Apa Hukum Merayakan Natal (Awal Tahun Baru Masehi) Secara Terperinci ? (4) : Dalil Al I’tibaar

This entry is part 4 of 4 in the series Hukum Merayakan Natal

ما حكم الاحتفال بعيد الكريسمس ( أول السنة الميلادية ) ؟ بالتفصيل

Apa Hukum Merayakan Natal (Awal Tahun Baru Masehi) Secara Terperinci ?

Oleh : Tim Fatwa IslamWeb

Alih Bahasa : Reza Ervan bin Asmanu

w

4- وأما الاعتبار فيقال: الأعياد من جملة الشرع والمناهج والمناسك التي قال الله فيها: لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً [المائدة:48].

Yang keempat, Dalil I’tibaar : Hari raya adalah bagian dari syariat, manhaj dan ritual agama sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan syariat dan minhaj (Surah Al Maidah ayat 48)

قال ابن تيمية: فلا فرق بين مشاركتهم في العيد وبين مشاركتهم في سائر المناهج، فإن الموافقة في جميع العيد موافقة في الكفر، والموافقة في بعض فروعه موافقة في بعض شعب الكفر،

Ibnu Taimiyah mengatakan : Tidak ada bedanya antara orang-orang yang ikut merayakan hari raya mereka dengan orang-orang yang ikut dalam minhaj (jalan) mereka, persetujuan pada seluruh hari raya mereka adalah persetujuan terhadap kekufuran, dan persetujuan terhadap sebagian cabangnya adalah juga persetujuan terhadap sebagian jalan kekufuran.

بل إن الأعياد من أخص ما تتميز به الشرائع، ومن أظهر ما لها من الشعائر، فالموافقة فيها موافقة في أخص شرائع الكفر وأظهر شعائره، ولا ريب أن الموافقة في هذا قد تنتهي إلى الكفر في الجملة بشروطه. اقتضاء الصراط المستثقيم 1/528

Lebih dari itu, hari besar merupakan atribut khusus hukum agama, dan yang nampak dari perayaan tersebut adalah termasuk bagian dari ritualnya. Karenanya bersepakat dengan hal tersebut berarti bersepakat pada hukum kufur dan menampakkan ritualnya, sehingga tidak diragukan bahwa bersepakat dalam hal ini dapat berujung pada kekufuran. (Kitab Iqtidhaa-u Ash Shiroothil Mustaqim 1/528)

وقال أيضاً: ثم إن عيدهم من الدين الملعون هو وأهله، فموافقتهم فيه موافقة فيما يتميزون به من أسباب سخط الله وعقابه….

Dikatakan juga oleh beliau : Kemudian karena perayaan hari raya mereka adalah bagian dari agama yang dimurkai, begitu juga penganutnya, maka bersepakat dengannya berarti bersepakat pada apa-apa yang merupakan sebab-sebab murka Allah dan hukumanNya

ومن أوجه الاعتبار أيضاً: أنه إذا سوغ فعل القليل من ذلك أدى إلى فعل الكثير، ثم إذا اشتهر الشيء دخل فيه عوام الناس وتناسوا أصله حتى يصير عادة للناس بل عيداً لهم، حتى يضاهى بعيد الله، بل قد يزيد عليه حتى يكاد أن يقضي إلى موت الإسلام وحياة الكفر….

Dari sisi i’tibaar pula : Bahwa membenarkan sesuatu yang kecil dari hal tersebut akan mengarah pada membenarkan hal yang lebih besar. Kemudian, ketika sesuatu menjadi trend, maka masyarakat umum terlibat ke dalamnya, serta melupakan asal-usulnya sehingga menjadi kebiasaan mereka, bahkan juga menjadi hari raya bagi mereka, sehingga semakin menyimpang jauh dari Allah, bahkan terus bertambah hingga hampir menyebabkan kematian nila-nilai kehidupan Islam dan hidupnya nilai-nilai kekafiran.

هذا ما تيسر ذكره من الأدلة. ومن أراد الاستزادة فليراجع اقتضاء الصراط المستقيم لمخالفة أصحاب الجحيم لابن تيمية، وأحكام أهل الذمة لابن القيم، والولاء والبراء في الإسلام لمحمد سعيد القحطاني.

Inilah pemaparan ringkas dalil-dalinya. Jika menginginkan pembahasan yang lebih luas, dapat merujuk ke Kitab Iqtidhaa-u Ash Shiroothi Al Mustaqiim Li Mukhaalifati Ashaabil Jahiim yang disusun oleh Ibnu Taimiyah, juga Kitab Ahkam Ahlidz Dzimmah yang disusun oleh Ibnu Qayyim, juga Kitab Al Walaa’ wal Baraa’ dari Muhammad Sa’id Al Qahthaniy

Series Navigation<< Apa Hukum Merayakan Natal (Awal Tahun Baru Masehi) Secara Terperinci ? (3) : Dalil Al Ijma
Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.