هل الذكر أفضل أم الدعاء ؟
Apakah Dzikir Lebih Utama daripada Doa?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Apakah Dzikir Lebih Utama daripada Doa? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
يقول رب العِزة في الحديث القدسي :”من شغله ذِكري عن مسألتي أعطيته أفضل مما أعطي السائلين”، قاصداً القرآن الكريم، فهل ذكر الله تعالى بالأدعية المأثورة عن الرسول صلى الله عليه وسلم، وعن الصالحين ، والدعاء بأسماء الله الحسنى غير مرغوب فيه؟ وهل يتعارض الحديث القدسي المذكور مع الآية الكريمة”وقال ربكم ادعوني أستجب لكم”؟ وإذا كنت أقضي حوالي الساعتين في الذكر في الصباح ويؤثر ذلك على قيامي بمهام المنزل-إذا استيقظت متأخرة- فما رأي الدين، جزاكم الله تعالى خيرا.
Rabbul ‘Izzah berfirman dalam hadits qudsi: “Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta,” yang dimaksudkan adalah Al-Quran Al-Karim. Apakah berdzikir kepada Allah Ta‘ala dengan doa-doa yang ma’tsur dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari orang-orang shalih, serta berdoa dengan Asma’ul Husna menjadi tidak disukai? Apakah hadits qudsi tersebut bertentangan dengan ayat yang mulia: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'”? Dan jika saya menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk dzikir di pagi hari dan hal itu memengaruhi pelaksanaan tugas-tugas rumah tangga saya —jika saya bangun terlambat— bagaimanakah pandangan agama? Semoga Allah Ta‘ala membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام on رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فالحديث المذكور رواه الترمذي من حديث أبي سعيد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Maka hadits yang disebutkan tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Abu Sa‘id radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ
“Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Quran dan dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalamullah atas segala perkataan adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya’.” (HR. At-Tirmidzi)
قال الترمذي: هذا حديث حسن غريب. وقال: المباركفوري في شرح الترمذي: قال الحافظ في الفتح بعد ذكر هذا الحديث: رجاله ثقات، إلا عطية العوفي ففيه ضعف. انتهى.
At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan gharib.” Al-Mubarakfuri berkata dalam Syarh At-Tirmidzi: “Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath setelah menyebutkan hadits ini: ‘Para perawinya adalah terpercaya (tsiqat), kecuali ‘Athiyyah al-‘Aufi yang padanya terdapat kelemahan’.” Selesai kutipan.
قلت: وفي سنده محمد بن الحسن بن أبي يزيد الهمداني وهو أيضاً ضعيف. قال الحافظ في التهذيب في ترجمته. قال الذهبي: حسن الترمذي حديثه فلم يحسن. انتهى. والحديث أخرجه أيضاً الدارمي والبيهقي في شعب الإيمان.
Saya katakan: Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin al-Hasan bin Abi Yazid al-Hamdani dan ia juga dha‘if (lemah). Al-Hafizh berkata dalam At-Tahdzib mengenai biografinya: “Adz-Dzahabi berkata: ‘At-Tirmidzi menghasankan hadits-nya padahal ia tidaklah baik (hasan)’.” Selesai kutipan. Hadits ini juga dikeluarkan oleh ad-Darimi dan al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman.
والحديث ورد أيضاً من حديث عمر رضي الله عنه رواه الطبراني قال الحافظ في الفتح: رواه الطبراني بسند لين.
Hadits ini juga datang dari hadits Umar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani. Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad yang lunak (lemah).”
لكن نقل ابن عراق في تنزيه الشريعة عن الحافظ ابن حجر قوله في أماليه: هذا حديث حسن أخرجه البخاري في خلق أفعال العباد، ولم يصب ابن الجوزي في إيراده في الموضوعات.
Akan tetapi, Ibnu ‘Iraq menukil dalam Tanzih asy-Syari‘ah dari Al-Hafizh Ibnu Hajar ucapannya dalam Amali-nya: “Ini adalah hadits hasan yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Khalqu Af‘alil ‘Ibad, dan Ibnu al-Jauzi tidaklah tepat dalam memasukkannya ke dalam kategori hadits-hadits maudhu‘ (palsu).”
وإنما استند إلى ابن حبان في ذكره لصفوان في الضعفاء، ولم يستمر ابن حبان على ذلك بل رجع فذكره في الثقات، وكذا ذكره في الثقات ابن شاهين وابن خلفون وقال ابن خلفون: إن ابن معين وثقه.
Beliau (Ibnu al-Jauzi) hanyalah bersandar pada Ibnu Hibban yang menyebutkan Shafwan dalam daftar perawi lemah, padahal Ibnu Hibban tidak terus-menerus pada pendapat itu melainkan beliau meralatnya dan menyebutkannya dalam daftar perawi terpercaya. Demikian pula ia disebutkan dalam daftar perawi terpercaya oleh Ibnu Syahin dan Ibnu Khalfuun, dan Ibnu Khalfuun berkata: “Sesungguhnya Ibnu Ma‘in telah menshahihkannya.”
وذكره البخاري في التاريخ فلم يحك فيه جرحاً، وقد ورد الحديث أيضاً من حديث أبي سعيد الخدري أخرجه الترمذي وحسنه، ومن حديث جابر أخرجه البيهقي في الشعب. والحاصل أن الحديث مختلف في تضعيفه وتحسينه.
Al-Bukhari menyebutkannya dalam At-Tarikh dan tidak menyebutkan celaan (jarh) padanya. Hadits ini juga telah datang dari hadits Abu Sa‘id al-Khudri yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan ia menghasankannya, serta dari hadits Jabir yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam asy-Syu‘ab. Kesimpulannya, hadits ini diperselisihkan antara yang mendha’ifkan dan yang menghasankannya.
وقد ثبت في الكتاب والسنة الترغيب في الدعاء والأمر به، بل جاء عند أحمد بسند لا بأس به:
Dan telah tetap dalam Al-Kitab dan As-Sunnah anjuran untuk berdoa dan perintah melakukannya, bahkan disebutkan dalam riwayat Ahmad dengan sanad yang tidak mengapa:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, niscaya Allah murka kepadanya.” (HR. Ahmad)
ولهذا استشكل بعض أهل العلم هذا الحديث القدسي ورأوا أن في ظاهره معارضة لذلك. قال الزرقاني في شرح الموطأ: واستُشكل حديث ” من شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين” المقتضي لفضل ترك الدعاء حينئذ، مع الآية المقتضية للوعيد الشديد على تركه.
Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu merasa musykil dengan hadits qudsi ini dan melihat bahwa secara lahiriyah terdapat pertentangan dengan hal tersebut. Az-Zarqani berkata dalam Syarh Al-Muwaththa’: “Dan dianggap musykil hadits ‘Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku…’ yang menuntut keutamaan meninggalkan doa pada saat itu, sementara ada ayat yang menuntut ancaman keras bagi orang yang meninggalkannya.”
[يعني قوله تعالى: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ) [غافر:60] وأجيب بأن العقل إذا استغرق في الثناء كان أفضل من الدعاء، لأن الدعاء طلب الجنة، والاستغراق في معرفة جلال الله أفضل من الجنة.
[Yaitu firman-Nya Ta‘ala: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (Ghafir: 60)]. Dijawab bahwasanya akal jika telah tenggelam dalam pujian (tsana’) maka hal itu lebih utama daripada doa, karena doa adalah permohonan surga, sementara tenggelam dalam makrifat keagungan Allah itu lebih utama daripada surga.
أما إذا لم يحصل الاستغراق فالدعاء أولى لاشتماله على معرفة الربوية وذل العبودية، والصحيH استحباب الدعاء. انتهى. والتحقيق أنه لا تعارض، فإن الدعاء نوعان: دعاء الثناء ودعاء الطلب.
Adapun jika tidak tercapai ketenggelaman tersebut, maka doa lebih utama karena mencakup makrifat tentang rububiyah dan kerendahan ‘ubudiyah, dan yang benar adalah disukainya doa. Selesai kutipan. Dan yang tahqiq (benar) adalah tidak ada pertentangan, karena doa itu ada dua macam: doa ats-tsana’ (pujian) dan doa ath-thalab (permohonan).
فذكر الله تعالى والثناء عليه دعاء، والمشتغل به محقق لقول الله (ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ) ولهذا جاء في الحديث:
Maka dzikir kepada Allah Ta‘ala dan memuji-Nya adalah doa, dan orang yang sibuk dengannya telah merealisasikan firman Allah “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian”. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits:
أَفْضَلُ الدُّعَاءِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Seutama-utama doa adalah: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.” (HR. At-Tirmidzi)
فسمي هذا الثناء والتوحيد دعاء، وكذلك دعاء الكرب، ودعاء أيوب عليه السلام. وهذا الثناء متضمن لدعاء الطلب. والعبد بحاجة إلى هذين النوعين من الدعاء، والأفضل له أن يجمع بينهما، يبدأ بالثناء ثم يثني بالطلب والسؤال.
Maka pujian dan tauhid ini dinamakan doa, demikian pula doa al-karb (saat kesulitan), dan doa Ayyub ‘alaihis salam. Pujian ini mengandung doa ath-thalab. Seorang hamba membutuhkan kedua jenis doa ini, dan yang paling utama baginya adalah menggabungkan keduanya; memulai dengan pujian kemudian melanjutkannya dengan permohonan dan permintaan.
ولشيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله كلام طويل نافع جداً في الكلام على دعاء الثناء والمسألة، ننقله هنا بلفظه، من دقائق التفسير له، قال رحمه الله: والمقصود هنا أن لفظ الدعوة والدعاء يتناول هذا وهذا قال الله تعالى:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memiliki penjelasan panjang yang sangat bermanfaat mengenai doa ats-tsana’ dan doa al-mas’alah, kami nukilkan di sini dengan lafadznya, dari kitab Daqa’iq at-Tafsir miliknya, beliau berkata: “Dan yang dimaksudkan di sini adalah bahwa lafadz da‘wah dan du‘a’ mencakup hal ini dan hal itu. Allah Ta‘ala berfirman:”
وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [يونس: ١٠]
“Dan penutup doa mereka ialah: ‘Alhamdulillahirabbil ‘alamin’ (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).” [Yunus: 10]
وفي الحديث:
Dan dalam hadits:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Seutama-utama dzikir adalah La ilaha illallah, dan seutama-utama doa adalah Alhamdulillah.” (HR. Ibnu Majah)
وقال النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الذي رواه الترمذي وغيره:
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan selainnya:
دَعْوَةُ أَخِي ذِي النُّونِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ مَا دَعَا بِهَا مَكْرُوبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللَّهُ كُرْبَتَهُ
“Doa saudaraku Dzun Nuun (Nabi Yunus): ‘La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin’. Tidaklah seseorang yang sedang dalam kesempitan berdoa dengannya melainkan Allah akan melapangkan kesempitannya.” (HR. At-Tirmidzi)
سماها دعوة لأنها تتضمن نوعي الدعاء فقوله “لا إله إلا أنت ” اعتراف بتوحيد الإلهية، وتوحيد الإلهية يتضمن أحد نوعي الدعاء فإن الإله هو المستحق لأن يدعى دعاء عبادة ودعاء مسألة وهو الله لا إله إلا هو، وقوله (إني كنت من الظالمين) اعتراف بالذنب، وهو يتضمن طلب المغفرة.
Beliau menamakannya sebagai da‘wah (doa) karena mengandung dua jenis doa. Ucapannya ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau’ adalah pengakuan atas tauhid uluhiyah, dan tauhid uluhiyah mencakup salah satu dari dua jenis doa, karena Tuhan (Al-Ilah) adalah yang berhak untuk diseru dengan doa ‘ibadah dan doa mas’alah, yaitu Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia. Dan ucapannya ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim’ adalah pengakuan atas dosa, dan itu mencakup permohonan ampunan.
فإن الطالب السائل تارة يسأل بصيغة الطلب وتارة يسأل بصيغة الخبر. إما بوصف حاله وإما بوصف حال المسؤول وإما بوصف الحالين كقول نوح عليه السلام:
Sebab pemohon (ats-tha’il) terkadang meminta dengan bentuk permohonan (thalab) dan terkadang meminta dengan bentuk berita (khabar). Adakalanya dengan mensifatkan kondisinya, adakalanya dengan mensifatkan kondisi Dzat yang dimintai, atau dengan mensifatkan kedua kondisi tersebut, seperti perkataan Nuh ‘alaihis salam:
رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ [هود: ٤٧]
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” [Hud: 47]
فهذا ليس صيغة طلب وإنما هو إخبار عن الله أنه إن لم يغفر له ويرحمه خسر، ولكن هذا الخبر يتضمن سؤال المغفرة، وكذلك قول آدم عليه السلام:
Maka ini bukanlah bentuk permohonan (secara langsung), melainkan sebuah berita tentang Allah bahwa jika Dia tidak mengampuninya dan merahmatinya niscaya ia akan merugi, namun berita ini mengandung permohonan ampunan. Demikian pula perkataan Adam ‘alaihis salam:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الأعراف: ٢٣]
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-A‘raf: 23]
هو من هذا الباب ومن ذلك قول موسى عليه السلام:
Ia termasuk dalam bab ini, dan di antaranya pula perkataan Musa ‘alaihis salam:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ [القصص: ٢٤]
“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” [Al-Qashash: 24]
فإن هذا وصف لحاله بأنه فقير إلى ما أنزل الله إليه من الخير، وهو متضمن لسؤال الله إنزال الخير إليه. وقد روى الترمذي وغيره عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال “من شغله قراءة القرآن عن ذكري ومسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين” رواه الترمذي وقال حديث حسن.
Maka ini adalah pensifatan terhadap kondisinya bahwa ia sangat membutuhkan kebaikan yang diturunkan Allah kepadanya, dan ia mengandung permohonan kepada Allah agar menurunkan kebaikan kepadanya. Sungguh At-Tirmidzi dan selainnya telah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa yang disibukkan oleh membaca Al-Quran dari berdzikir kepada-Ku dan meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: “hadits hasan“.
ورواه مالك بن الحويرث وقال من “شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين” وأظن البيهقي رواه مرفوعا بهذا اللفظ. وقد سئل سفيان بن عيينة عن قوله “أفضل الدعاء يوم عرفة لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير” فذكر هذا الحديث.
Dan diriwayatkan oleh Malik bin al-Huwairits dan ia berkata: “Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.” Saya rasa al-Baihaqi meriwayatkannya secara marfu‘ dengan lafadz ini. Sufyan bin ‘Uyaynah pernah ditanya mengenai ucapan: “Seutama-utama doa pada hari ‘Arafah adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir,” maka beliau menyebutkan hadits ini.
وأنشد قول أمية بن أبي الصلت يمدح ابن جدعان: أأذكر حاجتي أم قد كفاني * حياؤك إن شيمتك الحياء إذا أثنى عليك المرء يوما * كفاه من تعرضه الثناء. قال : فهذا مخلوق يخاطب مخلوقا فكيف بالخالق تعالى.
Dan beliau menyenandungkan bait syair Umayyah bin Abi ash-Shalt yang memuji Ibnu Jad‘an: “Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku ataukah rasa malumu telah mencukupiku * Sungguh tabiatmu adalah rasa malu. Jika seseorang memujimu suatu hari * Maka pujian itu telah mencukupinya tanpa perlu ia memaparkan permintaannya.” Beliau berkata: “Ini adalah makhluk yang berbicara kepada makhluk, lantas bagaimanakah dengan Sang Pencipta Ta‘ala?”
ومن هذا الباب الدعاء المأثور عن موسى عليه السلام اللهم لك الحمد وإليك المشتكى وأنت المستعان وبك المستغاث وعليك التكلان، فهذا خبر يتضمن السؤال. ومن هذا الباب قول أيوب عليه السلام:
Dan termasuk dalam bab ini adalah doa yang ma’tsur dari Musa ‘alaihis salam: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji, hanya kepada-Mu tempat mengadu, Engkaulah tempat memohon pertolongan, kepada-Mu memohon bantuan, dan hanya kepada-Mu berserah diri.” Ini adalah berita yang mengandung permohonan. Termasuk dalam bab ini pula perkataan Ayyub ‘alaihis salam:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ [الأنبياء: ٨٣]
“(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” [Al-Anbiya: 83]
فوصف نفسه ووصف ربه بوصف يتضمن سؤال رحمته بكشف ضره ، وهي صيغة خبر تضمنت السؤال ، وهذا من باب حسن الأدب في السؤال والدعاء.
Maka ia mensifatkan dirinya dan mensifatkan Tuhannya dengan sifat yang mengandung permohonan rahmat-Nya dengan menghilangkan mudaratnya. Ini adalah bentuk berita yang mengandung permohonan, dan ini termasuk dalam bab husnul adab (adab yang baik) dalam meminta dan berdoa.
فقول القائل لمن يعظمه ويرغب إليه: أنا جائع أنا مريض، حسن أدب في السؤال، وإن كان في قوله أطعمني وداوني ونحو ذلك مما هو بصيغة الطلب، طلب جازم من المسؤول فذاك فيه إظهار حاله وإخباره على وجه الذل والافتقار المتضمن لسؤال الحال.
Maka perkataan seseorang kepada pihak yang diagungkannya dan diharapkannya: “Saya lapar, saya sakit,” merupakan adab yang baik dalam meminta. Meskipun ucapannya “Berilah aku makan, obatilah aku,” dan semisalnya yang berbentuk permohonan (thalab) adalah permintaan yang tegas kepada yang dimintai, namun yang tadi itu terdapat penampakan kondisinya dan pemberitahuannya dalam bentuk kerendahan dan kebutuhan yang mengandung permohonan atas kondisi tersebut.
وهذا فيه الرغبة التامة والسؤال المحض بصيغة الطلب … ووصف الحاجة والافتقار هو سؤال بالحال وهو أبلغ من جهة العلم والبيان، وذلك أظهر من جهة القصد والإرادة.
Dan ini di dalamnya terdapat harapan yang sempurna serta permintaan murni dengan bentuk permohonan… Sementara mensifatkan kebutuhan dan kefakiran adalah permohonan melalui kondisi (su’al bil hal) yang lebih mendalam dari sisi ilmu dan penjelasan, dan hal itu lebih tampak dari sisi maksud dan keinginan.
فلهذا كان غالب الدعاء من القسم الثاني لأن الطالب السائل يتصور مقصوده ومراده فيطلبه ويسأله فهو سؤال بالمطابقة والقصد الأول وتصريح به باللفظ وإن لم يكن فيه وصف لحال السائل والمسؤول.
Oleh karena itu, mayoritas doa berasal dari bagian kedua karena pemohon membayangkan maksud dan keinginannya lalu ia memintanya dan memohonkannya; maka itu adalah permohonan yang sesuai (muthabaqah), maksud utama, dan penegasan dengannya melalui lafadz meskipun di dalamnya tidak ada pensifatan kondisi pemohon maupun yang dimintai.
فإن تضمن وصف حالهما كان أكمل من النوعين فإنه يتضمن الخبر والعلم المقتضي للسؤال والإجابة، ويتضمن القصد والطلب الذي هو نفس السؤال فيتضمن السؤال والمقتضي له والإجابة كقول النبي صلى الله عليه وسلم لأبي بكر الصديق رضي الله تعالى عنه لما قال له علمني دعاء أدعو به في صلاتي فقال:
Maka jika mengandung pensifatan kondisi keduanya, hal itu menjadi lebih sempurna dari kedua jenis tersebut, karena ia mengandung berita dan ilmu yang menuntut adanya permintaan serta pengabulan, dan mengandung maksud serta permohonan yang merupakan inti dari permintaan itu sendiri; sehingga ia menghimpun antara permintaan, tuntutannya, dan pengabulannya, seperti perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berkata: “Ajarkanlah kepadaku doa yang aku panjatkan dalam sholat-ku,” lalu beliau bersabda:
قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
فهذا فيه وصف العبد لحال نفسه المقتضي حاجته إلى المغفرة، وفيه وصف ربه الذي يوجب أنه لا يقدر على هذا المطلوب غيره وفيه التصريح بسؤال العبد لمطلوبه وفيه بيان المقتضي للإجابة وهو وصف الرب بالمغفرة والرحمة فهذا ونحوه أكمل أنواع الطلب.
Maka dalam hal ini terdapat pensifatan hamba terhadap kondisi dirinya yang menuntut kebutuhannya akan ampunan, di dalamnya terdapat pensifatan Tuhannya yang mewajibkan bahwa tidak ada yang mampu atas permohonan ini selain-Nya, di dalamnya terdapat penegasan dengan permintaan hamba atas apa yang diinginkannya, dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang tuntutan pengabulan yaitu pensifatan Rabb dengan ampunan dan rahmat. Maka ini dan yang semisalnya adalah jenis permohonan yang paling sempurna.
وكثير من الأدعية يتضمن بعض ذلك كقول موسى عليه السلام:
Dan banyak dari doa-doa yang mengandung sebagian dari hal tersebut seperti perkataan Musa ‘alaihis salam:
أَنتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ [الأعراف: ١٥٥]
“Engkaulah Pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” [Al-A‘raf: 155]
فهذا طلب ووصف للمولى بما يقتضي الإجابة وقوله: (رب إني ظلمت نفسي فاغفر لي) فيه وصف حال النفس والطلب، وقوله: (إني لما أنزلت إلي من خير فقير) فيه الوصف المتضمن للسؤال بالحال. فهذه أنواع، لكل نوع منها خاصة.
Maka ini adalah permohonan dan pensifatan bagi Sang Pelindung (Al-Maula) dengan apa yang menuntut pengabulan. Perkataannya: “Tuhanku sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri maka ampunilah aku,” di dalamnya terdapat pensifatan kondisi jiwa dan permohonan. Perkataannya: “Sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,” di dalamnya terdapat pensifatan yang mengandung permohonan melalui kondisi. Ini adalah berbagai macam jenis, yang masing-masing jenis darinya memiliki kekhususan.
بقي أن يقال: فصاحب الحوت ومن أشبهه لماذا ناسب حالهم صيغة الوصف والخبر دون صيغة الطلب؟
Tersisa sebuah pertanyaan: Lantas Shahibul Hut (Nabi Yunus) dan orang-orang yang menyerupainya, mengapa kondisi mereka lebih sesuai dengan bentuk pensifatan dan berita daripada bentuk permohonan?
فيقال: لأن المقام مقام اعتراف بأن ما أصابني من الشر كان بذنبي فأصل الشر هو الذنب، والمقصود دفع الضر والاستغفار جاء بالقصد الثاني.
