Apakah Orang Miskin Adalah Mitra Bagi Orang Kaya?



هل الفقير شريك للغني؟

Apakah Orang Miskin Adalah Mitra Bagi Orang Kaya?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Apakah Orang Miskin Adalah Mitra Bagi Orang Kaya? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits

السؤال:

Pertanyaan:

هناك قول بأن رب المال والمساكين شركاء في المال؟ والسؤال: هذا القول لمن؟

Ada sebuah perkataan yang menyatakan bahwa pemilik harta dan orang-orang miskin adalah sekutu (mitra) dalam harta tersebut. Pertanyaannya: Perkataan siapakah ini?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فقد وردت نصوص كثيرة من كتاب الله تعالى ومن سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومن أقوال السلف الصالح تحث على الإنفاق على الفقراء والمساكين والمحتاجين ومواساتهم.

Telah datang banyak nash (teks) dari Kitabullah Ta’ala, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perkataan para Salafush Shalih yang menganjurkan untuk berinfak kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan serta membantu meringankan beban mereka. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (sebagai titipan).”

Dan firman-Nya:

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”

Serta apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا ظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا زَادَ لَهُ

“Barangsiapa yang memiliki kelebihan tunggangan, maka hendaknya ia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki tunggangan. Dan barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, maka hendaknya ia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki bekal.”

Beliau (Abu Sa’id) berkata: “Lalu beliau menyebutkan berbagai macam jenis harta hingga kami melihat bahwa tidak ada hak bagi salah seorang pun dari kami pada kelebihan harta yang dimilikinya.”

وقد فرضت الزكاة مجملة في القرآن المكي، وكان الحث على الإنفاق في بداية الأمر بدون تحديد، لأن الدعوة تحتاج للمال والبذل والتضحية لأنها في مرحلة التأسيس والبناء، فلما استقر الأمر، وقامت الدولة في المدينة، وفرضت الزكاة بمقاديرها المعلومة وبُينت في السنة، أصبح الواجب على المسلم أن يؤدي زكاته المفروضة فقط، وما زاد على ذلك فهو تطوع.

Zakat pada awalnya diwajibkan secara global dalam Al-Qur’an periode Makkiyah, di mana anjuran infak pada awal perkara dilakukan tanpa batasan tertentu karena dakwah membutuhkan harta, pengorbanan, dan pemberian dalam fase fondasi dan pembangunan. Tatkala urusan telah stabil dan berdiri negara di Madinah, zakat pun diwajibkan dengan kadar yang ditentukan dan dijelaskan dalam Sunnah. Maka yang menjadi kewajiban bagi seorang muslim adalah menunaikan zakat wajibnya saja, dan apa yang lebih dari itu statusnya adalah tathawwu’ (sukarela).

قال القرطبي: كانت النفقة على قدر جدتهم حتى نزلت فرائض الصدقات، وقد اختلف العلماء هل في المال حق سوى الزكاة؟

Al-Qurtubi berkata: “Dahulu nafkah dilakukan sesuai dengan kemampuan mereka hingga turun kewajiban sedekah (zakat). Para ulama pun berselisih pendapat: Apakah dalam harta terdapat hak selain zakat?”. Beliau melanjutkan bahwa hadits yang dijadikan dalil oleh pihak yang berpendapat adanya hak selain zakat—meskipun di dalamnya terdapat kelemahan—telah dikuatkan keshahihannya oleh makna ayat:

وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ

“Dan yang mendirikan shalat serta menunaikan zakat.”

Ini adalah zakat yang diwajibkan. Sedangkan sebelumnya terdapat ayat:

وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ

“Dan memberikan harta yang dicintainya.”

Dan ini bukanlah zakat yang diwajibkan. Kemudian beliau berkata: “Mereka (para ulama) sepakat bahwa jika terjadi kebutuhan mendesak pada kaum muslimin setelah zakat ditunaikan, maka wajib menyalurkan harta untuk memenuhi kebutuhan tersebut.”

وما أشار إليه السائل في سؤاله هو ثمرة شطر القاعدة الفقهية المعروفة، وهي: هل الزكاة تتعلق بالمال فيكون الفقير شريكاً لرب المال بالقدر الواجب إخراجه؟ أو الزكاة تتعلق بذمة الغني؟

Adapun apa yang diisyaratkan oleh penanya dalam pertanyaannya adalah merupakan buah dari sebagian kaidah fiqih yang masyhur, yaitu: “Apakah zakat itu berkaitan dengan (zat) harta sehingga orang miskin menjadi mitra (sekutu) bagi pemilik harta pada kadar yang wajib dikeluarkan? Ataukah zakat itu berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) orang kaya?”. Kami telah menyebutkan kaidah ini, sebab perselisihannya, serta dampak hukum yang ditimbulkannya pada jawaban di Fatwa lainnya di sini.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.