Sikap Syariat Terhadap Penambahan pada Dzikir



موقف الشرع من الزيادة على الأذكار المحددة بعدد معين

Sikap Syariat Terhadap Penambahan pada Dzikir yang Telah Ditentukan dengan Bilangan Tertentu

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Sikap Syariat Terhadap Penambahan pada Dzikir yang Telah Ditentukan dengan Bilangan Tertentu ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الرحيم والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين أما بعد. هل يجوز أن نتجاوز عدد التسبيحات التي أوصانا بها النبي صلى الله عليه و سلم مثلآ في حديثه من سبح مائة تسبيحة له ألف حسنة هل يجوز أن نقول مائة وعشرين أو أكثر ومتى يجوز لنا أن نتجاوز بعض الأعداد ومتى لا يجوز وجزاكم الله خيراً.

Bismillahirrahmanirrahim, shalawat serta salam semoga tercurah kepada semulia-mulia Nabi dan Rasul. Amma ba’du: Apakah diperbolehkan bagi kita melampaui jumlah tasbih yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Contohnya dalam hadits beliau: “Barangsiapa bertasbih seratus kali maka baginya seribu kebaikan”, apakah boleh kita mengucapkannya seratus dua puluh kali atau lebih? Kapan kita diperbolehkan melampaui sebagian bilangan tersebut dan kapan tidak diperbolehkan? Jazakumullahu khairan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فقد فتح الشرع الباب أمام الذاكرين، قال الله تعالى:

Sesungguhnya syariat telah membuka pintu seluas-luasnya bagi orang-orang yang berdzikir. Allah Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ [البقرة: ١٥٢]

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” [Al-Baqarah: 152]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا [البقرة: ٢٠٠]

“Maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” [Al-Baqarah: 200]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ [النساء: ١٠٣]

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” [An-Nisa: 103]

وفي الحديث المتفق عليه من حديث هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dalam hadits yang disepakati keshahihannya (muttafaqun ‘alaih) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah orang banyak, Aku pun mengingatnya di tengah orang banyak yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku pun mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun mendatanginya dengan berlari kecil’.”

والأحاديث والآيات في هذا الباب كثيرة جداً، وهي ترغب في الإكثار من ذكر الله تعالى، وتحث عليه بدون حد. وما ما ورد من الأذكار محدداً بعدد معين فلا مانع من الزيادة فيه، والدليل على ذلك ما أخرجه النسائي والطبراني من حديث عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده، قال: قال الرسول صلى الله عليه وسلم:

Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini sangat banyak, semuanya memotivasi untuk memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala tanpa batasan. Adapun dzikir yang datang dengan jumlah tertentu, maka tidak ada larangan untuk menambahnya. Dalilnya adalah apa yang dikeluarkan oleh an-Nasa’i dan ath-Thabrani dari hadits ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ مِائَةِ بَدَنَةٍ، وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ مِائَةِ فَرَسٍ يُحْمَلُ عَلَيْهَا، 

“Barangsiapa mengucapkan Subhanallah seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka itu lebih utama daripada seratus ekor unta (kurban). Barangsiapa mengucapkan Alhamdulillah seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka itu lebih utama daripada seratus ekor kuda yang digunakan berperang di jalan Allah.

وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا كَانَ أَفْضَلَ مِنْ عِتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ، وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا، لَمْ يَجِئْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدٌ بِعَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ إِلَّا مَنْ قَالَ قَوْلَهُ أَوْ زَادَ

Barangsiapa mengucapkan Allahu Akbar seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka itu lebih utama daripada memerdekakan seratus budak. Dan barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir seratus kali sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama darinya, kecuali orang yang mengucapkan seperti apa yang ia ucapkan atau MENAMBAHNYA.”

ويدل على ذلك أيضاً الحديث المتفق عليه من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

“Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir dalam sehari seratus kali, maka baginya pahala senilai memerdekakan sepuluh budak, dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan zikir tersebut menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu sampai petang. Dan tidak ada seorang pun yang membawa amalan lebih utama dari apa yang ia bawa, kecuali seseorang yang mengamalkan LEBIH BANYAK dari itu.”

قال الباجي المالكي في المنتقى شرح الموطأ: ثم قال: “إلا رجل عمل أكثر من ذلك” لئلا يظن السامع أن الزيادة على ذلك ممنوعة كتكرار العمل في الوضوء. ا.هـ

Al-Baji al-Maliki berkata dalam al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’: “Kemudian beliau bersabda: ‘Kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu’, agar pendengar tidak menyangka bahwa menambah bilangan tersebut dilarang seperti dilarangnya mengulang-ulang basuhan dalam wudhu (lebih dari tiga kali).” Selesai kutipan.

