Zakat Harta Anak Kecil dan Bersedekah Menggunakannya



زكاة مال الصبي والتصدق بشيء منه

Zakat Harta Anak Kecil dan Bersedekah Menggunakannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Zakat Harta Anak Kecil dan Bersedekah Menggunakannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat

السؤال:

Pertanyaan:

هل يحق للولي: أن يتصرف في مال الصبي بالتصدق والهبة والزكاة؟

Apakah seorang wali berhak mengelola harta anak kecil untuk kepentingan sedekah, hibah, dan zakat?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فليس للولي أن يتصرف في مال الصبي إلا على وجه الأحظ والأصح له، لقوله تعالى:

Seorang wali tidak diperbolehkan mengelola harta anak kecil kecuali dalam bentuk yang paling memberikan manfaat (maslahat) dan paling benar baginya, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ [الأنعام: ١٥٢]

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.” [Al-An’am: 152]

وذلك كأن يتجر له في ماله بما يحفظه وينميه، ولا يجوز للولي التبرع بمال الصبي صدقة كان أو هبة، فإن فعل ذلك ضمن. وكذلك ليس له أن يحابي في ماله بأن يشتري له بزيادة أو يبيع له بنقص.

Hal tersebut misalnya dengan memperdagangkan harta tersebut untuk menjaganya dan mengembangkannya. Wali tidak diperbolehkan memberikan sukarela (tabarru’) harta anak kecil tersebut, baik dalam bentuk sedekah maupun hibah; jika ia melakukannya, maka ia wajib menggantinya (dhaman). Demikian pula, ia tidak boleh berlaku subjektif (nepotisme) dalam mengelola harta tersebut, seperti membeli untuk si anak dengan harga yang terlalu mahal atau menjual aset si anak dengan harga yang terlalu murah.

وهل تجب الزكاة في مال الصبي ؟ اختلف الفقهاء في ذلك فذهب الجهور من المالكية والشافعية والحنابلة إلى أن الزكاة تجب في ماله، وأن على الولي إخراجها منه إذا حال الحول، لقول النبي صلى الله عليه وسلم :

Lalu, apakah zakat wajib atas harta anak kecil? Para fuqaha berselisih pendapat dalam hal ini. Mayoritas ulama (Jumhur) dari kalangan Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa zakat wajib atas hartanya, dan merupakan kewajiban wali untuk mengeluarkannya apabila telah berlalu satu tahun (haul), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ لَهُ، وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ

“Barangsiapa mengasuh anak yatim yang memiliki harta, hendaklah ia memperdagangkannya untuknya, dan janganlah ia membiarkannya hingga harta tersebut habis dimakan oleh sedekah (zakat).” (HR. Daruquthni dan Baihaqi)

والمراد بالصدقة الزكاة وإنما تأكله بإخراجها. وذهب الأوزاعي إلى أن الزكاة تجب في مال الصبي، ولكن لا تخرج إلا عند بلوغه. وذهب الحنفية إلى أن الزكاة لا تجب في ماله، مع إيجابهم العشر في زرعه وثماره، وإيجاب صدقة الفطر عليه.

Yang dimaksud dengan “sedekah” di sini adalah zakat, dan dikatakan “memakannya” karena pengeluaran zakat tersebut (secara nominal mengurangi harta jika tidak diputar). Al-Auzai berpendapat bahwa zakat wajib pada harta anak kecil, namun tidak dikeluarkan kecuali setelah ia baligh. Sementara madzhab Hanafi berpendapat bahwa zakat tidak wajib pada hartanya, namun mereka mewajibkan ‘Ushr (zakat sepersepuluh) pada hasil pertaniannya dan mewajibkan zakat fitrah atasnya.

والصحيح ما ذهب إليه الجمهور، فيلزم الولي النظر في مال الصبي وإخراج زكاة ما بلغ النصاب منه. والله أعلم.

Dan pendapat yang benar adalah apa yang dipegang oleh mayoritas ulama (Jumhur), maka wajib bagi wali untuk memperhatikan harta anak kecil tersebut dan mengeluarkan zakat dari apa yang telah mencapai nishab darinya. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.