نصيحة في المحافظة على الصلاة
Nasihat dalam Menjaga Sholat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Nasihat dalam Menjaga Sholat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
مشكلتي أنني غير محافظة على صلاتي بتاتاً، وهذه المشكلة تؤرقني كثيراً، وتتعبني نفسياً، وأنا غير راضية عن نفسي، ولكن ماذا أفعل؟ وكيف أعالج هذه المشكلة؟
Masalah saya adalah saya sama sekali tidak menjaga sholat saya, dan masalah ini sangat mengganggu pikiran saya serta membuat saya lelah secara psikis. Saya tidak ridha dengan diri saya sendiri, namun apa yang harus saya lakukan? Dan bagaimana saya mengobati masalah ini?
حاولت كثيراً، ولكن مع الأسف كأنها أصبحت عادة عندي، مع العلم أنني أحب ديني، وأقرأ كثيراً عن كتب الدين، ولا تستهويني الكتب غير الدينية. ماذا أفعل -أثابكم الله-؟ أريد الحل سريعاً؛ لأنني بالفعل تعبت كثيراً.
Saya sudah mencoba berkali-kali, namun sayangnya seolah-olah ini sudah menjadi kebiasaan saya, padahal saya mencintai agama saya dan banyak membaca buku-buku agama, bahkan buku non-agama tidak menarik bagi saya. Apa yang harus saya lakukan —semoga Allah membalas Anda—? Saya ingin solusi cepat karena saya benar-benar sudah merasa sangat lelah.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فلا شك أن الله سبحانه وتعالى قد خلقنا من أجل العبادة، قال تعالى:
Maka tidak diragukan lagi bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah menciptakan kita demi ibadah. Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات: ٥٦]
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Adz-Dzariyat: 56]
والصلاة من أعظم العبادات، ومن أجَلِّ شعائر الإسلام، قال تعالى:
Dan sholat termasuk ibadah yang paling agung, serta di antara syiar Islam yang paling mulia. Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ [البينة: ٥]
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]
كما أن الصلاة عماد الدين، وهي الفارقة بين الكفر والإيمان، كما قال الرسول -صلى الله عليه وسلم-: بين الرجل وبين الكفر -أو الشرك- ترك الصلاة.
Demikian pula sholat adalah tiang agama, dan ia adalah pembeda antara kekafiran dan keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Batas antara seseorang dengan kekafiran —atau kesyirikan— adalah meninggalkan sholat.”
أخرجه مسلم، وأبو داود، والترمذي وصححه، والنسائي، وابن ماجه، وابن حبان، والحاكم وصححه، وابن أبي شيبة.
Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ia menshahihkannya, serta Ibnu Abi Syaibah.
وقال عمر بن الخطاب -رضي الله عنه-: لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة.
Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.”
وقال عبد الله بن شقيق: كان أصحاب رسول الله لا يرون من الأعمال شيئاً تركه كفر إلا الصلاة.
Dan Abdullah bin Shaqiq berkata: “Dahulu para shohabah Rasulullah tidak melihat suatu amal pun yang jika ditinggalkan berakibat kekafiran melainkan sholat.”
هذا الحكم بالنسبة لمن يتركها، ولا يؤديها، أما من يؤديها، لكن يتكاسل في أدائها، ويؤخرها عن وقتها، فقد توعده الله بالويل فقال:
Hukum ini berlaku bagi mereka yang meninggalkannya sama sekali. Adapun bagi mereka yang melaksanakannya namun bermalas-malasan dalam menunaikannya dan menundanya dari waktunya, maka Allah telah mengancamnya dengan Al-Wayl. Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [الماعون: ٤-٥]
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” [Al-Ma’un: 4-5]
والويل هو واد في جهنم، نسأل الله العافية. وكيف لا يحافظ المسلم على أداء الصلاة، وقد أمرنا الله بذلك، فقال:
Dan Al-Wayl adalah sebuah lembah di neraka Jahanam, kita memohon keselamatan kepada Allah. Bagaimana mungkin seorang muslim tidak menjaga pelaksanaan sholat, padahal Allah telah memerintahkan kita untuk itu. Allah berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ [البقرة: ٢٣٨]
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [Al-Baqarah: 238]
وقال الرسول -صلى الله عليه وسلم-: خمس صلوات كتبهن الله على العباد، فمن جاء بهن، ولم يضيع منهن شيئاً، استخفافاً بحقهن؛ كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lima sholat yang Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Barangsiapa melaksanakannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan hak-haknya, maka ia memiliki perjanjian di sisi Allah bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”
ومن لم يأت بهن؛ فليس له عند الله عهد، إن شاء عذبه، وإن شاء أدخله الجنة. رواه أبو داود، والنسائي، وابن ماجه، وغيرهم.
“Dan barangsiapa yang tidak melaksanakannya, maka tidak ada perjanjian baginya di sisi Allah. Jika Dia berkehendak niscaya Dia akan mengazabnya, dan jika Dia berkehendak niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan selainnya).
