Hukum Memukul Anak-anak



حكم ضرب الأطفال

Hukum Memukul Anak-anak

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Memukul Anak-anak ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pernikahan

السؤال:

Pertanyaan:

أريد أحاديث تنهى عن ضرب الأطفال، وشكراً.

Saya menginginkan hadits-hadits yang melarang memukul anak-anak, terima kasih.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فلا نعلم أحاديث تنهي عن ضرب الطفل؛ بل ورد ما يدل على جواز ضربه إذا كان مستحقاً للضرب، كما روى أبو داود:

Kami tidak mengetahui adanya hadits-hadits yang melarang (secara mutlak) memukul anak; sebaliknya, terdapat riwayat yang menunjukkan bolehnya memukul anak jika ia memang berhak untuk dipukul (sebagai bentuk pendidikan), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat saat mereka berusia sepuluh tahun.”

وذكر عبد الرزاق في المصنف أن عائشة سئلت عن أدب اليتيم؟ فقالت: إني لأضرب أحدهم حتى ينبسط. وسئل الإمام أحمد عما يجوز فيه ضرب الولد؟ قال: يضرب على الأدب. وقال أيضاً: اليتيم يؤدب، والصغير يضرب ضرباً خفيفاً. وسئل عن ضرب المعلم الصبيان؟ فقال: على قدر ذنوبهم، ويتوقى بجهده الضرب، وإن كان صغيراً لا يعقل فلا يضربه.

Abdurrazzaq menyebutkan dalam al-Mushannaf bahwa ‘Aisyah pernah ditanya tentang mendidik (adab) anak yatim? Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku benar-benar memukul salah seorang dari mereka sampai ia patuh.” Imam Ahmad pernah ditanya tentang dalam hal apa seorang anak boleh dipukul? Beliau menjawab: “Ia dipukul dalam rangka mendidik adab.” Beliau juga berkata: “Anak yatim dididik adabnya, dan anak kecil dipukul dengan pukulan yang ringan.” Beliau juga ditanya tentang seorang guru yang memukul anak-anak didik? Beliau menjawab: “Sesuai dengan kadar kesalahan mereka, dan hendaknya guru sebisa mungkin menghindari pukulan tersebut. Jika anak itu masih sangat kecil dan belum berakal, maka janganlah ia memukulnya.”

وذكر ابن الجوزي أن الولد إذا احتيج إلى الضرب ضرب ضرباً غير مبرح. وسأل رجل سعيد بن المسيب مم يضرب الرجل يتيمه؟ قال: مم يضرب الرجل ولده. فالمقصود أن ضرب الطفل جائز بشرط استحقاقه الضرب ومنفعته له.

Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa jika seorang anak membutuhkan pukulan, maka ia dipukul dengan pukulan yang tidak melukai (ghairu mubarrih). Seorang laki-laki bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyib: “Karena alasan apa seseorang memukul anak yatimnya?” Ia menjawab: “Karena alasan yang sama saat seseorang memukul anaknya sendiri.” Jadi, maksudnya adalah memukul anak itu diperbolehkan dengan syarat ia memang berhak dipukul dan pukulan tersebut mendatangkan manfaat baginya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.