Amalan-amalan Paling Utama untuk Mendekatkan Diri kepada Allah



أفضل العبادات التي يتقرب بها إلى الله

Amalan-amalan Paling Utama untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Amalan-amalan Paling Utama untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

الرجاء ترتيب العبادات حسب الأفضل لأنني أريد الثواب الكبير ولا أعرف الترتيب؟ وجزاكم الله خيراً.

Mohon urutkan amalan-amalan ‘ibadah berdasarkan yang paling utama, karena saya menginginkan pahala yang besar namun tidak mengetahui urutannya? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:

فترتيب العبادة حسب الأفضلية متعذر، فالعبادة تنقسم إلى عبادة قلبية وعبادة بدنية وعبادة قلبية وبدنية معاً كما تقدم بيانه في الفتوى الأخرى هنا.

Mengurutkan ‘ibadah berdasarkan keutamaannya adalah hal yang sulit (muta‘adzdzir), karena ‘ibadah terbagi menjadi ‘ibadah hati (qolbiyyah), ‘ibadah badan (badaniyyah), serta gabungan ‘ibadah hati dan badan secara bersamaan, sebagaimana telah dijelaskan dalam fatwa lainnya di sini.

فأفضل العبادات على الإطلاق شهادة التوحيد، وأفضل العبادات البدنية الصلاة على القول الراجح، ثم اخْتُلِف في ترتيب باقي أركان الإسلام حسب الأفضلية.

Adapun ‘ibadah yang paling utama secara mutlak adalah kesaksian tauhid (syahadatain). Sedangkan ‘ibadah badan yang paling utama menurut pendapat yang kuat (rajih) adalah sholat. Kemudian para ulama berselisih pendapat dalam mengurutkan rukun Islam lainnya berdasarkan keutamaannya.

ففي تحفة المحتاج لابن حجر الهيتمي: وأفضل عبادات البدن بعد الشهادتين الصلاة ففرضها أفضل الفروض ونفلها أفضل النوافل، ولا يرد طلب العلم وحفظ القرآن لأنهما من فروض الكفايات.

Disebutkan dalam Tuhfat al-Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami: “Dan ‘ibadah badan yang paling utama setelah dua kalimat syahadat adalah sholat, maka fardhu-nya adalah seutama-utama fardhu dan nafilah-nya (sunnahnya) adalah seutama-utama nafilah. Hal ini tidaklah bertentangan dengan menuntut ilmu dan menghafal Al-Quran, karena keduanya termasuk fardhu kifayah.”

ويليها الصوم فالحج فالزكاة على ما جزم به بعضهم، وقيل أفضلها الزكاة وقيل الصوم وقيل الحج وقيل غير ذلك. انتهى.

“Dan setelahnya adalah puasa, kemudian haji, lalu zakat menurut apa yang ditegaskan oleh sebagian mereka. Ada pula yang berpendapat yang paling utama adalah zakat, ada yang mengatakan puasa, ada yang mengatakan haji, dan ada pula yang mengatakan selain itu.” Selesai kutipan.

وقال النووي في المجموع: فالمذهب الصحيح المشهور أن الصلاة أفضل من الصوم وسائر عبادات البدن.

An-Nawawi berkata dalam al-Majmu‘: “Maka madzhab yang shohih dan masyhur adalah bahwa sholat lebih utama daripada puasa dan seluruh ‘ibadah badan lainnya.”

وقال صاحب المستظهري في كتاب الصيام: اختلف في الصلاة والصوم أيهما أفضل؟ فقال قوم: الصلاة أفضل، وقال آخرون: الصلاة بمكة أفضل والصوم بالمدينة أفضل، قال: والأول أصح. انتهى.

Penulis kitab al-Mustazhiri berkata dalam kitab Ash-Shiyam: “Terdapat perbedaan pendapat mengenai sholat dan puasa, mana yang lebih utama? Sekelompok kaum berkata: Sholat lebih utama. Yang lain berkata: Sholat di Makkah lebih utama sedangkan puasa di Madinah lebih utama. Beliau berkata: Pendapat yang pertama adalah yang lebih shohih.” Selesai kutipan.