فمن حافظ على الصلاة؛ كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة، ومن لم يحافظ عليها؛ ليس له عند الله عهد. فأي مصيبة أعظم من عدم المحافظة على الصلاة!
Barangsiapa yang menjaga sholat, maka ia memiliki perjanjian di sisi Allah untuk masuk surga. Dan barangsiapa tidak menjaganya, maka tidak ada perjanjian baginya di sisi Allah. Maka musibah mana yang lebih besar daripada tidak menjaga sholat!
ثم يقال للأخت السائلة: لم لا تصلين؟ ألا تخافين من الله؟ ألا تخشين الموت؟ أما تعلمين أن أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة.
Kemudian dikatakan kepada saudari penanya: Mengapa engkau tidak sholat? Tidakkah engkau takut kepada Allah? Tidakkah engkau khawatir akan kematian? Tidakkah engkau tahu bahwa hal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat?
كما قال الرسول -صلى الله عليه وسلم-: أول ما يحاسب عليه العبد الصلاة، فإن صلحت؛ فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت؛ فقد خاب وخسر. رواه الترمذي وحسنه، والنسائي، وأبو داود.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hal pertama yang dihisab dari seorang hamba adalah sholat. Jika sholatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Dan jika sholatnya rusak, maka sungguh ia telah merugi dan kecewa.” (HR. Tirmidzi dan ia menghasankannya, An-Nasa’i, dan Abu Dawud).
وماذا يكون جوابك لربك حين يسألك عن الصلاة؟ ألا تعرفين أن النبي -صلى الله عليه وسلم- يعرف أمته يوم القيامة بالغرة والتحجيل من أثر الوضوء.
Dan apa yang akan menjadi jawabanmu kepada Tuhanmu ketika Dia bertanya kepadamu tentang sholat? Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenali umatnya pada hari kiamat melalui cahaya di wajah (ghurrah) dan cahaya di tangan serta kaki (tahjil) dari bekas wudhu.
فقد قال -صلى الله عليه وسلم-: إن أمتي يدعون يوم القيامة غراً محجلين من أثر الوضوء. رواه البخاري ومسلم.
Maka sungguh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajah, tangan, dan kakinya karena bekas wudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
والغرة: بياض الوجه، والتحجيل: بياض في اليدين والرجلين. كيف بالمرء حينما يأتي يوم القيامة وليس عنده هذه العلامة، وهي من خصائص الأمة المحمدية.
Ghurrah adalah putihnya wajah, dan Tahjil adalah putihnya tangan dan kaki. Bagaimana keadaan seseorang ketika datang di hari kiamat namun tidak memiliki tanda ini, padahal ini adalah kekhususan umat Muhammad.
بل لقد وصف الله أتباع النبي -صلى الله عليه وسلم- بأنهم:
Bahkan Allah menyifatkan para pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka:
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ [الفتح: ٢٩]
“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” [Al-Fath: 29]
بل إن الصلاة راحة، وطمأنينة للنفس والقلب، وقد قال فيها الرسول -صلى الله عليه وسلم- لبلال: أرحنا بها يا بلال.
Bahkan sesungguhnya sholat adalah kenyamanan dan ketenteraman bagi jiwa dan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada Bilal: “Berikanlah kami istirahat dengan sholat itu, wahai Bilal.”
وقد أرشدنا النبي -صلى الله عليه وسلم- عندما تحدق بنا المصائب، وتدلهم بنا الخطوب والأحزان أن نفزع إلى الصلاة.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing kita ketika musibah mengepung dan kesulitan serta kesedihan melanda agar kita bersegera menuju sholat.
كان النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا حزبه أمر فزع إلى الصلاة. رواه أحمد وأبو داود. حزَبه أي: أَهَمَّه.
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila suatu urusan menyusahkannya (hazabahu), beliau segera melakukan sholat. (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Hazabahu artinya: menyusahkannya (membuatnya gundah).
وقد أمرنا الله بالاستعانة بالصلاة، فكيف يتركها بعض الناس، وقد قال تعالى:
Dan Allah telah memerintahkan kita untuk memohon pertolongan dengan sholat, maka bagaimana mungkin sebagian orang meninggalkannya? Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [البقرة: ١٥٣]
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah: 153]
فنصيحتنا للسائلة: أن تتقي الله، وأن تخاف منه حق الخوف، وأن تراجع نفسها، حيث إنها تقول: إني أحب ديني، وأقرأ كثيراً عن كتب الدين.
Nasihat kami bagi penanya: Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takut, dan mengoreksi diri, karena engkau mengatakan: “Sesungguhnya aku mencintai agamaku dan banyak membaca buku agama.”
فإذا كنت حقاً تحبين دينك، فعليك بطاعة الله، والمحافظة على الصلوات في أوقاتها، لأن المحبة ليست مجرد دعوى، بل لابد من الامتثال:
Jika engkau benar-benar mencintai agamamu, maka wajib bagimu untuk taat kepada Allah dan menjaga sholat pada waktunya. Sebab cinta bukanlah sekadar klaim, melainkan harus dengan kepatuhan:
لو كان حبك صادقاً لأطعته # إن المحب لمن يحب مطيع
Seandainya cintamu jujur niscaya engkau akan menaati-Nya # Karena sesungguhnya orang yang mencintai akan patuh kepada yang dicintainya
فلا تستقيم دعوى المحبة مع عدم الامتثال، ثم إن المحافظة على الصلاة نور يتزود به المرء في طريقه، وكيف يرضى المرء أن يكون الناس لهم زاد، وهو بغير زاد.
