Hakikat ‘Aib yang Menjadi Hak untuk Faskh Nikah



حقيقة العيب الذي يحق به فسخ النكاح

Hakikat ‘Aib yang Menjadi Hak untuk Faskh Nikah

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hakikat ‘Aib yang Menjadi Hak untuk Faskh Nikah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

أنا في الرابعة والعشرين من عمري وتمت خطبتي من جار لي ويعرف أنني كنت مريضة لمدة 7 سنوات بمرض في الكلى وقد انتهى ولكنه كان يتطلب أن آخذ دواء الكورتيزون الذي أدى إلى زيادة مفاجئة في وزنى أدت لحدوث تفزير فى جلدى بطريقة ملحوظة نوعا ما فى الجزء العلوي من يدي وفي أعلى الصدر وفي وسطي ولكنه لا يرى هذا ولم تراه والدته ولم أصارحه بذلك لأن والدى ووالدتى يقولون إنه أمر غير ملحوظ وليس منفرا وأنه مجرد أشرطة بيضاء اللون فى جلدى ولن تظهر لو لبست بنصف كم وأنه يحبنى لديني وأخلاقي ولن يبالي بهذا ولو قلت له سيطلب رؤيته ولن تقدري على هذا فهل من المفروض أن أقول له أم أحاول عمل أي شئ تجميلي عند دكتورة لأتخلص من ذلك أم أن ذلك حرام أم أتركها على الله وأتزوجه بدون أن أقول له؟

Saya berusia dua puluh empat tahun dan telah dikhitbah oleh tetangga saya. Ia mengetahui bahwa saya pernah sakit ginjal selama 7 tahun dan sudah sembuh, namun penyakit itu mengharuskan saya mengonsumsi obat kortison yang menyebabkan kenaikan berat badan mendadak sehingga timbul stretch marks (gurat-gurat) pada kulit saya yang cukup terlihat di bagian atas lengan, dada atas, dan pinggang. Namun, ia dan ibunya belum melihat hal ini. Saya belum berterus terang kepadanya karena orang tua saya mengatakan hal itu tidak terlalu terlihat, tidak menjijikkan, dan hanya berupa garis-garis putih pada kulit yang tidak akan nampak jika memakai baju lengan pendek. Orang tua saya juga bilang ia mencintai saya karena agama dan akhlak saya sehingga tidak akan peduli, dan jika saya memberitahunya, ia mungkin akan minta melihatnya sedangkan saya tidak akan sanggup melakukannya. Apakah saya seharusnya memberitahunya, atau mencoba tindakan estetika ke dokter untuk menghilangkannya (apakah itu haram?), atau menyerahkannya kepada Allah dan menikahinya tanpa memberitahunya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن العيب الذي يثبت به فسخ النكاح لأحد الزوجين إذا وجد في الآخر هو ما عده الناس عيباً، وهذا هو الراجح من أقوال أهل العلم، ذلك أنه لم يرد في الشرع ما يدل على تحديد العيب الذي يفسخ به النكاح، وما لم يحد من الألفاظ في الشرع، ولا في اللغة، فإنه يحد بالعرف.

Sesungguhnya ‘aib yang menetapkan hak faskh (pembatalan) nikah bagi salah satu pasangan jika ditemukan pada pasangan lainnya adalah apa yang dianggap oleh masyarakat sebagai suatu ‘aib. Inilah pendapat yang rajih di antara perkataan para ahli ilmu, dikarenakan tidak ada dalil dalam syariat yang secara spesifik menentukan batasan ‘aib yang dapat membatalkan nikah. Sesuatu yang lafaznya tidak dibatasi oleh syariat maupun bahasa, maka ia dibatasi oleh ‘urf (adat kebiasaan/standar masyarakat).

قال العلامة ابن القيم رحمه الله في زاد المعاد: والقياس أن كل عيب ينفر الزوج الآخر منه، ولا يحصل به مقصود النكاح من الرحمة والمودة يوجب الخيار، وهو أولى من البيع، كما أن الشروط المشترطة في النكاح أولى بالوفاء من شروط البيع، وما ألزم الله ورسوله مغرراً قط، ولا مغبوناً بما غرر به، وغبن به، ومن تدبر مقاصد الشرع في مصادره وموارده وعدله وحكمته، وما اشتمل عليه من المصالح لم يخف عليه رجحان هذا القول وقربه من قواعد الشريعة.

Al-‘Allamah Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam Zaad al-Ma’aad: “Qiyas (analogi) menunjukkan bahwa setiap ‘aib yang membuat pasangan merasa jijik/menjauh darinya, dan dengannya tujuan pernikahan berupa kasih sayang (rahmah) dan cinta (mawaddah) tidak tercapai, maka hal itu mewajibkan adanya hak pilih (khiyar). Hal ini lebih utama daripada urusan jual beli, sebagaimana syarat-syarat dalam pernikahan lebih utama untuk dipenuhi daripada syarat dalam jual beli. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah membebankan orang yang tertipu selamanya, tidak pula orang yang dirugikan oleh penipuan tersebut. Barangsiapa merenungkan maksud-maksud syariat dalam sumber-sumbernya, keadilan-Nya, hikmah-Nya, serta maslahat yang terkandung di dalamnya, niscaya tidak akan samar baginya kuatnya pendapat ini dan kedekatannya dengan kaidah-kaidah syariat.”

وعلى هذا، فإن كان الناس في تلك البلاد يعدون هذه التفزيرات عيباً، فهي عيب يجب إخبار الخاطب بذلك، حتى لا يقع بعد ذلك فسخ النكاح، وربما مشاكل أخرى، وإذا أمكن إزالة هذا العيب عن طريق التجميل إزالة لا تسبب ضرراً، فلا مانع لأن الحاجة داعية إلى ذلك، إعمالاً للقاعدة الشرعية المعروفة: “الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة”.

Berdasarkan hal ini, jika masyarakat di negeri tersebut menganggap gurat-gurat (stretch marks) ini sebagai sebuah ‘aib, maka hal itu merupakan ‘aib yang wajib diberitahukan kepada pengkhitbah (calon suami), agar tidak terjadi faskh nikah di kemudian hari atau masalah lainnya. Jika memungkinkan untuk menghilangkan ‘aib ini melalui tindakan estetika yang tidak menimbulkan bahaya (dharar), maka tidak ada halangan karena adanya kebutuhan (hajat) akan hal tersebut, sebagai bentuk pengamalan kaidah syar’iyah yang masyhur: “Hajat menempati kedudukan darurat, baik itu bersifat umum maupun khusus.”

وقال الإمام النووي رحمه الله في شرحه على صحيح مسلم عند حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: “لعن الله الواشمات والمستوشمات والنامصات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله”. قال: (وأما قوله: المتفلجات للحسن. فمعناه يفعلن ذلك طلباً للحسن، وفيه إشارة إلى أن الحرام هو المفعول لطلب الحسن. أما لو احتاجت إليه لعلاج أو عيب في السن ونحوه، فلا بأس).

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya atas Shahih Muslim mengenai hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Allah melaknat wanita yang menato dan yang minta ditato, yang mencukur alis dan yang minta dicukur alisnya, serta yang merenggangkan gigi untuk kecantikan yang mengubah ciptaan Allah.” Beliau berkata: “(Adapun sabda beliau: ‘yang merenggangkan gigi untuk kecantikan’, maknanya adalah mereka melakukan itu untuk mencari kecantikan semata. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa yang haram adalah yang dilakukan hanya demi kecantikan. Adapun jika ia membutuhkannya untuk pengobatan atau karena adanya cacat pada gigi dan semisalnya, maka tidak mengapa).”

وإذا كان أهل البلد لا يعدون هذا التفزير عيباً، فلا يلزم إخبار الخاطب به.

Dan jika penduduk negeri tersebut tidak menganggap gurat-gurat ini sebagai sebuah ‘aib, maka tidak wajib memberitahukan hal itu kepada calon suami.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.