Maka dikatakan: Karena kedudukannya (maqam) adalah kedudukan pengakuan bahwa apa yang menimpaku berupa keburukan adalah disebabkan dosaku; maka asal keburukan adalah dosa, dan maksud utamanya adalah penolakan mudarat, sementara permohonan ampunan datang sebagai maksud kedua.
فلم يذكر صيغة طلب كشف الضر لاستشعاره أنه مسيء ظالم وهو الذي أدخل الضر على نفسه فناسب حاله أن يذكر ما يرفع سببه من الاعتراف بظلمه.
Maka ia tidak menyebutkan bentuk permohonan penghilangan mudarat karena ia merasa bahwa ia telah berbuat salah dan zhalim, dan dialah yang mendatangkan mudarat bagi dirinya sendiri. Maka kondisinya lebih sesuai untuk menyebutkan apa yang mengangkat penyebabnya berupa pengakuan atas kezhalimannya.
ولم يذكر صيغة طلب المغفرة لأنه مقصود للعبد المكروب بالقصد الثاني بخلاف كشف الكرب، فإنه مقصود له في حال وجوده بالقصدالأول.
Dan ia tidak menyebutkan bentuk permohonan ampunan karena itu menjadi maksud bagi hamba yang sedang dalam kesempitan sebagai maksud kedua, berbeda halnya dengan penghilangan kesempitan yang menjadi maksud baginya saat terjadinya hal itu sebagai maksud pertama.
إذ النفس بطبعها تطلب ما هي محتاجة إليه من زوال الضرر الحاصل من الحال قبل طلبها زوال ما تخاف وجوده من الضرر في المستقبل بالقصد الثاني. والمقصود الأول في هذا المقام هو المغفرة وطلب كشف الضر، فهذا مقدم في قصده وإرادته، وأبلغ ما ينال به رفع سببه فجاء بما يحصل مقصوده. انتهى كلامه رحمه الله.
Sebab jiwa secara tabiatnya meminta apa yang diperlukannya berupa hilangnya mudarat yang terjadi saat ini sebelum ia meminta hilangnya apa yang ditakutkan terjadinya berupa mudarat di masa depan sebagai maksud kedua. Dan maksud utama dalam kedudukan ini adalah ampunan dan permohonan penghilangan mudarat; maka ini didahulukan dalam maksud dan keinginannya, dan merupakan cara paling mendalam untuk meraih pengangkatan penyebabnya, maka ia mendatangkan apa yang mewujudkan maksudnya tersebut. Selesai kutipan perkataan beliau rahimahullah.
فالجمع بين الثناء والدعاء أفضل وأكمل من الاقتصار على الدعاء وحده. وقال ابن القيم رحمه الله في الوابل الصيب: الفصل الثاني: الذكر أفضل من الدعاء، الذكر ثناء على الله عز وجل بجميل أوصافه وآلائه وأسمائه، والدعاء سؤال العبد حاجته فأين هذا من هذا ؟!
Maka menggabungkan antara pujian (tsana’) dan doa adalah lebih utama dan lebih sempurna daripada hanya membatasi pada doa saja. Dan Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam Al-Wabil ash-Shayyib: “Fasal kedua: Dzikir lebih utama daripada doa. Dzikir adalah pujian atas Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat-sifat-Nya yang indah, nikmat-nikmat-Nya, dan nama-nama-Nya, sementara doa adalah permintaan hamba akan kebutuhannya. Lantas di manakah perbandingan antara ini dengan itu?!”
ولهذا جاء في الحديث “من شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين” ولهذا كان المستحب في الدعاء أن يبدأ الداعي بحمد الله تعالى والثناء عليه بين يدي حاجته ثم يسال حاجته كما في حديث فضالة بن عبيد أن رسول الله سمع رجلا يدعو في صلاته لم يحمد الله تعالى ولم يصل على النبي فقال رسول الله: عجل هذا.
“Oleh karena itu disebutkan dalam hadits: ‘Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta’. Maka dari itu disukai dalam doa agar orang yang berdoa memulainya dengan memuji Allah Ta‘ala dan menyanjung-Nya di hadapan kebutuhannya, kemudian baru meminta kebutuhannya. Sebagaimana dalam hadits Fadhalah bin ‘Ubaid bahwasanya Rasulullah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholat-nya namun ia tidak memuji Allah Ta‘ala dan tidak bershalawat kepada Nabi, maka Rasulullah bersabda: ‘Orang ini terburu-buru’.”
ثم دعاه فقال له أو لغيره: إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه عز وجل والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يدعو بعد بما شاء. رواه الامام احمد والترمذي وقال حديث حسن صحيح.
Kemudian beliau memanggilnya lalu bersabda kepadanya atau kepada selainnya: “Jika salah seorang di antara kalian melakukan sholat (berdoa), maka mulailah dengan mengagungkan Tuhannya ‘Azza wa Jalla dan memuji-Nya, kemudian bershalawatlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru kemudian berdoalah setelahnya dengan apa yang dikehendakinya.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “hadits hasan shohih“).
وهكذا دعاء ذي النون عليه السلام قال فيه النبي “دعوة أخي ذي النون ما دعا بها مكروب إلا فرج الله كربته لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين” وفي الترمذي:
Demikian pula doa Dzun Nuun ‘alaihis salam, Nabi bersabda mengenainya: “Doa saudaraku Dzun Nuun, tidaklah seorang yang sedang dalam kesempitan berdoa dengannya melainkan Allah akan melapangkan kesempitannya: La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin.” Dan dalam At-Tirmidzi disebutkan:
دَعْوَةُ أَخِي ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا مُسْلِمٌ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ لَهُ
“Doa saudaraku Dzun Nuun ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus: ‘La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin’. Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR. At-Tirmidzi)
وهكذا عامة الأدعية النبوية على قائلها أفضل الصلاة والسلام، ومنه قوله في دعاء الكرب:
Demikianlah umumnya doa-doa Nabawi —semoga tercurah kepada pengucapnya seutama-utama shalawat dan salam— di antaranya adalah ucapan beliau dalam doa al-karb:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan Arsy yang Agung, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arsy yang Mulia.” (HR. Al-Bukhari)
ومنه حديث بريدة الأسلمي الذي رواه أهل السنن وابن حبان في صحيحه أن رسول الله سمع رجلا يدعو وهو يقول: “اللهم إني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لا اله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد” فقال:
Dan di antaranya pula hadits Buraidah al-Aslami yang diriwayatkan oleh para penulis kitab As-Sunan dan Ibnu Hibban dalam shohih-nya bahwasanya Rasulullah mendengar seorang laki-laki berdoa dengan berucap: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkaulah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau yang Maha Esa, tempat bergantung, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya,” lalu beliau bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung (Ismul A’zham), yang jika seseorang berdoa dengannya niscaya Allah kabulkan, dan jika meminta dengannya niscaya Allah beri.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
وروى أبو داود والنسائي من حديث أنس أنه كان مع النبي جالسا ورجل يصلي ثم دعا اللهم إنى أسالك بأن لك الحمد لا اله إلا أنت المنان بديع السموات والأرض ياذا الجلال والإكرام يا حي ياقيوم فقال النبي صلى الله عليه وسلم:
Dan Abu Dawud serta An-Nasa’i meriwayatkan dari hadits Anas bahwasanya ia sedang duduk bersama Nabi sementara seorang laki-laki sedang sholat kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu karena bagi-Mu-lah segala puji, tidak ada Tuhan selain Engkau yang Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurusi makhluk-Nya,” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
“Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa dengannya niscaya Allah kabulkan, dan jika meminta dengannya niscaya Allah beri.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن الدعاء يستجاب إذا تقدمه هذا الثناء والذكر، وأنه اسم الله الأعظم، فكان ذكر الله عز وجل والثناء عليه أنجح ما طلب به العبد حوائجه، وهذه فائدة أخرى من فوائد الذكر والثناء أنه يجعل الدعاء مستجابا.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa doa akan dikabulkan jika didahului oleh pujian dan dzikir ini, dan bahwa itu adalah Nama Allah yang Paling Agung. Maka dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan memuji-Nya merupakan cara paling sukses bagi seorang hamba untuk memohon kebutuhannya. Dan ini adalah manfaat lain dari manfaat-manfaat dzikir dan pujian, yaitu ia menjadikan doa dikabulkan.
فالدعاء الذي تقدمه الذكر والثناء أفضل وأقرب إلى الإجابة من الدعاء المجرد فإن انضاف إلى ذلك إخبار العبد بحاله ومسكنته وافتقاره واعترافه كان أبلغ في الإجابة وأفضل.
Maka doa yang didahului oleh dzikir dan pujian adalah lebih utama dan lebih dekat kepada pengabulan daripada doa yang murni begitu saja. Jika ditambahkan pula dengan pemberitahuan hamba akan kondisinya, kemiskinannya, kefakirannya, dan pengakuannya, maka hal itu akan lebih mendalam lagi dalam pengabulan dan lebih utama.
فإنه يكون قد توسل المدعو بصفات كماله وإحسانه وفضله، وعرض بل صرح بشدة حاجته وضرورته وفقره ومسكنته فهذا المقتضي منه، وأوصاف المسؤول مقتضي من الله فاجتمع المقتضي من السائل والمقتضي من المسؤول في الدعاء وكان أبلغ وألطف موقعا وأتم معرفة وعبودية.