وقال ابن مفلح في الفروع بعد ذكر استحباب الاستغفار ثلاثاً بعد الصلاة ما نصه: والمقصود من العدد أن لا ينقص منه، وأما الزيادة فلا تضر.. لأن الذكر مشروع في الجملة فهو يشبه المقدر في الزكاة إذا زاد عليه. انتهى. ومثل ذلك قال إبراهيم بن مفلح صاحب المبدع.

Ibnu Muflih berkata dalam al-Furu’ setelah menyebutkan kesunnahan beristighfar tiga kali setelah shalat: “Maksud dari bilangan tersebut adalah agar jangan sampai menguranginya, adapun menambahnya maka tidaklah mengapa… karena dzikir secara umum adalah hal yang disyariatkan, maka ia menyerupai kadar yang ditentukan dalam zakat jika seseorang menambahnya.” Selesai kutipan. Hal senada juga dikatakan oleh Ibrahim bin Muflih penulis kitab al-Mubdi’.

وقال العلامة ابن القاسم في حاشيته على تحفة المحتاج: الوجه الذي اعتمده جمع من شيوخنا كشيخنا الإمام البرلسي وشيخنا الإمام الطبلاوي حصول هذا الثواب إذا زاد على الثلاث والثلاثين في المواضع الثلاثة، فيكون الشرط في حصوله عدم النقص عن ذلك خلافاً لمن خالف.

Al-‘Allamah Ibnu al-Qasim berkata dalam Hasyiyah-nya atas Tuhfatul Muhtaj: “Pendapat yang dipegang oleh sekelompok guru kami seperti Syaikh kami Imam al-Burlusi dan Syaikh kami Imam ath-Thablawi adalah bahwa pahala tersebut tetap didapatkan meskipun seseorang menambah jumlahnya dari tiga puluh tiga kali pada tiga tempat (tasbih, tahmid, takbir), maka syarat mendapatkan pahalanya adalah tidak kurang dari jumlah tersebut, berbeda dengan pendapat pihak yang menyelisihinya.”

قال ابن حجر الهيتمي في التحفة: تنبيه: كثر الاختلاف بين المتأخرين في من زاد على الورد كأن سبح أربعاً وثلاثين، فقال القرافي يكره لأنه سوء أدب، وأيد بأنه دواء، وهو إذا زيد فيه على قانونه يصير داء، وبأنه مفتاح وهو إذا زيد على أسنانه لا يفتح.

Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam at-Tuhfah: “Peringatan: Banyak terjadi perbedaan di antara ulama belakangan mengenai orang yang menambah jumlah wirid, misalnya bertasbih tiga puluh empat kali. Al-Qarafi berpendapat hukumnya makruh karena dianggap kurang beradab, dan diperkuat dengan alasan bahwa dzikir itu ibarat obat; jika dosisnya dilebihi dari aturannya maka akan menjadi penyakit, dan ibarat kunci; jika geriginya ditambah maka tidak akan bisa membuka.”

وقال غيره: يحصل له الثواب المخصوص مع الزيادة، ومقتضى كلام الزين العراقي ترجيحه، لأنه بالإتيان بالأصل حصل له ثوابه، فكيف تبطله زيادة من جنسه، واعتمده ابن العماد بل بالغ فقال: … اعتقاد عدم حصول الثواب … قول بلا دليل، يرده عموم (من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها). ا.هـ والراجح من الأدلة جواز الزيادة لما ذكرنا.

“Sedangkan ulama lainnya berkata: Ia tetap mendapatkan pahala khusus tersebut beserta tambahannya. Konsekuensi dari perkataan Az-Zain al-‘Iraqi adalah menguatkan pendapat ini, karena dengan mendatangkan jumlah asalnya maka pahalanya telah didapatkan, lalu bagaimana bisa tambahan yang sejenis membatalkannya? Pendapat ini dipegang oleh Ibnu al-‘Imad, bahkan beliau bersikap keras dengan berkata: ‘Keyakinan tidak mendapatkan pahala… adalah perkataan tanpa dalil, dan terbantahkan oleh keumuman ayat (Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya)’. Selesai kutipan. Dan pendapat yang kuat (rajih) dari dalil-dalil yang ada adalah diperbolehkannya penambahan jumlah dzikir sebagaimana yang telah kami jelaskan.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.