Hukum-hukum Terkait Istri dari Orang yang Ghaib dan Mafqud



أحكام تتعلق بزوجة الغائب والمفقود

Hukum-hukum Terkait Istri dari Orang yang Ghaib dan Mafqud

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum-hukum Terkait Istri dari Orang yang Ghaib dan Mafqud ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم تحية طيبة وبعد : رجل تزوج قبل 3 سنوات وبعد شهر من الزواج سافرإلى أمريكا اللاتينية وانقطعت أخباره طول هذه المدة ويئس الأهل من رجوعه ومن المتوقع أنه مات ولكن الشيء الذي حدث أن أخ المفقود قد تزوج امرأة المفقود فهل يصح في الإسلام مثل هذا الزواج ؟

Assalamu’alaikum, salam sejahtera. Seorang laki-laki menikah 3 tahun yang lalu, dan sebulan setelah pernikahan ia pergi ke Amerika Latin. Beritanya terputus sepanjang kurun waktu tersebut hingga pihak keluarga berputus asa akan kepulangannya dan diduga ia telah meninggal dunia. Namun, hal yang terjadi adalah saudara laki-laki dari orang yang hilang tersebut telah menikahi istri dari orang yang hilang itu. Apakah sah dalam Islam pernikahan semacam ini?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإذا غاب الرجل من امرأته لم يخل من حالين : أحدهما : أن تكون غيبته غيبة غير منقطعة ، يعرف خبره ، ويمكن الاتصال به ، فهذا ليس لامرأته أن تتزوج بإجماع أهل العلم ، إلا أن يتعذر الإنفاق عليها من ماله فلها أن تطلب من القاضي فسخ النكاح ، فيفسخ نكاحه.

Jika seorang laki-laki ghaib (absen) dari istrinya, maka tidak lepas dari dua keadaan: Pertama: Kepergiannya bukanlah kepergian yang terputus komunikasinya, beritanya diketahui, dan memungkinkan untuk dihubungi. Dalam kondisi ini, sang istri tidak boleh menikah lagi berdasarkan ijma’ ahli ilmu, kecuali jika tidak memungkinkan lagi pemberian nafkah kepadanya dari harta suaminya, maka ia boleh meminta kepada hakim untuk memfasakh nikah, lalu nikahnya pun difasakh.

الحال الثاني : أن يفقد وينقطع خبره ، ولا يعلم له موضع ، فهل لزوجته أن تتزوج من غيره ؟ اختلف أهل العلم في ذلك على أقوال:

Keadaan kedua: Ia hilang (mafqud) dan beritanya terputus, serta tidak diketahui keberadaannya. Apakah istrinya boleh menikah dengan orang lain? Ahli ilmu berbeda pendapat dalam hal ini menjadi beberapa pendapat:

١ – مذهب الحنفية والشافعية وهو القول الجديد للشافعي : أن امرأة المفقود لا تتزوج حتى يتبين موته أو فراقه لها ، وحجتهم من ذلك ما روى المغيرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “امرأة المفقود امرأته حتى يأتي زوجها “. وروى الحاكم وحماد عن علي : ” لا تتزوج امرأة المفقود حتى يأتي موته أو طلاقه “.

1. Madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah —dan ini merupakan qaul jadid (pendapat baru) asy-Syafi’i—: Bahwa istri dari orang yang mafqud tidak boleh menikah sampai jelas kematiannya atau perceraiannya. Hujjah mereka dalam hal ini adalah apa yang diriwayatkan al-Mughirah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Istri orang yang mafqud adalah tetap istrinya sampai suaminya datang.” Al-Hakim dan Hammad meriwayatkan dari ‘Ali: “Istri orang yang mafqud tidak boleh menikah sampai datang (berita) kematiannya atau thalaqnya.”

٢ – مذهب الحنابلة : والمعتمد عندهم التفصيل في غيبته : 

2. Madzhab Hanabilah: Pendapat yang mu’tamad (pegangan) di sisi mereka adalah dengan rincian pada kepergiannya:

أ – فإن كانت غيبته ظاهرها الهلاك كالذي يفقد بين أهله ليلاً أو نهاراً ، أو يخرج إلى الصلاة فلا يرجع أو يمضي إلى مكان قريب ليقضي حاجته ويرجع ، فلا يظهر له خبر ، أو يفقد بين الصفين في القتال ، أو ينكسر بهم مركب بحري فيغرق بعض رفقته ، أو يفقد في مهلكة كبرية موحشة ، فتتربص زوجته أربع سنين ، ثم تعتد عدة الوفاة أربعة أشهر وعشراً ، وتحل بعدها للأزواج ، 

(a) Jika kepergiannya secara lahiriah diduga kuat membawa binasa (halak), seperti orang yang hilang di tengah keluarganya pada malam atau siang hari, atau keluar untuk shalat lalu tidak kembali, atau pergi ke tempat dekat untuk suatu keperluan lalu tidak kembali dan tidak ada beritanya, atau hilang di antara dua barisan pasukan dalam peperangan, atau kapalnya karam sehingga sebagian rekannya tenggelam, atau hilang di padang pasir yang luas dan mengerikan; maka istrinya menunggu (tarabbush) selama empat tahun, kemudian beriddah dengan iddah wafat selama empat bulan sepuluh hari, dan setelah itu ia halal bagi laki-laki lain.

ولا يتوقف ذلك على حكم حاكم ولا إلى طلاق ولي زوجها ، بل متى مضت المدة والعدة حلت للأزواج .

Hal ini tidak bergantung pada ketetapan hakim maupun thalaq dari wali suaminya, melainkan kapan saja masa tunggu dan iddah tersebut selesai, maka ia halal menikah lagi.

ومستندهم في ذلك ما روي عن عمر رضي الله عنه ، أنه جاءته امرأة فقد زوجها ، فقال: تربصي أربع سنين ، ففعلت ، ثم أتته فقال : تربصي أربعة أشهر وعشراً ، ففعلت ، ثم أتته فقال : أين ولي هذا الرجل؟ فجاؤوا به ، فقال: طلقها ، ففعل ، فقال عمر: تزوجي من شئت . رواه الأثرم والجوزجاني والدارقطني . ويروى هذا أيضاً عن عثمان وعلي وابن عباس وابن الزبير . قال أحمد : خمسة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، وهو القول القديم للشافعي .

Landasan mereka dalam hal ini adalah apa yang diriwayatkan dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa datang kepadanya seorang wanita yang kehilangan suaminya, lalu beliau berkata: “Menunggulah selama empat tahun.” Wanita itu pun melakukannya. Kemudian ia datang lagi, lalu beliau berkata: “Menunggulah selama empat bulan sepuluh hari.” Ia pun melakukannya. Kemudian ia datang lagi, lalu beliau bertanya: “Di mana wali laki-laki ini?” Mereka pun mendatangkannya, lalu beliau berkata: “Ceraikanlah dia.” Wali itu pun melakukannya, lalu ‘Umar berkata: “Menikahlah dengan siapa saja yang engkau kehendaki.” (HR. al-Athram, al-Jauzani, dan ad-Daraquthni). Hal ini juga diriwayatkan dari ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu al-Zubair. Ahmad berkata: “Lima orang dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berpendapat demikian),” dan ini merupakan qaul qadim (pendapat lama) asy-Syafi’i.

ب : وإن كانت غيبته ظاهرها السلامة كسفر التجارة في غير مهلكة ، والسفر لطلب العلم أو للسياحة ، فالمذهب أنها تتربص تسعين عاماً من يوم ولد ، ثم تعتد ، ثم تحل للأزواج.

(b) Jika kepergiannya secara lahiriah diduga kuat selamat, seperti safar untuk perniagaan di tempat yang bukan daerah berbahaya, safar untuk menuntut ilmu, atau untuk rekreasi; maka menurut madzhab ini ia harus menunggu hingga sembilan puluh tahun dihitung sejak hari lahir suaminya, kemudian beriddah, baru kemudian halal bagi laki-laki lain.

٣ – مذهب المالكية : والمفقود في بلاد الإسلام يؤجل له أربع سنين بعد البحث عنه والعجز عن خبره ، ثم تعتد زوجته . والمفقود بأرض الشرك كالأسير، وحكمهما أن تبقى زوجتاهما لانتهاء مدة التعمير وهي سبعون سنة على الراجح . والمفقود في الفتن بين المسلمين تعتد زوجته بعد انفصال الصفين. والمفقود في القتال بين المسلمين والكفار يؤجل سنة بعد النظر والكشف عنه ثم تعتد زوجته .

3. Madzhab Malikiyah: Orang yang mafqud di negeri Islam diberikan tangguh waktu empat tahun setelah dilakukan pencarian dan gagal mendapatkan beritanya, kemudian istrinya beriddah. Orang yang mafqud di tanah syirik seperti tawanan; hukum keduanya adalah istri-istri mereka tetap menunggu hingga berakhirnya masa usia rata-rata (ta’miir) yaitu tujuh puluh tahun menurut pendapat yang rajih. Orang yang mafqud dalam fitnah (konflik) sesama Muslim; istrinya beriddah setelah kedua belah pihak berpisah. Orang yang mafqud dalam peperangan antara Muslim dan kafir; diberikan tangguh waktu satu tahun setelah dilakukan penyelidikan dan pemeriksaan, kemudian istrinya beriddah.

وقالوا : إن زوجة المفقود في بلاد الكفر تبقى إلى التعمير وهو بلوغ زوجها سبعين سنة بشرط دوام النفقة ، فإن لم تجد نفقة فلها طلب الطلاق ، وكذا لو خشيت الزنا .

Mereka juga berkata: Sesungguhnya istri dari orang yang mafqud di negeri kafir tetap menunggu hingga masa ta’miir yaitu ketika suaminya mencapai usia tujuh puluh tahun dengan syarat nafkah terus berjalan. Jika ia tidak mendapatkan nafkah, maka ia boleh menuntut cerai, demikian pula jika ia khawatir terjerumus dalam zina.

وبعد العرض لأقوال المذاهب المتبعة ، فالحاصل أن زواج المرأة قبل مضي أربع سنين – على فرض أن غيبة الزوج ظاهرها الهلاك – لا يصح ، ويجب فسخ هذا النكاح عند الحنابلة ، وكذلك عند المالكية ، فيما إذا كان فقده في بلاد الإسلام . ولهذا نقول : ما أقدمت عليه المرأة من الزواج بأخي زوجها بعد ثلاث سنوات منكر ظاهر ، ويلزمها فسخ هذا النكاح ، والرجوع في ذلك إلى المحكمة الشرعية في بلدهما .

Setelah memaparkan pendapat madzhab-madzhab yang diikuti, maka hasilnya adalah bahwa pernikahan wanita tersebut sebelum berlalu waktu empat tahun —dengan asumsi bahwa kepergian suaminya secara lahiriah membawa binasa— adalah tidak sah. Wajib hukumnya memfasakh nikah ini menurut Hanabilah, demikian pula menurut Malikiyah jika hilangnya terjadi di negeri Islam. Oleh karena itu kami katakan: Apa yang dilakukan wanita tersebut dengan menikahi saudara laki-laki suaminya setelah tiga tahun adalah kemungkaran yang nyata, dan ia wajib memfasakh pernikahan tersebut serta merujuk persoalan ini kepada pengadilan syariat di negeri mereka.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.