Karena dengan begitu ia telah bertawasul kepada Dzat yang dimintai melalui sifat-sifat kesempurnaan-Nya, kebaikan-Nya, dan keutamaan-Nya, serta memaparkan bahkan menegaskan betapa besarnya hajat, darurat, kefakiran, dan kemiskinannya. Maka ini merupakan tuntutan darinya, dan sifat-sifat Dzat yang dimintai merupakan tuntutan dari Allah; sehingga berkumpullah tuntutan dari pemohon dan tuntutan dari Dzat yang dimintai dalam doa tersebut, dan hal itu menjadi lebih mendalam, lebih lembut pengaruhnya, serta lebih sempurna secara makrifat dan ‘ubudiyah.
وأنت ترى في المشاهد – ولله المثل الأعلى- أن الرجل إذا توسل إلى من يريد معروفه بكرمه وجوده وبره، وذكر حاجته هو وفقره ومسكنته كان أعطف لقلب المسؤول وأقرب لقضاء حاجته.
Dan Anda dapat melihat dalam kenyataan sehari-hari —dan bagi Allah permisalan yang paling tinggi— bahwa seseorang jika bertawasul kepada pihak yang ia harapkan kebaikannya melalui kedermawanan, kemurahan hati, dan kebajikannya, serta ia menyebutkan kebutuhannya sendiri, kefakirannya, dan kemiskinannya, maka hal itu akan lebih melembutkan hati pihak yang dimintai dan lebih dekat kepada terkabulnya kebutuhannya.
فإذا قال له: أنت جودك قد سارت به الركبان، وفضلك كالشمس لا تنكر، ونحو ذلك وقد بلغت بي الحاجة والضرورة مبلغا لا صبر معه ونحو ذلك، كان أبلغ في قضاء حاجته من أن يقول ابتداء: أعطني كذا وكذا.
Jika ia berkata kepadanya: “Anda adalah orang yang kedermawanannya telah masyhur ke mana-mana, keutamaan Anda bagaikan matahari yang tidak bisa dipungkiri,” dan semisalnya, “Serta sungguh kebutuhan dan kedaruratan telah menimpaku sedemikian rupa sehingga aku tidak mampu bersabar lagi,” dan semisalnya; maka hal itu akan lebih mendalam bagi terkabulnya kebutuhannya daripada jika ia berkata sejak awal: “Berilah aku ini dan itu.”
فإذا عرفت هذا فتأمل قول موسى في دعائه (رب إني لما أنزلت إلي من خير فقير) وقول ذي النون في دعائه (لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين) وقول أبينا آدم (ربنا ظلمنا أنفسنا وان لم تغفر لنا وترحمنا لنكون من الخاسرين).
Jika Anda telah mengetahui hal ini, maka renungkanlah perkataan Musa dalam doa-nya “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,” perkataan Dzun Nuun dalam doa-nya “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim,” dan perkataan bapak kita Adam “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
وفي الصحيحين أن أبا بكر الصديق قال يارسول الله علمني دعاء أدعو به في صلاتي فقال: “قل اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا وإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني إنك أنت الغفور الرحيم”.
Dan dalam ash-shohihain bahwasanya Abu Bakr ash-Shiddiq berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa yang aku panjatkan dalam sholat-ku,” lalu beliau bersabda: “Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, dan sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
فجمع في هذا الدعاء الشريف العظيم القدر بين الاعتراف بحاله والتوسل إلى ربه عز وجl بفضله وجوده وأنه المنفرد بغفران الذنوب ثم سأل حاجته بعد التوسل بالأمرين معا فهكذا أدب الدعاء وآداب العبودية. انتهى كلام ابن القيم رحمه الله.
Maka beliau menghimpun dalam doa yang mulia dan agung kedudukannya ini antara pengakuan akan kondisinya dengan tawasul kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla melalui keutamaan dan kedermawanan-Nya serta bahwa Dia satu-satunya Dzat yang mengampuni dosa-dosa; baru kemudian ia memohon kebutuhannya setelah bertawasul dengan kedua perkara tersebut sekaligus. Demikianlah adab doa dan adab-adab ‘ubudiyah. Selesai kutipan perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah.
وينبغي أن توازني بين محافظتك على الذكر، وبين قيامك بمهام البيت، والقصد القصد تبلغوا.
Hendaklah Anda menyeimbangkan antara penjagaan Anda terhadap dzikir dengan pelaksanaan tugas-tugas rumah tangga Anda. Bersikaplah moderat (pertengahan), niscaya kalian akan sampai (pada tujuan).
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply