Zakat kepada Saudara Perempuan yang Miskin



الزكاة على الأخت الفقيرة: صدقة وصلة

Zakat kepada Saudara Perempuan yang Miskin: Sedekah dan Silaturahmi

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Zakat kepada Saudara Perempuan yang Miskin: Sedekah dan Silaturahmi ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat

السؤال:

Pertanyaan:

إنني أريد أن تجيبونني على سؤالي هذا: أنا موظفة ولي راتب شهري أخصص جزءاً منه لأختي حيث وضعها المادي سيئ وهي متزوجة ولها أولاد. هل يجوز أن أعتبر جزءاً من هذا المبلغ كزكاة عن أموالي وهل من الضروري أن أعلمها أن هذا المبلغ هو زكاة؟

Saya ingin Anda menjawab pertanyaan saya ini: Saya adalah seorang karyawati dan memiliki gaji bulanan. Saya mengkhususkan sebagian dari gaji tersebut untuk saudara perempuan saya karena kondisi finansialnya buruk, sementara ia sudah menikah dan memiliki anak-anak. Apakah diperbolehkan bagi saya untuk menganggap sebagian dari jumlah uang tersebut sebagai zakat dari harta saya, dan apakah perlu bagi saya untuk memberitahunya bahwa uang tersebut adalah zakat?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن كانت أختك محتاجة ولا يعطيها زوجها من النفقة ما يكفيها لفقره فلا حرج عليك في دفع زكاتك إليها وتجزئك ولا يلزمك إعلامها بأن ما تدفعينه لها زكاة، لأن ذلك ليس بلازم شرعاً.

Jika saudara perempuan Anda memang membutuhkan dan suaminya tidak memberinya nafkah yang mencukupi karena kefakirannya, maka tidak ada dosa bagi Anda untuk memberikan zakat Anda kepadanya. Hal itu sudah mencukupi kewajiban zakat Anda dan Anda tidak wajib memberitahunya bahwa apa yang Anda berikan tersebut adalah zakat, karena hal itu memang tidak diharuskan secara syariat.

وقد اختلف الفقهاء في دفع الزكاة إلى الأقارب ولكن الراجح والذي عليه أكثر أهل العلم هو: جواز دفع الزكاة إلى القريب ما لم يكن والدا أو ولداً تجب نفقته، بدليل ما ورد في الأقارب خاصة من النصوص المرغبة في الصدقة عليهم، مثل قوله صلى الله عليه وسلم:

Para fuqaha telah berselisih pendapat mengenai pemberian zakat kepada kerabat, namun pendapat yang kuat (rajih) dan dipegang oleh mayoritas ahli ilmu adalah: diperbolehkannya memberikan zakat kepada kerabat selama ia bukan orang tua atau anak yang nafkahnya menjadi kewajiban pemberi zakat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang khusus menganjurkan sedekah kepada kerabat, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَهي عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah kepada orang miskin adalah sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat mendapatkan dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (HR. Ahmad, Nasai, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi)

وبدليل عموم النصوص التي جعلت صرف الزكاة للفقراء دون تمييز بين قريب وأجنبي، مثل آية:

Juga berdasarkan keumuman nash-nash yang menetapkan penyaluran zakat untuk fakir miskin tanpa membedakan antara kerabat maupun orang lain, seperti ayat:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ [التوبة: ٦٠]

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin.” [At-Tawbah: 60]

وحديث معاذ وفيه:

Serta hadits Mu’adz yang di dalamnya disebutkan:

تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Zakat diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari)

أما الزوجة والوالدان والأولاد في حال وجوب نفقتهم، فقد خصصوا منها بالإجماع الذي ذكره أهل العلم. والله أعلم.

Adapun istri, kedua orang tua, dan anak-anak dalam kondisi nafkah mereka menjadi kewajiban (pemberi zakat), maka mereka dikecualikan dari penerima zakat berdasarkan konsensus (ijma’) yang disebutkan oleh para ulama. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.