[Ensiklopedi Al Quran] Al Baqarah ayat 10 (3) : fa zadahumuLlahu maradha – 27 Jenis Penyakit Hati (Bagian 1)



البقرة  ١٠

[Ensiklopedi Al Quran] Al Baqarah ayat 10 (3) : fa zadahumuLlahu maradha – 27 Jenis Penyakit Hati (Bagian 1)

Alih Bahasa dan Kompilasi : Reza Ervani bin Asmanu

بسم الله الرحمن الرحيم

Al Baqarah ayat 10 adalah lanjutan serial Ensiklopedi Al Quran

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا: الفاء؛ للتوكيد.

Fa zadahumulahhu maradha (dan Allah Tambahkan bagi mereka penyakit). Huruf Fa disini berfungsi sebagai at Taukid (penguat)

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا: زادهم الله شكاً ونفاقاً وكذبا وريد وجحوداً أو كل أنواع المرض.

Fa zadahumulahhu maradha (dan Allah Tambahkan bagi mereka penyakit). Yakni Allah tambahkan kepada mereka keraguan, kemunafikan, kedustaan, permusuhan dan penolakan atau semua jenis penyakit 

Dalam Tafsir Bahrul Muhith dipaparkan :

وَالْقُرَّاءُ عَلَى فَتْحِ رَاءِ مَرَضَ فِي الْمَوْضِعَيْنِ إِلَّا الْأَصْمَعِيَّ، عَنْ أَبِي عَمْرٍو، فَإِنَّهُ قَرَأَ بِالسُّكُونِ فِيهِمَا، وَهُمَا لُغَتَانِ كَالْحَلَبِ وَالْحَلْبِ، وَالْقِيَاسُ الْفَتْحُ، وَلِهَذَا قَرَأَ بِهِ الْجُمْهُورُ، 

Maradha dibaca dengan memfathahkan ro pada dua tempat kecuali bacaan al Ashma’iy, yang meriwayatkannya dari Abu Amr, yakni membacanya dengan mensukunkan ro’ pada kedua tempat tersebut (Al Mardha), keduanya merupakan dialek arab seperti Halab dan Halb. Diqiyaskan dengan fathah karena itu Jumhur membacanya dengan fathah (maradha).

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرَادَ بِالْمَرَضِ الْحَقِيقَةُ، وَأَنَّ الْمَرَضَ الَّذِي هُوَ الْفَسَادُ أَوِ الظُّلْمَةُ أَوِ الضَّعْفُ أَوِ الْأَلَمُ كَائِنٌ فِي قُلُوبِهِمْ حَقِيقَةً، وَسَبَبُ إِيجَادِهِ فِي قُلُوبِهِمْ هُوَ ظُهُورُ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَتْبَاعِهِ، وَفُشُوُّ الْإِسْلَامِ وَنَصْرُ أَهْلِهِ.

Bisa saja yang dimaksudkan adalah penyakit dalam makna yang sebenarnya, yang berupa kerusakan, penghitaman, kelemahan, atau rasa sakit ada dalam qalbu (jantung) mereka secara sebenarnya. Penyebab munculnya penyakit itu dalam hati mereka adalah kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan orang-orang yang mengikuti beliau, serta penyebaran Islam juga kemenangan para pemeluknya.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرَادَ بِهِ الْمَجَازُ، فَيَكُونُ قَدْ كَنَّى بِهِ عَمَّا حَلَّ الْقَلْبَ مِنَ الشَّكِّ، قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ، أَوْ عَنِ الْحَسَدِ وَالْغِلِّ، كَمَا كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبي بن سَلُولَ، أَوْ عَنِ الضَّعْفِ وَالْخَوْرِ لِمَا رَأَوْا مِنْ نَصْرِ دِينِ اللَّهِ وَإِظْهَارِهِ عَلَى سَائِرِ الْأَدْيَانِ، 

Bisa juga dimaksudkan secara majaz, yang berarti bahwa dia menyembunyikan keraguan dalam hatinya. Ini pendapat Ibnu Abbas, atau itu bisa pula merujuk pada iri dan dengki, seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Abi bin Salul. Atau itu bisa merujuk pada kelemahan dan keputusasaan yang mereka rasakan karena melihat kejayaan agama Allah dan penyebarannya di atas semua agama lain,

وَحَمْلُهُ عَلَى الْمَجَازِ أَوْلَى لِأَنَّ قُلُوبَهُمْ لَوْ كَانَ فِيهَا مَرَضٌ لَكَانَتْ أَجْسَامُهُمْ مَرِيضَةً بِمَرَضِهَا، أَوْ كَانَ الْحِمَامُ عَاجَلَهُمْ، قَالَ: بَعْضُ الْمُفَسِّرِينَ يَشْهَدُ لِهَذَا الْحَدِيثُ النَّبَوِيُّ وَالْقَانُونُ الطِّبِّيُّ،

Kemungkinannya sebagai majaz lebih tepat. Sebab jika dianggap sebagai sakit dalam arti sebenarnya, atau terjadi penyakit  medis pada qalbu (jantung) mereka, maka tubuh mereka juga akan menderita sakit, atau itulah yang mereka anggap sebagai penyebab lebih cepatnya datang kematian bagi mereka. Sebagian mufasir juga mengatakan bahwa hadits ini juga didukung oleh hadits Nabawiyah dan informasi kedokteran.

أَمَّا الْحَدِيثُ، فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

ِAdapun dukungan hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda  :

 «إِنَّ فِي جَسَدِ ابْنِ آدَمَ لَمُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ جَمِيعُهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ جَمِيعُهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ» .

“Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh jasad, namun apabila segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, bahwa segumpal daging itu adalah qalbu !”

وَأَمَّا الْقَانُونُ الطِّبِّيُّ، فَإِنَّ الْحُكَمَاءَ وَصَفُوا الْقَلْبَ عَلَى مَا اقْتَضَاهُ عِلْمُ التَّشْرِيحِ، ثُمَّ قَالُوا: إِذَا حَصَلَتْ فِيهِ مَادَّةٌ غَلِيظَةٌ، فَإِنْ تَمَلَّكَتْ مِنْهُ وَمِنْ غُلَافِهِ أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا فَلَا يَبْقَى مَعَ ذَلِكَ حَيَاةٌ وَعَاجَلَتِ الْمَنِيَّةُ صَاحِبَهُ، وَرُبَّمَا تَأَخَّرَتْ تَأْخِيرًا يَسِيرًا، وَإِنْ لَمْ تَتَمَكَّنْ مِنْهُ الْمَادَّةُ الْمُنْصَبَّةُ إِلَيْهِ وَلَا مِنْ غُلَافِهِ، أُخِّرَتِ الْحَيَاةُ مُدَّةً يَسِيرَةً؟ وَقَالُوا: لَا سَبِيلَ إِلَى بَقَاءِ الْحَيَاةِ مَعَ مَرَضِ الْقَلْبِ، وَعَلَى هَذَا الَّذِي تَقَرَّرَ لَا تَكُونُ قُلُوبُهُمْ مَرِيضَةً حَقِيقَةً.

Adapun dukungan informasi Kedokteran :  Setelah para ahli kedokteran menggambarkan al qalbu (jantung) sesuai dengan pengetahuan anatomi, kemudian mereka mengatakan bahwa jika ada substansi kental yang masuk ke dalam jantung dan substantsi tersebut mempengaruhi jantung dan perikardiumnya (selaput jantung) atau salah satu di antaranya, maka tidak akan ada kehidupan yang tersisa dan kematian akan segera menimpa pemiliknya.

Namun, mungkin terjadi penundaan sejenak jika substansi tersebut tidak berhasil mencapai jantung atau perikardiumnya. Dalam kasus di mana substansi tersebut tidak dapat mencapai jantung atau perikardium, kehidupan dapat diperpanjang dalam jangka waktu yang singkat. Mereka mengatakan bahwa tidak ada cara untuk tetap hidup dengan penyakit jantung. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa qalbu (jantung) tidaklah benar-benar sakit dalam arti sebenarnya (dalam arti penyakit medis). 1

وَقَدْ تَلَخَّصَ فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي السَّبَبِيَّةِ الَّتِي تَحْصُلُ فِي الْقَلْبِ سَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ مَرَضًا، وَهِيَ:

Diringkas dalam Al Quran berbagai penyebab penyakit yang ada di dalam Qalbu (Hati / Jiwa) sebanyak 27 (Dua Puluh Tujuh) jenis penyakit :

  1.  الرَّيْنُ ar Rabnu – kegundahan, kebingungan, atau keraguan yang terjadi dalam hati seseorang. Dalam konteks kesehatan jiwa, istilah ini merujuk pada kondisi mental yang dapat mempengaruhi stabilitas emosional dan ketenangan pikiran.
  2. وَالزَّيْغُ – az Zay’u penyimpangan, kesesatan, atau deviasi dari jalan yang benar atau lurus. 
  3. وَالطَّبْعُ، at Thab’u – sifat bawaan atau kecenderungan alami yang dimiliki oleh seseorang. Dalam konteks kejiwaan, istilah ini merujuk pada karakteristik dan sifat dasar yang ada dalam hati seseorang. Ini mencakup sifat-sifat seperti kemurahan hati, kebajikan, kecenderungan untuk melakukan kebaikan, atau sebaliknya, kecenderungan negatif seperti kekerasan, kebencian, atau keburukan.
  4. وَالصَّرْفُ، as sharfu – perubahan atau fluktuasi yang terjadi dalam hati seseorang. Dalam konteks kesehatan kejiawaan istilah ini mengacu pada perubahan suasana hati, perasaan, atau kondisi emosional yang dapat berubah-ubah dari satu waktu ke waktu lainnya. Hal ini dapat mencakup perubahan dari keadaan bahagia menjadi sedih, dari ketenangan menjadi gelisah, atau dari kecintaan menjadi kebencian. 
  5. وَالضِّيقُ، perasaan ketidaknyamanan, tekanan, atau keterbatasan yang dialami dalam hati seseorang. Dalam konteks kejiwaan, istilah ini mengacu pada perasaan terjepit, terbatas, atau terkekang yang dapat menyebabkan kesulitan dalam menghadapi situasi atau menangani masalah. Hal ini dapat mencakup rasa cemas, gelisah, atau tertekan yang mempengaruhi kesejahteraan mental dan emosional seseorang. Istilah ini juga dapat merujuk pada perasaan terkekang atau terhalang dalam mencapai kebahagiaan atau pemenuhan kebutuhan yang diinginkan.
  6. وَالْحَرَجُ، perasaan ketidaknyamanan, kerepotan, atau kesulitan yang dialami dalam hati seseorang ketika mereka menghadapi situasi yang sulit, kompleks, atau membingungkan. Istilah ini mengacu pada perasaan terjebak, terancam, atau tidak tahu bagaimana mengatasi atau menangani suatu situasi. Hal ini bisa disebabkan oleh tekanan sosial, konflik internal, atau ketidakpastian dalam mengambil keputusan. Dalam konteks kejiwaan, istilah ini menggambarkan perasaan kesusahan, kebingungan, atau kecemasan yang mungkin muncul ketika seseorang dihadapkan pada tantangan atau masalah yang sulit dihadapi.

Bersambung in sya Allah

Catatan Kaki

  1. Lihat Tafsir Bahrul Muhith


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.