Maka klaim cinta tidaklah sejalan dengan ketidakpatuhan. Kemudian menjaga sholat adalah cahaya yang menjadi bekal seseorang dalam perjalanannya. Bagaimana mungkin seseorang ridha orang lain memiliki bekal, sedangkan ia tanpa bekal?
وكما هو معلوم، فالصلاة من أركان الإسلام الخمسة: بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت لمن استطاع إليه سبيلاً. رواه البخاري ومسلم.
Dan sebagaimana yang diketahui, sholat adalah bagian dari rukun Islam yang lima: “Islam dibangun di atas lima perkara: Kesaksian bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu menempuh perjalanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
فعليك أيها السائلة: أن تتخلصي من عادة ترك الصلاة، والتوبة الصادقة النصوح، وأن لا تيأسي من رحمة الله، وأن ترافقي الصالحات؛ لكي يعنك على الخير، ويبعدنك عن الشر.
Maka wajib bagimu wahai penanya: Untuk membuang kebiasaan meninggalkan sholat, bertaubat dengan taubat nasuha yang tulus, jangan berputus asa dari rahmat Allah, dan bertemanlah dengan wanita-wanita shalihah agar mereka membantumu dalam kebaikan dan menjauhkanmu dari keburukan.
وعليك بحضور دروس العلم والمواعظ في بيوت الله؛ حتى يخشع قلبك، وستجدين السعادة الحقيقية – إن شاء الله- في أداء الصلاة بطمأنينة وخشوع في أوقاتها؛ لتكوني من الذين قال الله فيهم:
Dan hendaknya engkau menghadiri majelis ilmu dan nasihat di rumah-rumah Allah agar hatimu khusyuk. Engkau akan mendapati kebahagiaan hakiki —insya Allah— dalam melaksanakan sholat dengan ketenangan dan khusyuk pada waktunya, agar engkau termasuk orang-orang yang Allah firmankan mengenai mereka:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [المؤمنون: ١-٢]
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” [Al-Mu’minun: 1-2]
وعليك بالابتعاد عن كل ما يشغلك، ويلهيك عن الصلاة، وعليك بدعاء رب العالمين بصدق أن يوفقك للمحافظة، والمداومة على الصلاة في أوقاتها.
Dan hendaknya engkau menjauh dari segala hal yang menyibukkan dan melalaikanmu dari sholat. Berdoalah kepada Rabbul ‘alamin dengan jujur agar Dia memberikan taufik kepadamu untuk menjaga dan mendawamkan sholat pada waktunya.
فهذا هو الحل السريع الذي تسألين عنه، ويتلخص فيما يلي:
Inilah solusi cepat yang engkau tanyakan, yang terangkum dalam poin berikut:
1 – البحث عن تقويم يعرفك بأوقات الصلاة بدقة، وأوقات الأذان فوراً.
1 – Mencari jadwal (kalender/aplikasi) yang memberitahukanmu waktu sholat dengan akurat dan segera saat adzan berkumandang.
2 – عند سماع الأذان تتركين كل الأشغال والأعمال، وتتفرغين للصلاة، ولن تأخذ منك هي وما تتطلبه من طهارة إلا وقتاً يسيراً.
2 – Saat mendengar adzan, engkau tinggalkan segala kesibukan dan pekerjaan, lalu fokuslah untuk sholat. Hal itu dan apa yang dibutuhkannya berupa thoharoh (bersuci) tidaklah menyita waktumu kecuali sebentar saja.
3 – مصاحبة امرأة صالحة تعينك على ذلك، وتتعاهدان معاً على طاعة الله.
3 – Berteman dengan wanita shalihah yang membantumu dalam hal itu, dan kalian saling berjanji bersama untuk taat kepada Allah.
4 – حضور دروس العلم الشرعي -إن وجدت-، أو قراءة سير السلف الصالح، والعلماء العاملين.
4 – Menghadiri majelis ilmu syar’i —jika ada— atau membaca sirah Salafush Shalih dan ulama-ulama yang mengamalkan ilmunya.
5 – عليك بالإكثار من قراءة القرآن، ومن ذكر الله، والصلاة على النبي -صلى الله عليه وسلم-، والاستغفار، والدعاء أن يشرح الله صدرك للصلاة.
5 – Hendaknya engkau memperbanyak membaca Al-Quran, dzikrullah, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, istighfar, dan berdoa agar Allah melapangkan dadamu untuk sholat.
أسأل الله تعالى أن يوفقك لطاعته. والله أعلم.
Saya memohon kepada Allah Ta‘ala agar memberikan taufik kepadamu untuk taat kepada-Nya. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply