[Lughatul Quran] Asy Syaithoon, Tinjauan Lughah dan Ishthilah (2)

الشيطان في اللغة والاصطلاح

Asy Syaithoon, dalam Tinjauan Bahasa dan Istilah (Bagian 2 dari 2 Tulisan)

Oleh : DR. Sayyif Shafa’ Abdul Karim Ad Duuriy

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

w

الفرع الثاني: الشيطان وإبليس اصطلاحًا:

Pembahasan Kedua : Asy Syaythoon dan Iblis dari Sisi Ishthilah

يُطلق الشيطان من ناحية الاصطلاح على: كلِّ متمرِّد من الجنِّ والإنس والدواب

Penyebutan Kata Asy Syaythoon dari sisi isthilah dimaksudkan pada semua pembangkang (mutamarridun) baik itu dari golongan jin, manusia maupun hewan. (Rujukan : Kitab Al Mufrodaat – Al Ashfahaaniy)

فبناء على هذا التعريف يصبِح مَفهوم الشيطان: صِفة يمكِن أن يتَّصف بها أيُّ امرئ يَسلك طريقَ الشرِّ والشيطنة، فكثير من الناس نراهم ويروننا، نعاملهم ويعاملوننا، هم في ظاهرهم من الإنس، ولكنهم في حقيقة الأمر – تصرُّفاتهم وأفكارهم ومكايدهم وأخلاقهم – يكونون من مرَدة الشياطين، الذين قد يَعجِز عن مكايدهم وحبائلهم إبليس نفسه.

Bentuk pendefinisian tersebut menjadikan mafhum bahwa syaithon adalah : Sifat yang mungkin disematkan kepada siapa saja yang mengikuti jalan syathoon dan keburukan. Banyak dari manusia yang kita dapat melihat mereka dan mereka dapat melihat kita,  kita berinteraksi dengan mereka dan mereka berinteraksi dengan kita. Mereka nampak jelas di kalangan manusia, akan tetapi pada hakikatnya, perilaku mereka, fikiran mereka, intrik-intrik mereka dan akhlaq mereka, menjadikan mereka bagian dari pengikut syaithon, orang-orang yang jatuh ke dalam rencana dan perangkap iblis.

أمَّا إبليس، فهو علَمٌ على مَخلوق خلَقه الله عزَّ وجل من النَّار، وجعله في عداد الملائكة، وقام بعمله ما شاء الله أن يقوم، ثمَّ نازع ربَّه الكبرياء والعظمة، فاستكبر عن طاعته، وعصى ربَّه، فطرده من رحمته ومن وظيفته، فهبط إلى الأرض، وأصبحت الشيطنة صفة له

Adapun Iblis adalah nama makhluk yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla dari api, lalu dikumpulkan bersama sejumlah malaikat, melakukan amal dengan apa yang Allah Ta’ala perintahkan, kemudian membantah Robbnya dengan sombong dan angkuh, membanggakan diri karena ketaatannya, sehingga mendurhakai Robbnya, hingga Robbnya mencabut RahmatNya dan mengeluarkannya dari tempatnya, melemparkannya ke bumi, dan sifat syaythoon telah menjadi karakternya. (Rujukan : Kitab Tafsir Adhwaul Bayaan)

وإبليس له ذريَّة بصريح القرآن الكريم، قال تعالى:

Iblis memiliki keturunan, sebagaimana yang disampaikan di Al Quranul Karim, dalam Firman Allah Ta’ala :

﴿ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي ﴾ [الكهف: 50]؛

Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, (Surah Al Kahfi ayat 50)

فإبليس من الجنِّ المخلوقين من نار السَّموم، وإنَّه ليرانا هو وقبيله من حيث لا نراهم، وقد فسَق عن أمر ربِّه، وهو رأس الشياطين والمتمرِّدين، وجمعه: أباليس وأبالسة

Iblis berasal dari golongan jin, yakni makhluk yang diciptakan dari Nar As Samuum (Api yang sangat panas). Dia dapat melihat kita, sementara dia termasuk golongan yang kita tidak dapat melihatnya, dia fasiq terhadap perintah Robbnya, dia adalah ketuanya para asy syathoon dan para pembangkang. Bentuk jamaknya : Abaaliisu dan Abaalisatu. (Rujukan : Al Mu’jam Al Wasiith)

إذًا، إبليس هو الاسم العَلَم لهذا المخلوق المتمرِّد، والشيطان صِفة له ولغيره.

Jadi, iblis adalah isim ‘alam untuk makhluk pembangkang ini, sementara asy syathoon adalah sifat baginya dan selainnya.

بقيَت قضية مهمَّة؛ هي أنَّ هناك نصوصًا ذكرَت أنَّ إبليس من الملائكة؛ كقوله تعالى: 

Namun masih ada satu masalah penting. Yakni disebutkan dalam nash bahwa iblis adalah dari golongan malaikat, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى ﴾ [طه: 116]،

Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. (Surah Tha Haa ayat 116)

ونصوص أخرى ذكرَت أنَّه من الجنِّ؛ كقوله تعالى:

Dalam nash yang lain disebutkan bahwa iblis berasal dari golongan jin, sebagaiman Firman Allah Ta’ala :

﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ﴾ [الكهف: 50]،

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (Surah Kahfi ayat 50)

فكيف يكون إبليس من الملائكة ومن الجنِّ في الوقت نفسه؟ وما العلاقة بينه وبين الشيطان؟

Jadi bagaimana iblis bisa masuk dalam golongan malaikat dan dari golongan jin dalam waktu yang bersamaan ? Apa kaitan antara iblis dengan syetan ?

أقول: إنَّ إبليس من الملائكة؛ إذ أُمر بالسجود معهم، وهو من الجنِّ بنصِّ القرآن الكريم، وليس في الأمر غرابة عندما نَعلم أنَّ إبليس كان في الملائكة وليس من جِنسهم؛ بل هو من الجنِّ، وهم جنس من الخلق، خلَقه الله من نار، وخلق الملائكةَ من نور؛ فإبليس من الملائكة بطاعته وعبادتِه في البداية، ومن الجن نسبًا وأصلًا[10].

Penjelasan DR. Sayyif Shafa’ Abdul Karim Ad Duuriy terkait hal ini sebagai berikut :

Iblis disebut ada di kalangan malaikat saat diperintahkan untuk sujud bersama para malaikat, sementara dia adalah dari golongan jin berdasarkan keterangan nash Al Quranul Karim. Bukanlah perkara yang aneh bagi kita mengetahui bahwa iblis ada diantara kalangan malaikat sementara dia bukanlah dari jenis malaikat, melainkan dari golongan jin. Mereka semua adalah jenis makhluk. Allah Ta’ala menciptakan jin dari api, dan menciptakan malaikat dari cahaya. Jadi iblis disebut berada di kalangan malaikat dari sisi ketaatannya, ibadahnya pada masa-masa awalnya, sementara nasab aslinya adalah dari golongan jin. (Rujukan : Kitab Tafsir Kabiir Ar Razi, Kitab Tafsir Al Khaazin, Kitab Bashaairu Dzawit Tamyiz fii Latho-ifil Kitabil Aziz, Kitab Gharaa-ibu wa ‘ajaa-ibul jinni kamaa yushsharohul Quranu wa Sunnah)

إذا وضح ذلك، فلا داعي للخِلاف الذي أثاره العلماء حول هذه المسألة؛ إذ لا فائدة وراءه.

Jadi jelas demikian adanya. Tidak ada alasan terkait perbedaan yang disebutkan para ulama seputar masalah ini (Rujukan : Tafsir Jaamiul Bayan Ath Thobari, Tafsir Al Quranul Azhiim Ibnu Katsir). Serta tidak ada faidah dalam pembahasan hal tersebut.

أمَّا الإجابة عن الشَّطر الثاني من السؤال عن الصِّلة بين الشيطان وإبليس، فهو أنَّ الشيطان صِفة يتَّصف بها أي امرئ يَعمل عمله، وقد وصف الله عزَّ وجل بها إبليس حتى التصقَت به فصار الناس يَظنون أنها خاصَّة به، ولكن آيات القرآن الكريم بيَّنَت أن إبليس غير الشيطان، وأن الشيطان صِفة لإبليس، قال تعالى

Adapun jawaban untuk hal kedua yakni terkait hubungan antara asy syaithoon dengan iblis adalah bahwa asy syaithoon merupakan sifat yang disematkan pada orang yang beramal dengan amalan syaythoon (membangkang, menjauh). Allah Ta’ala mensifati Iblis dengan sifat itu sampai dia menjadi identik dengan sifat itu, sehingga manusia menyangka bahwa sifat tersebut dikhususkan untuk iblis. Akan tetapi ayat Al Quranul Karim menjelaskan bahwa Iblis bukanlah Asy Syaythoon, akan tetapi Asy Syaithoon adalah sifat dari iblis.

Firman Allah Ta’ala

﴿ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ * فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ ﴾ [البقرة: 34 – 36]،

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Surah Al Baqarah 34 s.d. 36)

فلو نظرنا إلى جملة ﴿ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ ﴾ ،لأوحَت لنا بصِفات إبليس؛ أي: أزلَّهما إبليس بكَيده وتزيينه ووسوستِه؛ ومثل ذلك ورَد في آيات سورة طه، فبعد أن أَمَر الله عزَّ وجل إبليسَ أن يسجد لآدمَ، واستكبر إبليس عن طاعة الله عزَّ وجل، حذَّر الله آدمَ منه، وأمره أن يتَّخذه عدوًّا؛ حتى لا يُخرجه من الجنة:

Jika kita perhatikan pada kalimat “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan” – maka itu menunjukkan kepada kita sifat iblis, yakni iblis menggelincirkan mereka dengan kelicikannya, rayuannya dan pikiran jahat. Yang serupa dengan hal itu adalah yang disebutkan dalam surah Tha Haa, setelah perintah Allah Azza wa Jalla kepada Iblis untuk sujud kepada Adam, lalu iblis dengan sombongnya menolak taat kepada Allah Azza Jalla, lalu Allah memperingatkan Adam tentang bahaya iblis, dan memerintahkan untuk menganggap iblis sebagai musuh, agar Adam tidak dikeluarkan dari surga.

Firman Allah Ta’ala :

﴿ فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى ﴾ [طه: 120]،

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa? (Tha Haa ayat 120)

فإبليس هو الوسواس، وهو الشَّيطان، ولكنه ليس وحده الشيطان؛ بل هناك شياطين كثر من الإنس والجن، يَعملون عملَه، ويهتدون بسنَّته، ويسلكون طريقَه؛ طريق الشيطنة، فهل أدركنا الصِّلةَ بين إبليس والشيطان؟

Maka Iblis disebut juga Al Waswaas, dia adalah asy syaythoon. Akan tetapi As syaythoon tidaklah hanya satu, tetapi ada banyak syaythoon dari kalanan manusia dan jin, yang beramal dengan amalan syathoon, mengikuti contoh syathoon, menempuh jalan syathoon. Jika sudah demikian tidakkah jelas bagi kita hubungan antara iblis dengan syaythoon ?

Allahu Ta’ala ‘A’lam

المفردات

مَكَايِدُ: (اسم)

مَكَايِدُ : جمع مكيدة

 ( اسم ): رِيحٌ حارّة

الجمع : سمائم

السَّمُومُ : الريحُ الحارّةُ

السَّمُومُ : الحرّ الشديد النافذ في المسَامِّ ،

حَبائِلُ: (اسم)

حَبائِلُ : جمع أُحْبولة

حَبائِلُ: (اسم)

حَبائِلُ : جمع حِبالة

حَبائِل: (اسم)

حَبائِل : جمع أُحْبولة

perangkap

hot wind ; simoom ; simoon

 ( اسم ): فَخَامَة

augustness ; exaltedness ; grandeur ; grandness ; greatness ; loftiness ; magnificence ; majesty ; splendor ; stateliness ; sublimity

 ( اسم ): الشَّيْطان

archenemy
– the main or chief enemy; the devil; Satan
– an evil spirit
– the devil
– an evil spirit;Satan,any person who behaves very badly,especially a child
– the most powerfull evil spirit in Christianity and Islam ;Satan
– used like devil and deuce
– the Devil; demon
– an evil spirit, a demon ; the devil
– a male afreet; a hobgoblin
– devil, Satan
– the devil

 

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.