الرد على منكر الرجم
Menanggapi Pengingkar Hukum Rajam
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Menanggapi Pengingkar Hukum Rajam ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Akidah
السؤال:
Pertanyaan:
بسم الله الرحمن الرحيم… ما ردكم على منكري الرجم مع الأدلة؟ وأرجوا أن ترشدوني إلى الكتب والمصادر لدراسة هذا الموضوع؟ والسلام عليكم و رحمة الله.
Bismillahir rahmanir rahim… Apa tanggapan Anda terhadap para pengingkar hukum rajam beserta dalil-dalilnya? Saya juga memohon petunjuk mengenai kitab-kitab dan sumber-sumber untuk mempelajari masalah ini? Wassalamu’alaikum wa rahmatullah.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فرجم الزاني المحصن مما أجمع عليه أهل العلم، ولم يخالف فيه إلا الخوارج، ولا عبرة بخلافهم. قال ابن قدامة في المغني: الكلام في هذه المسألة في فصول ثلاثة: (أحدهما) في وجوب الرجم على الزاني المحصن، رجلاً كان أو امرأة.
Maka hukum rajam bagi pezina muhshan termasuk perkara yang telah disepakati (ijma’) oleh para ahli ilmu, dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali kelompok Khawarij, namun perselisihan mereka tidak dianggap. Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni: “Pembahasan dalam masalah ini terbagi dalam tiga pasal: (Salah satunya) mengenai wajibnya rajam atas pezina muhshan, baik laki-laki maupun wanita.”
وهذا قول عامة أهل العلم من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار في جميع الأعصار، ولا نعلم فيه مخالفاً إلا الخوارج فإنهم قالوا: الجلد للبكر والثيب.
Ini adalah pendapat seluruh ahli ilmu dari kalangan shahabah, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka dari para ulama di berbagai wilayah di setiap zaman. Kami tidak mengetahui adanya pihak yang menyelisihinya kecuali Khawarij, karena mereka berpendapat bahwa hukuman cambuk berlaku bagi pezina bikr (perjaka/gadis) maupun tsayyib (yang sudah menikah).
وقال مبينا أدلة الرجم: قد ثبت الرجم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله وفعله، في أخبار تشبه التواتر، وأجمع عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم. وقد أنزله الله تعالى في كتابه، وإنما نسخ رسمه دون حكمه.
Beliau (Ibnu Qudamah) berkata menjelaskan dalil-dalil rajam: “Sungguh telah tsabit hukum rajam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik melalui perkataan maupun perbuatan beliau, dalam berita-berita yang menyerupai mutawatir, dan telah disepakati oleh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala pun telah menurunkannya dalam Kitab-Nya, namun hanya dihapus (nasakh) redaksinya saja sementara hukumnya tetap berlaku.”
فروي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه قال: إن الله بعث محمداً صلى الله عليه وسلم بالحق، وأنزل عليه الكتاب، فكان فيما أنزل عليه آية الرجم فقرأتها وعقلتها ووعيتها، ورجم رسول الله صلى الله عليه وسلم ورجمنا بعده.
Diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata: “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kebenaran, dan menurunkan Kitab kepadanya. Di antara apa yang diturunkan kepadanya adalah ayat rajam, maka kami membacanya, memahaminya, dan menjaganya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan rajam dan kami pun melaksanakannya setelah beliau.”
فأخشى إن طال بالناس زمان أن يقول قائل: ما نجد الرجم في كتاب الله، فيضلوا بترك فريضة أنزلها الله تعالى، فالرجم حق على من زنا إذا أحصن من الرجال والنساء إذا قامت البينة أو كان الحبل، أو الاعتراف، وقد قرأ بها:
“Maka aku khawatir jika waktu telah berlalu lama bagi manusia, akan ada orang yang berkata: ‘Kami tidak menemukan (hukum) rajam dalam Kitab Allah,’ sehingga mereka menjadi sesat karena meninggalkan satu kewajiban yang telah Allah Ta’ala turunkan. Maka rajam adalah hak (kebenaran) atas siapa saja yang berzina jika ia muhshan, baik laki-laki maupun wanita, apabila terdapat bukti (bayyinah), atau adanya kehamilan, atau pengakuan.” Dan sungguh dahulu pernah dibaca (sebagai ayat):
الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Laki-laki tua dan perempuan tua (yang sudah menikah) apabila keduanya berzina, maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (HR. Bukhari dan Muslim)
وحكم الرجم وتقريره والرد على من أنكره مستفيض ذكره في مصنفات أهل العلم، ومن ذلك كتب التفسير، عند تفسير الآية الثانية من سورة النور، وكتب الحديث في أبواب الحدود والأحكام والاعتصام بالكتاب والسنة والنكاح. وكتب الفقه في باب حد الزنا، وفي بعض كتب العقائد، في معرض الرد على الخوارج.
Hukum rajam, penetapannya, dan bantahan terhadap pihak yang mengingkarinya telah disebutkan secara luas dalam karya-karya para ulama. Di antaranya dalam kitab-kitab tafsir saat menjelaskan ayat kedua dari Surah An-Nur, kitab-kitab hadits dalam bab Hudud, Ahkam, al-I’tisham bil Kitab was Sunnah, dan Nikah. Juga dalam kitab-kitab fikih pada bab Hadd Zina, serta dalam sebagian kitab akidah saat memberikan bantahan terhadap Khawarij.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply