Apakah Orang yang Memiliki Gaji Boleh Menerima Zakat?



هل يعطى من له راتب من الزكاة

Apakah Orang yang Memiliki Gaji Boleh Menerima Zakat?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Apakah Orang yang Memiliki Gaji Boleh Menerima Zakat? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat

السؤال:

Pertanyaan:

هل يجوز لبعض المقيمين أخذ مساعدات دائمة أو مقطوعة من صندوق الزكاة، علماً بأن أوضاعهم في بلدانهم ممتازة ولهم مدخرات، بحجة أن الراتب الذي يتقاضونه في دول المهجر ليس كافياً لهم في الإعاشة وتعليم أبنائهم؟ وهل يجوز أن يدخروا شيئاً من راتبهم للمستقبل، والأخذ من صندوق الزكاة؟ أم يأخذون بقدر كفايتهم فقط؟

Apakah diperbolehkan bagi sebagian ekspatriat (penduduk mukim) untuk mengambil bantuan tetap atau bantuan sekali putus dari dana zakat, padahal kondisi ekonomi mereka di negara asal sangat bagus dan mereka memiliki tabungan, namun dengan alasan bahwa gaji yang mereka terima di negara perantauan tidak mencukupi untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak mereka? Apakah boleh bagi mereka menabung sebagian gaji untuk masa depan sambil tetap mengambil dari dana zakat? Ataukah mereka hanya boleh mengambil sekadar kadar kecukupan mereka saja?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الله عز وجل تولى قسم الزكاة بنفسه، ولم يترك هذا الأمر لأحد من خلقه، فقال سبحانه:

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mengatur pembagian zakat dengan Diri-Nya sendiri, dan tidak menyerahkan perkara ini kepada seorang pun dari makhluk-Nya, maka Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ [التوبة: ٦٠]

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At-Tawbah: 60]

فمن كان من هذه الأصناف الثمانية جاز له أن يأخذ من الزكاة، ومن لم يكن منهم، فليس له حظ فيها. والفقير هو: العادم ومن لا يجد نصف كفايته. والمسكين هو: من له دخل أكثر من نصف كفايته ولكن لا يكفيه الكفاية التامة.

Maka barangsiapa yang termasuk dalam delapan golongan ini, ia boleh mengambil zakat, dan barangsiapa yang bukan dari golongan tersebut, maka ia tidak memiliki bagian darinya. Fakir adalah: orang yang tidak punya apa-apa atau tidak mendapatkan bahkan setengah dari kecukupannya. Sedangkan Miskin adalah: orang yang memiliki pendapatan lebih dari setengah kecukupannya namun tidak mencukupinya secara sempurna.

وابن السبيل هو: المسافر الذي ليس له ما يرجع به إلى بلده، فيعطى ما يرجع به، وقد اختلف أهل العلم فيما لو كان غنياً في بلده هل يجب عليه أن يقترض حتى يصل إلى بلده أم لا؟ على قولين.

Adapun Ibnu Sabil adalah: seorang musafir yang tidak memiliki harta untuk kembali ke negaranya, maka ia diberikan zakat sekadar biaya untuk kembali. Para ulama berselisih pendapat mengenai kondisi jika ia adalah orang kaya di negaranya; apakah ia wajib berhutang hingga sampai ke negaranya atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini.

وعليه، فنقول للأخ السائل إن كان هذا المقيم له من دخله، أو من ماله المدخر ما يكفيه، فلا يجوز له الأخذ من الزكاة، لقوله صلى الله عليه وسلم:

Berdasarkan hal tersebut, kami sampaikan kepada penanya, jika penduduk mukim tersebut memiliki penghasilan atau tabungan yang mencukupinya, maka tidak diperbolehkan baginya mengambil zakat, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ

“Zakat (sedekah wajib) tidaklah halal bagi orang yang kaya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

وإن كان له دخل لا يكفيه فيجوز له أن يأخذ من الزكاة ما يسد به حاجته لسنةٍ أو لعمر غالباً بحيث يعطي ما يشتري به عقاراً يستغله، أو له آلة خياطة أو غيرها إذا كان يحسن استغلالها. والله أعلم.

Namun jika ia memiliki pendapatan yang tidak mencukupinya, maka boleh baginya mengambil zakat untuk menutup kebutuhannya selama satu tahun, atau untuk kecukupan jangka panjang (seumur hidup) seperti dengan diberikan dana untuk membeli aset produktif (properti) yang hasilnya bisa dimanfaatkan, atau mesin jahit atau peralatan lainnya jika ia mampu mengelolanya dengan baik. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.