المصلحة لا تكمن في الطلاق غالبا
Maslahat Biasanya Tidak Terletak pada Perceraian
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Maslahat Biasanya Tidak Terletak pada Perceraian ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pernikahan
السؤال:
Pertanyaan:
أنا مصرية متزوجة منذ 6 سنوات، ولدي بنتان عمرهما سنتان. منذ سنة سافرت إلى أمريكا لعمل زوجي بها. أريد التحدث بموضوعية وأسرد حقائق حتى تفيدوني بالفتوى عن علم بحال زوجي بإنصاف. هو في الأصل شخص طيب ولديه مبادئ أعني ليس شريرا.
Saya adalah seorang wanita Mesir yang sudah menikah selama 6 tahun dan memiliki dua anak perempuan berusia dua tahun. Sejak setahun lalu, saya pindah ke Amerika karena pekerjaan suami. Saya ingin berbicara secara objektif dan memaparkan fakta-fakta agar Anda dapat memberikan fatwa secara adil berdasarkan kondisi suami saya. Pada dasarnya ia adalah orang yang baik dan memiliki prinsip, maksud saya ia bukan orang jahat.
ولكن منذ أن قدمنا إلى أمريكا وأنا أصدم وأحبط فيه المرة تلو الأخرى، حتى أوشكت على كرهه وأفكر في الطلاق. فهو كان يصرخ في بناتي في أحيان كثيرة جدا عندما كان عمرهن سنة وإلى الآن، مرات يصفعهن على وجوههن، أو يضربهن بشدة بحجة التربية. هو يدقق في التفاصيل ويتدخل في الأمور، وبالتالي حياتنا دائما نكد وغير سعيدة.
Namun sejak kami tiba di Amerika, saya terus-menerus merasa terkejut dan kecewa padanya, hingga saya hampir membencinya dan berpikir untuk cerai. Ia sering sekali membentak anak-anak saya sejak mereka berusia satu tahun hingga sekarang, terkadang menampar wajah mereka atau memukul dengan keras dengan alasan mendidik. Ia sangat teliti dalam hal-hal kecil dan mencampuri segala urusan, sehingga hidup kami selalu terasa menyesakkan dan tidak bahagia.
أنا متدينة بفضل الله وكان هو كذلك، ولكنه الآن يقطع في الصلاة ويؤخرها، ويغضب، ويتلفظ بألفاظ لم أعتد عليها في بيتي. غير مسؤول عنا بشكل جيد أي لا يتحمل المسؤولية جيدا. لا يتعاون معي في المنزل، معتاد على العنف في بيته، ولذلك يتصرف يعنف معي ومع البنات، فبجانب الغضب فهو أحيانا يقوم بعضي أو قرصي أو ضربي ضربا غير مبرح، ولكنه يترك أثرا على المكان الذي ضربني عليه. لا يهتم اهتماما كبيرا بالنظافة الشخصية. ودائما أمام اللاب توب يلعب ولا يقضي وقتا كبيرا مع البنات. بيئته مختلفة بعض الشيء عن بيئتي، وبالأخص منزله.
Saya orang yang religius alhamdulillah, dan dahulu ia pun demikian, namun sekarang ia sering meninggalkan shalat dan menunda-nundanya, sering marah, serta mengucapkan kata-kata yang tidak biasa saya dengar di rumah saya. Ia tidak bertanggung jawab dengan baik terhadap kami. Ia tidak membantu saya di rumah, dan karena terbiasa dengan kekerasan di rumah asalnya, ia pun bersikap kasar kepada saya dan anak-anak. Selain kemarahannya, ia terkadang menggigit, mencubit, atau memukul saya dengan pukulan yang tidak membahayakan namun meninggalkan bekas pada bagian yang dipukul. Ia tidak terlalu peduli pada kebersihan pribadi, dan selalu berada di depan laptop untuk bermain game tanpa meluangkan banyak waktu dengan anak-anak. Lingkungannya agak berbeda dengan lingkungan saya, terutama keluarganya.
