القول الصحيح في إخراج الزكاة من مال الصبي
Pendapat yang Benar Mengenai Mengeluarkan Zakat dari Harta Anak Kecil
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pendapat yang Benar Mengenai Mengeluarkan Zakat dari Harta Anak Kecil ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat
السؤال:
Pertanyaan:
يوجد لدي أموال زكاة لطفل يتيم قاصر عند عمته هذا المال لا يزيد باستمرار و إذا كان هنالك زيادة فهي قليلة فالمال الموجود بلغ النصاب و لايستثمر فهل عليه زكاة ؟
Saya mengelola harta milik seorang anak yatim yang masih di bawah umur yang tinggal bersama bibinya. Harta ini tidak bertambah secara terus-menerus, dan jika ada pertambahan pun hanya sedikit. Harta tersebut telah mencapai nishab namun tidak diinvestasikan (dikembangkan). Apakah harta tersebut wajib dizakati?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن الصحيح من أقوال العلماء هو وجوب إخراج الزكاة من مال الصبي يتيماً كان أو غيره وهو قول عمر بن الخطاب وعلي بن أبي طالب وابن عمر وجابر وعائشة رضي الله عنهم. وإليه ذهب مالك والشافعي وأحمد.
Sesungguhnya pendapat yang benar di antara perkataan para ulama adalah wajibnya mengeluarkan zakat dari harta anak kecil, baik ia seorang yatim maupun bukan. Ini adalah pendapat Umar bin al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Jabir, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Pendapat ini juga dipegang oleh Malik, Syafi’i, dan Ahmad.
ووجه هذا القول، أن الزكاة حق في أموال الأغنياء للفقراء فلا يشرط فيها بلوغ المالك ولا عقله، فوجوب الزكاة حكم مرتب على وجود شرط وهو بلوغ النصاب، فمتى ما وجد هذا الشرط وجبت الزكاة. يدل لصحة هذا القول عموم قوله تعالى:
Alasan dari pendapat ini adalah bahwa zakat merupakan hak fakir miskin yang terdapat pada harta orang-orang kaya, sehingga tidak disyaratkan pemiliknya harus sudah baligh atau berakal. Kewajiban zakat adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan adanya syarat, yaitu mencapai nishab. Maka kapan pun syarat ini terpenuhi, zakat menjadi wajib. Dalil yang menunjukkan benarnya pendapat ini adalah keumuman firman Allah Ta’ala:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً [التوبة: ١٠٣]
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” [At-Tawbah: 103]
وقول النبي صلى الله عليه وسلم حين بعث معاذاً إلى اليمن :
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman:
أَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ
“Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka.” (HR. Bukhari)
فالمدار على المال لا على (المالك) وعلى هذا فمن كان مسؤولاً عن يتيم يملك نصاباً من الأموال الزكوية فإنه يجب عليه إخراج الزكاة عنه. كما يستأنس أيضا لوجوب الزكاة في مال الصبي بحديث عمرو بن شعيب:
Jadi, titik tumpunya adalah pada harta tersebut, bukan pada (status) pemiliknya. Berdasarkan hal ini, barangsiapa yang bertanggung jawab atas anak yatim yang memiliki harta senilai nishab dari harta-harta yang wajib zakat, maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakat atas nama anak tersebut. Hal ini juga didukung untuk wajibnya zakat pada harta anak kecil dengan hadits Amr bin Syu’aib:
مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ بِهِ، وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ
“Barangsiapa yang mengurus anak yatim yang memiliki harta, hendaklah ia memperdagangkannya (mengembangkannya), dan janganlah ia membiarkannya hingga harta tersebut habis dimakan oleh zakat.” (HR. Tirmidzi)
وهو وإن كان فيه مقال إلا أنه يتقوى بالعمومات المتقدمة، ويؤخذ منه أيضا أن على ولي اليتيم تنمية أمواله والمتاجرة فيها لصالحه.
Meskipun hadits ini terdapat pembicaraan (mengenai sanadnya), namun maknanya diperkuat oleh dalil-dalil umum yang telah disebutkan sebelumnya. Dari sini juga dapat diambil pelajaran bahwa wali anak yatim berkewajiban untuk mengembangkan hartanya dan memperdagangkannya demi kemaslahatan anak tersebut.
والله تعالى أعلم.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply