[Lughatul Quran] Asy Syaithoon, Tinjauan Lughah dan Ishthilah (1)

الشيطان في اللغة والاصطلاح

Asy Syaithoon, dalam Tinjauan Bahasa dan Istilah

Oleh : DR. Sayyif Shafa’ Abdul Karim Ad Duuriy

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

w

الفرع الأول: الشيطان وإبليس لغة:

Pembahasan Pertama : Asy Syaithoon dan Iblis secara Bahasa

اختُلف في معنى الشيطان من ناحية اللغة بناء على الاختلاف في اشتقاقه وأصالة النون في بنائه، فقال قوم: إنَّه مشتق من (شطن)؛ بمعنى: بَعُد عن الحقِّ، فهو من: شطنه يشطنه شطنًا: إذا خالفه عن وجهته ونيَّته، وشَطَّت الدار: بَعُدَت، والشاطن: الخبيث، وتشيطن الرجل: إذا صار كالشيطان وفعل فعله، ومنه الشيطنة: التي هي مرتبة كلية عامَّة لمظاهر الاسم المضل، وعلى هذا الاشتقاق تكون كلمة شيطان على وزن (فيعال)، والنون فيه أصلية

Adanya perbedaan terkait makna Asy Syaithon dari sisi Lughah didasari pada perbedaan bentukan dan asal huruf Nuun yang ada padanya..

Dikatakan oleh satu kalangan bahwa dia adalah musytaq dari kata شطن yang memiliki makna Menjauh dari Al Haqq (Kebenaran). Bentuknya adalah  : شطَنه يشطُنه شطنًا yang bermakna penyimpangan terkait tujuan dan niat.

Syaththoti Daaru bermakna pergi menjauh.

Asy Syaathonu bermakna jahat, licik.

Tasyaythona Ar Rojulu : Jika seseorang berperilaku seperti syaithon dan mengerjakan perbuatan syetan.

Dari sana muncul kata Asy Syaithoonah : yang merupakan kata yang digunakan untuk menamakan semua yang menyesatkan.

Dari bentuk inilah muncul kata Syaithoon dalam wazan Fay’aalun. Nun pada kata ini adalah Nun Asli. (Rujukan : Qaamus Al ‘Aini – Imam Al Faraahidi)

وقال قوم آخرون: إنَّ الشيطان مأخوذ من الفعل (شاط)؛ بمعنى: احترق من الغضب، فهو من: شاط يشيط، وتشيط: إذا لفحَته النار فاحترق أو هلك؛ مثل هيمان وغيمان؛ مِن هام وغام، وعلى هذا الاشتقاق يكون على وزن فعلان، والنون فيه زائدة

Dikatakan oleh kalangan lainnya : Bahwa kata Asy Syaithoon diambil dari Fi’il شاط yang bermakna terbakar karena amarah, dalam bentuk syaatho – yasyiitu.

Tasyayyatho bermakna : jika tersambar api maka menjadi terbakar atau binasa.

Lalu semisal Haymaan dan Ghaymaan, dari kata Haama dan Ghaama, maka dari bentuk ini ada wazan Fa’laanu, dimana Nun-nya merupakan Nun Zaidah. (Rujukan : Kitab Maqaayiisul Lughah)

والقول الأول هو الأرجح؛ أي: اشتقاقه من (شطن)؛ وذلك لأنَّها أقرب إلى وصف أعمال الشيطان التي تَهدف إلى إبعاد الناس عن عمَل الخير واتِّباع الحق؛ (لأنَّ اشتقاق الشيطان من شطن؛ بمعنى: بَعُد عن الخير ومال عن الحقِّ – أقرب إلى الحقيقة من اشتقاقه من شاط؛ بمعنى: احترق؛ 

Pendapat pertama lebih rojih, yakni terbentuk dari kata شطن. Dikarenakan lebih dekat dengan karakter perbuatan-perbuatan setan yang bertujuan menjauhkan manusia dari perbuatan baik dan mengikuti kebenaran.

Bentukan Asy Syaythoon dari Syathona dengan makna : Menjauhkan dari kebaikan dan melencengkan dari kebenaran, lebih dekat kebenarannya daripada bentukan yang berasal dari Syaatho, yang bermakna : Terbakar. (Rujukan : Kitab At Tathawwur Ad Dalaaliy bayna Lughati Asy Syi’ril Jahiliyati wa Lughatil Quraan – DR. Audah Khalill Abu Audah)

ولا بد ونحن بصدَد تعريف الشيطان من ناحية اللغة أن نقِف على تعريف إبليس من ناحية اللغة أيضًا؛ ذلك أنَّ بعض الناس يتصوَّر أن إبليس والشيطان بمعنًى واحد، فوجب التمييز من ناحية اللُّغة

Selanjutnya kita mesti pula menghubungkan definisi Asy Syaythoon dari sisi lughah dengan definisi Iblis dari sisi lughah. Hal demikian dikarenakan sebagian orang menggambarkan bahwa Iblis dan Asy Syaythoon memiliki satu makna. Maka mestilah kita membedakan keduanya dari sisi lughah.

• ذهب قوم من أهل اللغة إلى أنَّ إبليس مشتقٌّ من أَبلَس الرجل: إذا انقطع ولم تكن له حجَّة، وأَبلَس الرجل: قُطِع به، وأبلس أيضًا: سكَتَ، وأبلس مِن رحمة الله: يئس، والإبلاس: الحزن المعترض من شدَّة البأس، وقد استخدم العربُ هذه المعاني فقالوا: ناقة مِبلاس: إذا كانت لا تَرغو من الخوف، وفلان أبلس: إذا سكَت من شدَّة الخوف

Segolongan ahli lughah berpendapat bahwa Ibliis terbentuk dari kata Ablasa Ar Rojulu. Bermakna jika terputus atau tidak ada padanya hujjah. Ablasa Ar Rojulu bermakna Terputus dengannya.

Ablasa juga bermakna : سكت (Terputus/Terhenti/Diam). Yakni terputus dari Rahmat Allah.

Orang Arab juga menggunakan makna ini. Mereka mengatakan : Naaqotun Miblaasun – jika tidak bersuara disebabkan takut. Fulaanun Ablasa : Jika terdiam karena sangat takut. (Rujukan : Kitab Maqoosiyul Lughah)

والقرآن الكريم استخدم هذه المعاني اللغويَّة لكلمة أبلس، فقال تعالى:  

Al Quranul Kariim menggunakan makna lughawi ini untuk kata Ablasa. Firman Allah Ta’ala

﴿ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ ﴾ [الروم: 12]،

Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. (Surah Ar Ruum ayat 12)

Dan Firman Allah Ta’ala :

وقال تعالى: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44].

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Surah Al An’aam ayat 44)

وذهب قوم آخرون إلى أنَّ إبليس اسم أعجمي الأصل مَمنوع من الصرف

Ada sekelompok lain yang mengatakan bahwa Iblis adalah kata Non Arab, yang tergolong Mamnu’ Minas Sharf (Lihat Kamus Al Muhiith)

وذهب بعض الدَّارسين إلى أنَّها كلمة يونانية الأصل هي (ديا بولس)، جرى عليها بعضُ التغيير والتحريف حتى صارت كذلك

Sebagian akademisi mengatakan bahwa dia adalah kata Yunani yakni Diabolus. Kata itu kemudian mengalami perubahan dan pergeseran sehingga menjadi kata Iblis. (Rujukan : Kitab Ibliis – Abbas Mahmud Al ‘Aqaad)

أقول: على الرغم من ذلك؛ فإنَّها كلمة عربيَّة الاشتقاق، والقرآن الكريم كما أشَرنا آنفًا قد استعملها بهذا الاشتِقاق اللغوي، والقول بأنَّها ليست عربيَّة تمحُّل في غير محلِّه، ودعوى لا دليل عليها، فنقول: إنها عربيَّة الاشتقاق، وإنَّها مشتقَّة من أبلس الرجل: إذا انقطع.

DR. Sayyif Shafa’ Abdul Karim Ad Duuriy berpendapat tentang hal ini : Kata tersebut adalah berasal dari Bahasa Arab, dimana Al Quranul Karim sebagaimana disebutkan diatas menggunakan bentuk kata tersebut. Karena itu pendapat yang mengatakan bahwa kata tersebut bukanlah kata Bahasa Arab tidaklah tepat, dan tidak memiliki dasar. Sehingga kami berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari Bahasa Arab, yakni bentukan dari katan Ablasa Ar Rojulu yang bermakna : terputus

إذًا، هذا معنى الشيطان وإبليس من ناحية اللغة، والآن نحاول أن نعرِّفهما من ناحية الاصطلاح.

Demikianlah makna Asy Syaythoon dan Iblis dari sisi Lughah, in sya Allah kita lanjutkan pembahasan definisinya dari sisi ishthilah

Allahu Ta’ala ‘A’lam

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.