كل هذا سبب لي إحباطا شديدا، ولا أدري إذا كان الله غاضبا علي حتى أتعس مع هذا الزوج الذي لم أكن أتمناه أبدا. فقد كنت أتمنى أبا يكون قدوة لبناتي، حنونا متدينا ذا مبادئ وأخلاق دمثة، راقيا وإيجابيا ومسئولا. كل هذه الصفات ليست موجودة فيه إلى جانب العصبية والعنف وسوء الأدب في أحيان أخرى. لا أدري هل انفصل عنه لبلد آخر عند أهلي، ونبقى متزوجين حتى أربي بناتي في جو هادئ التربية التي كنت أحلم بها لهما. أم أطلب الطلاق وأعيش وحدي لتربيتهن؟ أنا لست مستفيدة من بقائي معه شيئا غير التعاسة والحزن والندم أرجو أن تفيدوني؟
Semua ini menyebabkan kekecewaan yang mendalam bagi saya, dan saya tidak tahu apakah Allah sedang murka kepada saya sehingga saya merasa sengsara dengan suami yang tidak pernah saya harapkan ini. Saya mendambakan sosok ayah yang bisa menjadi teladan bagi anak-anak saya; sosok yang penyayang, religius, memiliki prinsip dan akhlak yang halus, elegan, positif, serta bertanggung jawab. Semua sifat ini tidak ada padanya, di samping sifatnya yang emosional, kasar, dan terkadang berakhlak buruk. Saya tidak tahu apakah saya harus berpisah darinya ke negara lain di tempat keluarga saya dan tetap berstatus menikah agar saya bisa mendidik anak-anak dalam suasana tenang yang saya impikan bagi mereka, ataukah saya harus menuntut cerai dan hidup sendiri untuk mendidik mereka? Saya tidak mendapatkan manfaat apa pun dari kebersamaan saya dengannya selain kesengsaraan, kesedihan, dan penyesalan. Mohon berikan arahan kepada saya.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن الزوج مطالب شرعا بأن يحسن عشرة زوجته، فقد أمره الله تعالى بذلك في كتابه فقال:
Sesungguhnya suami dituntut secara syariat untuk memperlakukan istrinya dengan baik (husnul ‘isyrah), karena Allah Ta’ala telah memerintahkan hal tersebut dalam Kitab-Nya dengan berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ [النساء: ١٩]
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” [An-Nisaa: 19]
وقد أوصى النبي صلى الله عليه وسلم الرجال بزوجاتهم خيرا فقال:
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepada laki-laki agar berbuat baik kepada istri-istri mereka, beliau bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR. Muslim)
فإيذاء الرجل لزوجته وإساءته الخلق معها ونحو ذلك يتنافى مع ما جاءت به هذه النصوص. وإن كان يقوم بصفع بناته في الوجه وضربهن بشدة فهو مسيء من هذه الجهة أيضا، وتأديب الأولاد له ضوابط لا بد من مراعاتها، وقد بينا بعضها بالفتوى الأخرى هنا.
Maka tindakan laki-laki yang menyakiti istrinya dan berperangai buruk kepadanya serta hal-hal semisalnya merupakan tindakan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh nash-nash ini. Jika ia menampar wajah anak-anak perempuannya dan memukul mereka dengan keras, maka ia pun telah berbuat salah dalam hal ini. Mendidik anak memiliki batasan-batasan (dhawabith) yang wajib diperhatikan, dan kami telah menjelaskan sebagian darinya dalam Fatwa yang lain disini.
وعلى كل فالذي نوصيك به هو الصبر عليه والدعاء له بالهداية والصلاح، ومناصحته بأسلوب طيب، وخاصة فيما يتعلق بأمر التفريط في الصلاة، وعليك بالحرص على التزين وحسن التبعل له وتذكيره بحاجة بنتيه إلى اهتمامه بهن، وأهمية ذلك في حسن نشأتهن.
Bagaimanapun juga, apa yang kami wasiatkan kepadamu adalah bersabar menghadapinya dan mendoakannya agar mendapatkan hidayah serta keshalihan. Nasehatilah ia dengan cara yang baik, terutama terkait kelalaiannya dalam shalat. Hendaknya engkau tetap memperhatikan hiasan diri dan pelayanan yang baik kepadanya (husnut taba’ul), serta mengingatkannya akan kebutuhan kedua putrinya terhadap perhatiannya, dan pentingnya hal tersebut bagi pertumbuhan mereka yang baik.
والمرأة إذا كانت متضررة من البقاء مع زوجها يحق لها أن تطلب منه الطلاق أو الخلع، ولكننا ننصح المرأة بالتريث في ذلك، فليست المصلحة في الطلاق دائما، بل قد تكون فيه المفسدة في الغالب. وأما البعد عنه والرجوع إلى بلدك فلا يجوز إلا بإذن منه، فإن المرأة يجب عليها أن تقيم حيث يقيم زوجها ما لم يمنعها من ذلك مانع شرعي. وراجعي في هذا الفتوى الأخرى هنا، كما أنه قد يكون الضرر عليها وعلى أولادها أعظم ببعدها عنه. نسأل الله تعالى أن يصلح لك زوجك وأن يرده إلى جادة الصواب وما ذلك على الله بعزيز.
Seorang wanita jika merasa dirugikan (matdharirah) dengan tetap tinggal bersama suaminya, ia berhak menuntut cerai atau khul’. Namun kami menasehatkan agar wanita bersikap tenang dan tidak terburu-buru dalam hal itu, karena maslahat tidak selalu terletak pada perceraian, bahkan sering kali perceraian justru membawa mafsadat (kerusakan). Adapun pergi menjauh darinya dan kembali ke negaramu, maka hal itu tidak diperbolehkan kecuali dengan izin darinya. Sebab, seorang istri wajib tinggal di mana pun suaminya tinggal selama tidak ada penghalang syar’i. Rujuklah dalam hal ini pada Fatwa yang lain disini. Selain itu, dharar (bahaya/kerugian) bagi sang istri dan anak-anaknya bisa jadi lebih besar jika ia menjauh darinya. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki suamimu dan mengembalikannya ke jalan yang benar, dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply