وقفة مع آية من كتاب الله
Tadabbur Sejenak Surah Ali Imran ayat 26 (Bagian Kedua)
Penulis: Dr. Amin bin ‘Abdullah asy Syaqawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tadabbur Sejenak Surah Ali Imran ayat 26 ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran
وعن أبي سعيدٍ الخُدْرِيّ – رضي الله عنه -: أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال وهو يخاطب الأنصار:
((أَلَمْ تَكُونُوا أَذِلَّةً فَأَعَزَّكُمُ اللَّهُ؟)) [5]
“Bukankah dahulu kalian adalah orang-orang yang hina, lalu Allah memuliakan kalian?” [5]
وقال عمر – رضي الله عنه -: ((نحن قومٌ أعزَّنا الله بالإسلام، فمهما ابتغينا العِزَّة بغيره أَذَلَّنا اللهُ))[6].
Dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kita adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka kapan pun kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.” [6].
ثالثًا: أنَّ الذُّلَّ الذي يُصيب الإنسان إنما هو بمعصيته لله ولرسوله؛ قال تعالى عن بني إسرائيل عندما عصوا الله ورسوله:
Ketiga: Bahwasanya kehinaan yang menimpa manusia hanyalah disebabkan oleh maksiatnya kepada Allah dan Rasul-Nya; Allah Ta’ala berfirman mengenai Bani Israil ketika mereka bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya:
{ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ} [آل عمران: 112]
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Surah Aali ‘Imran ayat 112)
وعن ابن عمر – رضي الله عنهما -: أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال:
Dan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ)) [7]
“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, hingga Allah disembah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rezekiku di bawah naungan tombakku, serta dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” [7]
وقال الحسنُ – رحمه الله -: “إنهم وإن طَقْطَقَتْ بهم البغال، وهَمْلَجَتْ بهم البَرَاذين، إنَّ ذُلَّ المعصية لفي قلوبهم، أَبَى الله إلاَّ أن يُذِلَّ مَنْ عصاه”[8].
Dan al Hasan rahimahullah berkata: “Sesungguhnya mereka, meskipun bagal-bagal itu menghentak-hentak (dengan sombong) membawa mereka, dan kuda-kuda pilihan itu berlari kencang bersama mereka, sesungguhnya kehinaan maksiat itu benar-benar ada di dalam hati mereka. Allah enggan kecuali akan menghinakan siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya.” [8].
رَأَيْتُ الذُّنوُبَ تُميتُ القُلوُبَ
وَقَدْ يوُرِثُ الذُّلَّ إِدْمانُها
وَتَرْكُ الذُّنوُبِ حَياةُ القُلوُبِ
وَخَيْرٌ لِنَفْسِكَ عِصْيانُها
Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati
Dan kecanduan padanya dapat mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Dan yang terbaik bagi jiwamu adalah mendurhakai (hawa nafsu) dosa tersebut
رابعًا: إثبات قدرة الله؛ فهو – سبحانه – القادرُ على كلِّ شيءٍ، لا يُعجزه شيءٌ في الأرض ولا في السماء؛ ولذلك يُشرَع للمؤمن أن يسأل الله بقدرته أن يُيَسِّر له الخير، ويصرِف عنه الشرَّ؛ فعن عثمان بن أبي العاص الثَّقَفِيُّ – رضي الله عنه -: أنه شكا إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَجَعًا يجده في جسده منذ أسلم؛ فقال له رسول الله – صلى الله عليه وسلم -:
Keempat: Menetapkan kemahakuasaan Allah; karena Dia Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya baik di bumi maupun di langit. Oleh karena itu, disyariatkan bagi orang mukmin untuk memohon kepada Allah dengan kekuasaan-Nya agar dimudahkan baginya kebaikan dan dijauhkan darinya keburukan. Dari ‘Utsman bin Abi al ‘Ash ats Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya ia mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rasa sakit yang ia rasakan pada tubuhnya semenjak masuk Islam; maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
((ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ: بِاسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ)) [9]
“Letakkanlah tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkanlah: ‘Bismillah’ tiga kali, lalu ucapkanlah tujuh kali: ‘A’uudzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru’ (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan aku khawatirkan).” [9]
خامسًا: فضل الدعاء وأهميته، وكان السَّلَفُ يدعون: “اللهم أعِزَّني بطاعتِكَ، ولا تُذِلَّني بمعصيتِكَ”[10]، وينبغي للمؤمن أن يسأل الله من خيرَيِ الدنيا والآخِرة؛ قال تعالى:
Kelima: Keutamaan doa dan urgensinya. Dahulu para salaf berdoa: “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepada-Mu, dan janganlah Engkau hinakan aku dengan maksiat kepada-Mu.” [10]. Seyogianya bagi orang mukmin untuk memohon kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat; Allah Ta’ala berfirman:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا} [النساء: 134]
“Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah-lah pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah an Nisaa ayat 134)
وعن أنسٍ بن مالك – رضي الله عنه – قال: كان النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – يقول:
Dan dari Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengucapkan:
((اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)) [11]
“Allahumma Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar” (Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka). [11]
وكان أنس إذا أراد أن يدعو بدعوةٍ دعا بها، فإذا أراد أن يدعو بدعاءٍ دعا بها فيه. والحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله وسلم على نبيِّنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Dan dahulu Anas jika ingin memanjatkan suatu doa, ia pun berdoa dengannya (kalimat ini). Dan jika ia ingin memanjatkan doa (yang lain), ia menyisipkan kalimat ini di dalamnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya sekalian.
Alhamdulillah selesai rangkaian artikel 2 (Dua) Seri
Sumber : Alukah
Leave a Reply