وقد ثبتت أفضلية بعض الطاعات في بعض الأحاديث الصحيحة وقد حُمِل ذلك على أنه إجابة مخصوصة لسؤال مخصوص تناسب حال كل سائل وما يليق به.

Telah tsabit keutamaan sebagian ketaatan dalam beberapa hadits shohih, dan hal tersebut dipahami sebagai jawaban khusus untuk pertanyaan tertentu yang sesuai dengan kondisi setiap penanya dan apa yang layak baginya.

ففي الصحيحين واللفظ للبخاري عن ابن مسعود رضي الله عنه: أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم أي الأعمال أفضل، قال:

Dalam ash-shohihain dan lafadznya milik Bukhari, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau bersabda:

الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Sholat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain), kemudian jihad di jalan Allah.”

قال ابن دقيق العيد في إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام: وسؤاله عن أفضل الأعمال طلباً لمعرفة ما ينبغي تقديمه منها، وحرصاً على علم الأصل، ليتأكد القصد إليه وتشتد المحافظة عليه.

Ibnu Daqiq al-‘Id berkata dalam Ihkam al-Ahkam Syarh ‘Umdat al-Ahkam: “Pertanyaannya mengenai amalan yang paling utama adalah untuk mengetahui apa yang seharusnya didahulukan darinya, dan antusiasme terhadap ilmu dasar agar tujuan terhadapnya menjadi kuat dan penjagaannya menjadi lebih intens.”

و”الأعمال” ها هنا لعلها محمولة على الأعمال البدنية، كما قال الفقهاء: أفضل عبادات البدن الصلاة. واحترزوا بذلك عن عبادة المال، وقد تقدم لنا كلام في العمل: هل يتناول عمل القلب، أم لا؟

“Dan ‘amalan-amalan’ di sini kemungkinan dipahami sebagai amalan-amalan badan, sebagaimana perkataan para fuqoha: Seutama-utama ‘ibadah badan adalah sholat. Mereka mengecualikan dengannya ‘ibadah harta. Dan telah berlalu penjelasan kami mengenai ‘amal’: Apakah ia mencakup amalan hati atau tidak?”

فإذا جعلناه مخصوصاً بأعمال البدن، تبين من هذا الحديث: أنه لم يرد أعمال القلوب، فإن من عملها ما هو أفضل، كالإيمان.

“Maka jika kita menjadikannya khusus untuk amalan-amalan badan, menjadi jelaslah dari hadits ini: bahwa beliau tidak bermaksud untuk menyebutkan amalan-amalan hati, karena di antara amalan hati ada yang lebih utama seperti iman.”

وقد ورد في بعض الحديث ذكره مصرحاً به أعني الإيمان، فتبين بذلك الحديث أنه أريد بالأعمال ما يدخل في أعمال القلوب، وأريد بها في هذا الحديث ما يختص بعمل الجوارح.

“Dan telah ada dalam sebagian hadits penyebutannya secara tegas, maksud saya adalah iman. Maka menjadi jelas dengan hadits tersebut bahwa yang dimaksud dengan ‘amalan’ adalah apa yang masuk dalam amalan hati, sedangkan yang dimaksud dalam hadits ini adalah apa yang dikhususkan pada amalan anggota tubuh (jawarih).”

وقوله “الصلاة على وقتها” ليس فيه ما يقتضي أول الوقت وآخره، وكأن المقصود به الاحتراز عما إذا وقعت خارج الوقت قضاء. وأنها لا تتنزل هذه المنزلة.

“Dan sabda beliau ‘sholat pada waktunya’ tidaklah mengandung keharusan di awal waktu atau akhirnya, seolah-olah maksudnya adalah penjagaan dari kondisi jika sholat jatuh di luar waktunya (qodho), karena hal itu tidaklah menempati kedudukan (utama) ini.”

وقد ورد في حديث آخر “الصلاة لوقتها” وهو أقرب لأن يستدل به على تقديم الصلاة في أول الوقت من هذا اللفظ.

“Dan telah ada dalam hadits lain: ‘sholat bagi waktunya’ (ash-sholah liwaqtiha), dan lafadz ini lebih dekat untuk dijadikan dalil atas mendahulukan sholat di awal waktu dibandingkan lafadz yang tadi.”

وقد اختلفت الأحاديث في فضائل الأعمال، وتقديم بعضها على بعض، والذي قيل في هذا: إنها أجوبة مخصوصة لسائل مخصوص، أو من هو في مثل حاله، أو هي مخصوصة ببعض الأحوال التي ترشد القرائن إلى أنها المراد.

“Dan sungguh telah berbeda-beda hadits mengenai keutamaan amalan dan pendahuluan sebagian atas yang lainnya. Hal yang dikatakan dalam masalah ini adalah: Bahwa itu merupakan jawaban-jawaban khusus bagi penanya tertentu, atau bagi siapa saja yang kondisinya serupa dengannya, atau ia dikhususkan pada sebagian kondisi yang ditunjukkan oleh qarinah-qarinah (petunjuk) bahwa itulah yang dimaksud.”

ومثال ذلك: أن يحمل ما ورد عنه – صلى الله عليه وسلم من قوله: ألا أخبركم بأفضل أعمالكم، وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم؟. وفسره بذكر الله تعالى على أن يكون ذلك أفضل الأعمال بالنسبة إلى المخاطبين بذلك، أو من هو في مثل حالهم، أو من هو في صفاتهم.

“Sebagai contoh: Apa yang diriwayatkan dari beliau —shallallahu ‘alaihi wa sallam— dari sabdanya: ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang amalan kalian yang paling utama, yang paling suci di sisi Raja kalian (Allah), dan yang paling mengangkat derajat kalian?’. Kemudian beliau menafsirkannya dengan dzikrullah Ta‘ala, dengan pertimbangan bahwa itu adalah amalan yang paling utama nisbatnya bagi orang yang diajak bicara (mukhatabin) saat itu, atau siapa pun yang kondisinya serupa dengan mereka, atau yang memiliki sifat-sifat seperti mereka.”

ولو خوطب بذلك الشجاع الباسل المتأهل للنفع الأكبر في القتال لقيل له “الجهاد” ولو خوطب به من لا يقوم مقامه في القتال ولا يتمحض حاله لصلاحية التبتل لذكر الله تعالى، وكان غنياً ينتفع بصدقة ماله لقيل له “الصدقة”.

“Dan seandainya orang yang diajak bicara adalah pemberani yang gagah perkasa yang memiliki potensi manfaat besar dalam peperangan, niscaya akan dikatakan kepadanya ‘Jihad’. Dan seandainya orang yang diajak bicara tidak menempati kedudukan dalam peperangan namun ia juga tidak murni memiliki kesiapan untuk fokus berdzikir kepada Allah Ta‘ala, sedangkan ia adalah orang kaya yang bisa memberi manfaat dengan sedekah hartanya, niscaya akan dikatakan kepadanya ‘Sedekah’.”

وهكذا في بقية أحوال الناس، قد يكون الأفضل في حق هذا مخالفاً في حق ذاك، بحسب ترجيح المصلحة التي تليق به. انتهى.

“Demikian pula pada sisa kondisi manusia lainnya; terkadang yang paling utama bagi hak seseorang berbeda dengan hak orang lainnya, sesuai dengan kuatnya kemaslahatan yang layak baginya.” Selesai kutipan.

فهذا كلام نفيس فتدبره تنتفع به، واحرص على الاستزادة من الخير.

Maka ini adalah perkataan yang sangat berharga, maka renungkanlah niscaya Anda akan mengambil manfaat darinya. Bersemangatlah untuk menambah kebaikan.

وننصحك بالمحافظة على الفرائض فإنها أفضل ما يتقرب به إلى الله تعالى ثم الإكثار من نوافل الطاعات، واضرب في كل باب منها بسهم، وابتعد عن كل ما نهى عنه الشرع وحذر منه، فذلك طاعة من أفضل الطاعات.

Kami menasihatkan Anda untuk menjaga perkara-perkara fardhu, karena sesungguhnya ia adalah seutama-utama jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala. Kemudian perbanyaklah nawafil ketaatan, ambillah bagian dari setiap pintu kebaikan tersebut. Serta jauhilah segala yang dilarang oleh syara‘ dan diperingatkan darinya, karena menjauhi larangan adalah ketaatan di antara ketaatan-ketaatan yang paling utama.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.