[Ensiklopedi Al Quran] Al Baqarah ayat 10 (4) : fa zadahumuLlahu maradha – 27 Jenis Penyakit Hati (Bagian 2)



البقرة  ١٠

[Ensiklopedi Al Quran] Al Baqarah ayat 10 (4) : fa zadahumuLlahu maradha – 27 Jenis Penyakit Hati (Bagian 2)

Alih Bahasa dan Kompilasi : Reza Ervani bin Asmanu

بسم الله الرحمن الرحيم

Al Baqarah ayat 10 adalah lanjutan serial Ensiklopedi Al Quran

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

  1. وَالْخَتْمُ – Tertutup / Terkunci Mati. Mengacu pada kondisi dimana hati seseorang menjadi tertutup dan tersegel dari hidayah, kebenaran, atau pengaruh positif. Ini menunjukkan keadaan dimana seseorang telah menutup hatinya terhadap kebaikan, rahmat, atau petunjuk Allah, dan lebih condong pada kegelapan, kejahatan, atau kedurhakaan.
  2. وَالْإِقْفَالُ، – Menutup diri – menolak menerima kebenaran atau petunjuk karena keras kepala. Mereka cenderung menutup diri terhadap pengajaran, peringatan, atau nasihat baik, dan hati mereka sulit terbuka untuk menerima perubahan atau pembenaran.
  3. الْإِشْرَابُ – adiktif, kecanduan. mengacu pada kondisi ketidakseimbangan atau gangguan mental yang mempengaruhi fungsi dan kesehatan jiwa seseorang. 
  4. الرُّعْبُ – ketakutan atau ketakjuban yang berlebihan. Ini merujuk pada kondisi ketika hati seseorang dipenuhi dengan ketakutan, kecemasan, atau takjub yang berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berdasar atau tidak seimbang dengan realitas. Ketakutan dan takjub yang berlebihan dapat mengganggu ketenangan batin dan menghambat seseorang dari mencapai keseimbangan dan kedamaian dalam hidup mereka.
  5. وَالْقَسَاوَةُ – “kekakuan hati atau keras hati”. Ini merujuk pada keadaan ketika hati seseorang menjadi keras dan tidak responsif terhadap kebaikan, belas kasihan, atau peringatan. Cenderung sulit menerima nasihat, mengubah sikap negatif, atau memperbaiki hubungan dengan orang lain.
  6. وَالْإِصْرَارُ – keras kepala. merujuk pada sikap atau keadaan di mana seseorang secara keras kepala atau teguh dalam melakukan atau mempertahankan sesuatu, meskipun hal tersebut dapat bertentangan dengan kebenaran atau nilai-nilai agama.  Dapat menyebabkan seseorang terus-menerus berada dalam kesalahan, mengabaikan nasihat atau petunjuk yang benar, dan enggan untuk bertaubat atau mengubah perilakunya.
  7. عَدَمُ التَّطْهِيرِ – tidak murni atau tidak bersih. Istilah ini mengacu pada keadaan ketika hati seseorang tidak murni atau tidak suci dari sifat-sifat negatif seperti kebencian, iri hati, keserakahan, atau kedengkian
  8. النُّفُورُ – hati yang terkekang. mengacu pada keadaan ketika hati seseorang dipenuhi oleh perasaan tidak suka, kebencian, atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang. Kekangan hati ini dapat mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain dan bahkan dengan diri sendiri. Kekangan hati dapat menghalangi rasa kasih sayang, keramahan, dan kemurahan hati yang seharusnya ada dalam hati seseorang.
  9. الِاشْمِئْزَازُ – tidak senang atau tidak rela. Istilah ini merujuk pada perasaan tidak nyaman, tidak suka, atau jijik terhadap sesuatu atau seseorang. Ketika hati seseorang dipenuhi dengan perasaan ini, hal itu dapat mempengaruhi interaksi dan hubungan dengan orang lain.
  10. الْإِنْكَارُ – menyangkal atau menolak. Istilah ini merujuk pada sikap atau tindakan menolak, tidak mengakui, atau menyangkal sesuatu yang seharusnya diakui atau diterima.
  11. الشُّكُوكُ – Keragu-raguan.  Ini merujuk pada keadaan pikiran atau perasaan yang tidak yakin atau tidak percaya terhadap suatu hal.
  12. الْعَمَى – buta. Merujuk pada kebutaan hati. Ini menggambarkan ketidakmampuan seseorang untuk melihat atau memahami kebenaran agama, petunjuk Allah.
  13. الْإِبْعَادُ بِصِيغَةِ اللَّعْنِ – menjauhkan diri dari orang lain dengan mengutuk atau melaknat mereka. Ini mencerminkan sikap permusuhan, kebencian, dan keengganan untuk berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang tersebut.
  14. التَّأَبِّي – teguh dalam kekeliruan. keteguhan hati seseorang dalam mempertahankan atau mempertahankan penyakit hati atau kebiasaan buruk mereka. Ini menggambarkan sikap keras kepala atau ketidakterimaan seseorang untuk mengubah atau meninggalkan perilaku yang melanggar ajaran agama 
  15. الْحَمِيَّةُ – dapat merujuk pada kebencian atau permusuhan yang mendalam terhadap orang lain atau sesuatu yang dapat mengganggu hubungan yang seharusnya harmonis dan penuh kasih sayang antara sesama manusia. Ini meliputi rasa benci, dendam, atau sikap negatif yang melampaui batas dan menghalangi terciptanya kedamaian, saling pengertian, 
  16. الْبَغْضَاءُ – perasaan benci, kebencian, atau permusuhan yang mendalam terhadap seseorang atau sesuatu. mengacu pada keadaan hati yang dipenuhi dengan perasaan benci atau kebencian yang tidak sehat. Ini melibatkan sikap permusuhan yang merusak hubungan antar individu dan dapat mengganggu keseimbangan emosional serta kehidupan sosial. 
  17. الْغَفْلَةُ – keadaan lalai, tidak sadar, atau tidak memperhatikan dengan baik. 
  18. الْغَمْزَةُ – merendahkan, mencela, atau mencemooh. merujuk pada sikap iri hati, dengki, atau ketidakpuasan terhadap kesuksesan atau keberhasilan orang lain.
  19. اللَّهْوُ – sering kali digunakan untuk menggambarkan perilaku yang tidak produktif, sia-sia, atau menjauhkan seseorang dari tujuan hidup yang sebenarnya. Ini dapat mencakup aktivitas yang tidak bermanfaat, terlalu banyak menghabiskan waktu dalam hal-hal yang tidak penting, atau mengalihkan perhatian dari hal-hal yang lebih penting dan bernilai.
  20. الِارْتِيَابُ – terkait dengan keadaan hati yang tidak stabil, keragu-raguan dalam iman, atau ketidakpastian dalam keyakinan seseorang. Ini dapat mengacu pada perasaan kebingungan atau keraguan terhadap ajaran agama, konflik batin, atau keraguan yang muncul dalam hubungan dengan Allah 
  21. النِّفَاقُ – Kemunafikan. Ini mengacu pada tindakan atau sikap seseorang yang secara pura-pura menunjukkan keimanan atau kebaikan di depan orang lain, tetapi sebenarnya ia tidak meyakini atau tidak konsisten dengan prinsip-prinsip tersebut di dalam hatinya.

وَظَاهِرُ آيَاتِ الْقُرْآنِ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذِهِ الْأَمْرَاضَ مَعَانٍ تَحْصُلُ فِي الْقَلْبِ فَتَغْلِبُ عَلَيْهِ، وَلِلْقَلْبِ أَمْرَاضٌ غَيْرُ هَذِهِ مِنَ الْغِلِّ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، ذَكَرَهَا اللَّهُ تَعَالَى مُضَافَةً إِلَى جُمْلَةِ الْكُفَّارِ.

Secara zhahir ayat-ayat Al Quran menunjukkan bahwa penyakit-penyakit ini terjadi di qalbu dan mempengaruhinya, Dan dalam hati juga terdapat penyakit-penyakit lainnya seperti iri hati, kebencian, dan hasad (iri dengki). Allah Ta’ala menyandarkannya kepada penyebutan orang-orang kafir.

وَالزِّيَادَةُ تَجَاوُزُ الْمِقْدَارِ الْمَعْلُومِ، وَعِلْمُ اللَّهِ محيط بما أضمروه من سُوءِ الِاعْتِقَادِ وَالْبُغْضِ وَالْمُخَادَعَةِ، فَهُوَ مَعْلُومٌ عِنْدَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى:

Ziyadah adalah penambahan melebihi kadar yang diketahui, pengetahuan Allah Ta’ala meliputi apa-apa yang mereka sembunyikan, termasuk dalam perkara akidah yang keliru, kebencian dan tipu muslihat, hal-hal tersebut Allah Ta’ala ketahui, sebagaimana FirmanNya :

 وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدارٍ

Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (Surah ar Ra’du ayat 8)

Allahu Ta’ala ‘A’lam

Bersambung in sya Allah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.