يحرم على المرأة أن تخرج متكحلة أمام الأجانب
Larangan bagi Wanita Keluar Rumah dengan Mengenakan Celak di Hadapan Laki-laki Asing
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Larangan bagi Wanita Keluar Rumah dengan Mengenakan Celak di Hadapan Laki-laki Asing ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits
السؤال:
Pertanyaan:
هل يجوز للمرأة أن تخرج من بيتها و هي تضع الكحل في عينيها؟
Apakah boleh bagi seorang wanita untuk keluar dari rumahnya sementara ia mengenakan celak pada kedua matanya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فالكحل تستعمله المرأة للزينة والتداوي، فإذا وضعته المرأة في عينيها فهل يجوز لها أن تخرج به إلى الناس ؟ اختلف أهل العلم في ذلك تبعاً لاختلافهم في كونه من الزينة الظاهرة التي يجوز إبداؤها، أو من الزينة الباطنة التي يجب سترها عن الأجانب.
Celak digunakan oleh wanita untuk tujuan perhiasan maupun pengobatan. Lantas, jika seorang wanita mengenakannya pada kedua matanya, bolehkah ia keluar menemui orang-orang dengannya? Para ahli ilmu berbeda pendapat mengenai hal ini, mengikuti perbedaan pendapat mereka tentang apakah celak termasuk perhiasan lahiriah yang boleh ditampakkan, ataukah termasuk perhiasan batiniah yang wajib ditutupi dari pandangan laki-laki asing (bukan mahram).
فذهب بعض أهل العلم إلى أن الكحل من الزينة الظاهرة التي يجوز للمرأة أن تبديها للناس، لما رواه الطبراني عن ابن عباس في قوله تعالى:
Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa celak termasuk perhiasan lahiriah yang boleh ditampakkan oleh wanita kepada orang-orang, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah Ta’ala:
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
قال: هي الكحل والخاتم.
Beliau (Ibnu Abbas) berkata: “Ia adalah celak dan cincin.”
وقال آخرون إن الكحل من الزينة التي يجب سترها، لأنه مما تحسن به المرأة وجهها وتجمله. ولذلك قال ابن عطية:
Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa celak termasuk perhiasan yang wajib ditutupi, karena ia termasuk hal yang dapat mempercantik dan memperindah wajah wanita. Oleh karena itu, Ibnu ‘Athiyyah berkata:
ويظهر لي بأن المرأة مأمورة بأن لا تبدي، وأن تجتهد في الإخفاء لكل ما هو زينة، وواقع الاستثناء فيما يظهر بحكم ضرورة حركة فيما لا بد منه، أو إصلاح شأن ونحوه. فـ(ما ظهر) على هذا الوجه مما تؤدي إليه الضرورة في النساء فهو المعفو عنه.
“Tampak bagiku bahwa wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan (perhiasan), dan hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam menyembunyikan segala sesuatu yang merupakan perhiasan. Pengecualian pada ayat ‘kecuali yang nampak’ itu terjadi karena tuntutan dharurah pergerakan pada hal-hal yang memang tidak bisa dihindari, atau untuk memperbaiki suatu urusan dan semacamnya. Maka, apa yang ‘nampak’ dengan cara ini, yang disebabkan oleh dharurah bagi wanita, itulah yang dimaafkan.”
ولا شك أن وضع الكحل في العينين والخروج به ليس مما تضطر المرأة لإظهاره، لكونها تستطيع إخفاءه. وعليه فخروجها به على هذا النحو مما يزيد في حسنها ويلفت النظر إليها، ولذلك نهيت المرأة الحادة عن وضع الكحل لأنه من الزينة، مع أنها قاعدة في بيتها لا تبرحه، فالمرأة التي تتعرض لنظر الأجانب تمتنع منه من باب أولى.
Tidak diragukan lagi bahwa mengenakan celak pada mata dan kemudian keluar rumah dengannya bukanlah termasuk hal dharurah yang terpaksa ditampakkan oleh wanita, karena ia mampu untuk menyembunyikannya. Oleh karena itu, keluarnya ia dengan cara seperti ini termasuk hal yang menambah kecantikannya dan menarik perhatian kepadanya. Atas dasar itulah, wanita yang sedang dalam masa berkabung (ihdad) dilarang mengenakan celak karena ia termasuk perhiasan, padahal ia hanya berdiam diri di rumahnya dan tidak keluar. Maka, wanita yang kemungkinan akan terkena pandangan laki-laki asing (di luar rumah) lebih utama lagi untuk menjauhinya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply