umum), seperti tasbih, istighfar, dan sejenisnya di sepanjang hari; maka tidak disyariatkan padanya untuk menetapkan jumlah bilangan tertentu, karena hal tersebut menyerupai pembuatan syariat baru (mudhahat at-tasyri’).
وليعلم أنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه ذكر الله بالألفاظ المفردة نحو: الله الله. حي حي. عليم عليم.. إلخ. كما يفعله بعض مبتدعة الصوفية.
Dan perlu diketahui bahwa tidak pernah datang tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun dari para sahabat beliau mengenai berdzikir kepada Allah dengan lafadz-lafadz tunggal (al-alfazh al-mufradah) seperti: “Allah, Allah”, “Hayyu, Hayyu”, “Alim, Alim”, dan seterusnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian ahli bid’ah dari kalangan Sufi.
وأشد من ذلك قول بعضهم في ذكر الله: هو هو، أو: لا لا، أو: آه آه، أو: هاها، أو:هـ هـ، أو: أ أ، أو: آه آه. فهذا يعلم قطعاً أنه ليس من دين الإسلام، وأنه تحريف لأسماء الله تعالى.
Bahkan lebih parah dari itu adalah ucapan sebagian mereka dalam berdzikir: “Hu, Hu”, atau “La, La”, atau “Ah, Ah”, atau “Ha, Ha”, dan seterusnya. Hal ini diketahui secara pasti bukan merupakan bagian dari agama Islam, dan merupakan bentuk penyimpangan (tahrif) terhadap Nama-nama Allah Ta’ala.
والمقطوع به أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يترك مجالاً من مجالات الذكر، ولا موقعاً من المواقع التي يؤمر فيها بذكر معين، إلا وَبيَّن صيغة الذكر المطلوب في ذلك الظرف.
Dan yang dapat dipastikan adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan satu pun ruang dalam dzikir, tidak pula satu pun kondisi yang diperintahkan padanya dzikir tertentu, melainkan beliau telah menjelaskan redaksi dzikir yang diminta pada kondisi tersebut.
وبهذا يعلم خطأ من يعين أذكاراً تقال بعد العصر، وأخرى بعد الفجر مثلاً، مما لم يعينه رسول الله صلى الله عليه وسلم كقول بعضهم: يقال بعد الفجر (الله) ألف مرة أو غير ذلك من العدد، وبعد العصر: حي أو قيوم كذا من المرات.
Dengan ini diketahuilah kesalahan orang yang menetapkan dzikir-dzikir tertentu untuk diucapkan setelah Ashar, dan dzikir lainnya setelah Fajar misalnya, dari hal-hal yang tidak ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ucapan sebagian orang: “Diucapkan setelah Fajar lafadz ‘Allah’ seratus kali atau jumlah lainnya”, dan “Setelah Ashar lafadz ‘Hayyu’ atau ‘Qayyum’ sekian kali.”
فهذا فيه محاذير: الأول: كونه باللفظ المفرد. والثاني: التزامه في وقت معين. والثالث: التقييد بهذه الأعداد المحدثة. وعن الذكر بالاسم المفرد يقول شيخ الإسلام ابن تيمية:
Hal ini mengandung beberapa larangan: Pertama, karena menggunakan lafadz tunggal. Kedua, karena menetapkannya pada waktu tertentu. Ketiga, karena membatasi dengan jumlah bilangan yang diada-adakan. Mengenai dzikir dengan nama tunggal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
فَأَمَّا الِاسْمُ الْمُفْرَدُ مُظْهَرًا مِثْلَ: اللَّهُ اللَّهُ. أَوْ مُضْمَرًا مِثْلَ: هُوَ هُوَ، فَهَذَا لَيْسَ بِمَشْرُوعِ فِي كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ، وَلَا هُوَ مَأْثُورٌ أَيْضًا عَنْ أَحَدٍ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ، وَلَا عَنْ أَعْيَانِ الْأُمَّةِ الْمُقْتَدَى بِهِمْ، وَإِنَّمَا نَهَجَ بِهِ قَوْمٌ مِنْ ضُلَّالِ الْمُتَأَخِّرِينَ
“Adapun nama tunggal baik secara eksplisit seperti ‘Allah, Allah’ atau secara implisit seperti ‘Hu, Hu’, maka ini tidak disyariatkan dalam Al-Kitab maupun Sunnah, tidak pula ada riwayatnya dari seorang pun kaum Salaf umat ini, tidak juga dari tokoh-tokoh umat yang diikuti. Melainkan hal ini hanyalah jalan yang ditempuh oleh kaum dari kalangan orang-orang belakangan yang sesat.”
وأما اسم الله الأعظم فقد اختلف العلماء فيه، فمنهم من قال إنه: الله. ومنهم من قال: إنه الرب لكون أدعية الأنبياء في القرآن مفتتحة به، ومنهم من قال إنه: الحي القيوم. ومما جاء في السنة الصحيحة في هذا الباب: ما رواه الترمذي وأبو داود عن بريدة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سمع رجلاً يقول:
Adapun Ismullah al-A’zam (Nama Allah yang Paling Agung), para ulama berselisih pendapat mengenainya. Sebagian berkata itu adalah “Allah”. Sebagian berkata itu adalah “Ar-Rabb” karena doa-doa para nabi dalam Al-Qur’an dibuka dengannya. Sebagian berkata itu adalah “Al-Hayyu Al-Qayyum”. Di antara yang warid dalam Sunnah yang shahih mengenai bab ini adalah riwayat at-Tirmidzi dan Abu Dawud dari Buraydah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung, yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
فقال: ” والذي نفسي بيده، لقد سأل الله باسمه الأعظم، الذي إذا دُعي به أجاب، وإذا سئل به أعطى”. وإسناده صحيح. وما رواه الترمذي وأبو داود والنسائي عن أنس قال: دخل النبي صلى الله عليه وسلم المسجد ورجل قد صلى، وهو يدعو، ويقول في دعائه:
Maka beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung, yang apabila seseorang berdoa dengannya maka akan dikabulkan, dan apabila meminta dengannya maka akan diberi.” Sanadnya shahih. Dan riwayat at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan an-Nasa’i dari Anas ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke masjid dan ada seorang laki-laki yang telah shalat sedang berdoa, ia mengucapkan dalam doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [يَاحَيُّ يَا قَيُّومُ]
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi, Pemilik keagungan dan kemuliaan [Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri].”
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” أتدرون بم دعا؟ دعا الله باسمه الأعظم الذي إذا دعي به أجاب، وإذا سئل به أعطى”. وما رواه الترمذي وأبو داود عن أسماء بنت يزيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اسم الله الأعظم في هاتين الآيتين:
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian dengan apa ia berdoa? Ia telah berdoa kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung yang apabila didoakan dengannya maka akan dikabulkan, dan apabila diminta dengannya maka akan diberi.” Dan riwayat at-Tirmidzi serta Abu Dawud dari Asma bint Yazid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nama Allah yang paling agung ada pada dua ayat ini:”
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ [البقرة: ١٦٣]
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]
وفاتحة سورة آل عمران:
Dan permulaan surah Ali Imran:
الم اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ [آل عمران: ١-٢]
“Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” [Ali Imran: 1-2]
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply