Zakat Berkaitan dengan Zat Harta atau Tanggung Jawab ?



الزكاة تتعلق بالعين أم بالذمة؟

Apakah Zakat Berkaitan dengan Zat Harta atau Tanggung Jawab Pemilik?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Apakah Zakat Berkaitan dengan Zat Harta atau Tanggung Jawab Pemilik? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits

السؤال:

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الرحيم – هل الزكاة تتعلق بالعين أم بالذمة – المرجو توضيح الأمر مع ذكر مذاهب العلماء وأدلتهم وسبب الاختلاف وما هو الراجح وجزاكم الله كل خير والسلام عليكم ورحمة الله تعالى وبركاته

Bismillahir rahmanir rahim. Apakah zakat berkaitan dengan zat harta (‘ain) atau berkaitan dengan tanggung jawab pemilik (dzimmah)? Mohon penjelasan masalah ini dengan menyebutkan mazhab para ulama, dalil-dalil mereka, sebab perbedaan pendapat, serta pendapat mana yang rajih (kuat). Semoga Allah membalas Anda dengan segala kebaikan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فقد ذهب الإمامان أبو حنيفة ومالك إلى أن الزكاة تتعلق بعين المال، وأما الإمام الشافعي والإمام أحمد فلهما في المسألة رأيان: رأي يوافق أبا حنيفة ومالكاً، ورأي آخر يقول: إن الزكاة تتعلق بذمة المالك.

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa zakat berkaitan dengan zat harta (‘ain). Adapun Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad memiliki dua pendapat dalam masalah ini: satu pendapat setuju dengan Abu Hanifah dan Malik, sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa zakat berkaitan dengan tanggung jawab pemilik (dzimmah).

وقد استدل القائلون بالرأي الأول على رأيهم بقوله تعالى:

Pihak yang mengambil pendapat pertama berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ [المعارج: ٢٤]

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.” [Surah Al-Ma’arij: 24]

Serta berdasarkan apa yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ الْعُشْرُ

“Pada apa yang diairi oleh air hujan, (zakatnya) adalah sepersepuluh.”

Dan juga sabda beliau ‘alaihish shalatu was salam:

وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ

“Dan pada rikaz (harta temuan terpendam), (zakatnya) adalah seperlima.”

Dalil-dalil tersebut menggunakan huruf “fii” (di dalam/pada) yang menunjukkan keterangan tempat (zhariyyah), yang berarti zakat tersebut melekat pada zat hartanya.

واستدل الآخرون على رأيهم بأن إخراج الزكاة من غير النصاب جائز، ولو كانت الزكاة واجبة في عين النصاب لما جاز إخراجها من غيره. وبأنها لو كانت واجبة في عين المال لكان للمستحق أن يمنع المالك من التصرف في المال بعد وجوب الزكاة.

Sedangkan pihak lain berdalil bahwa mengeluarkan zakat dari selain harta nishab adalah boleh; seandainya zakat itu wajib pada zat nishabnya, tentu tidak boleh mengeluarkannya dari harta lain. Selain itu, jika zakat wajib pada zat harta, maka orang yang berhak menerima (mustahik) berhak melarang pemilik harta untuk mengelola hartanya setelah zakat tersebut wajib dibayarkan.

وتظهر فائدة هذا الخلاف فيمن ملك مائتي درهم مثلا، ومضى عليها حولان دون أن تزكى، فمن قال بتعلق الزكاة بالعين يزكيها لسنة واحدة. ومن قال بتعلق الزكاة بالذمة يزكيها للحولين.

Manfaat dari perbedaan pendapat ini tampak pada kasus seseorang yang memiliki 200 dirham misalnya, lalu berlalu dua tahun tanpa dizakati. Bagi yang berpendapat zakat berkaitan dengan zat harta (‘ain), ia hanya menzakatinya untuk satu tahun (karena setelah tahun pertama harta berkurang di bawah nishab untuk membayar zakat). Namun, bagi yang berpendapat berkaitan dengan tanggung jawab (dzimmah), ia menzakatinya untuk dua tahun penuh karena zakat tersebut dianggap sebagai utang dalam tanggung jawabnya.

والراجح -والله تعالى اعلم- الرأي الأول لظهور أدلته وقوتها.

Pendapat yang rajih (kuat)—wallahu ta’ala a’lam—adalah pendapat pertama karena dalil-dalilnya yang tampak jelas dan kuat.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.