تفسير قوله تعالى: ( كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِين)
Tafsir Firman Allah Ta’ala: “Jadilah Kamu Kera yang Hina”
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tafsir Firman Allah Ta’ala: “Jadilah Kamu Kera yang Hina” ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Al Quran
السؤال:
Pertanyaan:
ما المقصود بالآية الكريمة: “فقلنا لهم كونوا قردة خاسئين” في سورة البقرة؟
Apa yang dimaksud dengan ayat yang mulia: “Maka Kami katakan kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina” dalam Surah Al-Baqarah?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإن هذا جزء من الآية الكريمة التي جاءت في سياق الحديث عن بني إسرائيل، وهي قوله تعالى:
Sesungguhnya ini adalah bagian dari ayat mulia yang datang dalam konteks pembicaraan tentang Bani Israil, yaitu firman Allah Ta’ala:
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ * فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ [البقرة: ٦٥-٦٦]
“Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang di antara kamu yang melakukan pelanggaran pada hari Sabt, lalu Kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina!’ Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” [Surah Al-Baqarah: 65-66]
وقصة اعتدائهم: أن الله -عزَّ وجلَّ- أمر موسى بيوم الجمعة وعرَّفه فضله، كما أمر بذلك سائر الأنبياء، فذكر ذلك موسى لبني إسرائيل، وأمرهم بالعبادة والخشوع فيه، فتعدوه إلى يوم السبت، فأوحى الله إلى موسى أن يدعهم وما اختاروا، فامتحنهم فيه بترك العمل، وحرم عليهم الصيد فيه.
Kisah pelanggaran mereka adalah: Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Musa untuk mengagungkan hari Jumat dan memberitahukan keutamaannya, sebagaimana hal itu diperintahkan kepada seluruh nabi lainnya. Maka Musa menyampaikan hal tersebut kepada Bani Israil dan memerintahkan mereka untuk beribadah serta khusyuk pada hari itu. Namun, mereka justru melampaui batas dengan memilih hari Sabt (Sabtu). Maka Allah mewahyukan kepada Musa untuk membiarkan mereka dengan apa yang mereka pilih, lalu Allah menguji mereka pada hari itu dengan kewajiban meninggalkan pekerjaan dan mengharamkan mereka berburu (menangkap ikan).
فكانت الحيتان تخرج يوم السبت ولا تخرج الأيام الأخرى، فاحتالوا لها أول الأمر فحبسوها يوم السبت وأخذوها يوم الأحد، فنهتهم فرقة منهم عن هذا العمل فتمادوا، ومع مرور الوقت اصطادوها يوم السبت علانية، فنهاهم المتقون منهم، ولكنهم رفضوا، وقالت فرقة أخرى: (لم تنتهك الحرام)، لم تعظون قوماً الله مهلكهم. فلما فعلوا المنكر علانية، عاقبهم الله -تعالى- بالمسخ، فتحولوا إلى قردة خاسئين، أذلة صاغرين.
Ikan-ikan pun muncul ke permukaan pada hari Sabtu dan tidak muncul pada hari-hari lainnya. Maka mereka melakukan tipu daya (hilah) pada awalnya dengan mengurung ikan-ikan tersebut pada hari Sabtu dan mengambilnya pada hari Ahad. Satu kelompok di antara mereka melarang perbuatan ini, namun mereka tetap bersikeras. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menangkap ikan pada hari Sabtu secara terang-terangan. Orang-orang yang bertakwa di antara mereka telah melarang, namun mereka menolak. Kelompok lain berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan oleh Allah?” Ketika mereka melakukan kemungkaran tersebut secara terang-terangan, Allah Ta’ala menghukum mereka dengan pengubahan wujud (massakh), sehingga mereka berubah menjadi kera yang hina, rendah, dan nista.
قال المفسرون: ونجى الله -تعالى- الذين كانوا يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، وأهلك بقيتهم بما فيهم الذين لم يرتكبوا المنكر، لكنهم يبعثون يوم القيامة على نياتهم، كما في حديث زينب بنت جحش في الصحيحين:
Para ahli tafsir berkata: Allah Ta’ala menyelamatkan orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, dan membinasakan sisanya, termasuk mereka yang tidak melakukan kemungkaran tersebut (namun diam saja). Akan tetapi, mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat berdasarkan niat-niat mereka, sebagaimana dalam hadits Zainab binti Jahsy dalam Shahihain:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Apakah kami akan binasa padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang shalih?” Nabi menjawab: “Ya, jika kekejian (maksiat) telah banyak.”
وقال ابن عطية: كانت قرية يقal لها أيلية على شاطئ البحر. وقيل كان ذلك زمن داود.. وقصة أهل القرية ذكرت مفصلة في سورة الأعراف، حيث يقول الله -تعالى-:
Ibnu ‘Athiyyah berkata: Desa tersebut bernama Ailah yang terletak di tepi laut. Dikatakan pula bahwa peristiwa itu terjadi pada zaman Dawud. Kisah penduduk desa ini disebutkan secara rinci dalam Surah Al-A’raf, di mana Allah Ta’ala berfirman:
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعاً وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ * وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ * فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ * فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قردة خاسئين [الأعراف: ١٦٣-١٦٦]
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka fasik…” [Surah Al-A’raf: 163-166]
وكونوا في قوله تعالى: كونوا قردة، كقوله تعالى لكل شيء: كن فيكون، وخاسئين: أذلاء حقيرين. وخلد الله -تعالى- هذه القصة قرآناً يتلى، ليتعظ بها من يأتي من بعدهم.
Kata “Jadilah” (kunu) dalam firman Allah Ta’ala “Jadilah kamu kera” adalah seperti firman Allah terhadap segala sesuatu: “Jadilah! Maka terjadilah ia” (kun fayakun). Sedangkan kata “hina” (khasi’in) bermakna rendah dan nista. Allah Ta’ala mengabadikan kisah ini dalam Al-Qur’an yang senantiasa dibaca agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah mereka.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply