الزكاة…تعريفها وخصائصها
Zakat: Definisi dan Karakteristiknya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Zakat: Definisi dan Karakteristiknya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat
السؤال:
Pertanyaan:
ما هو تعريف الزكاة في الدين الإسلامي وما خصائصها؟
Apa definisi zakat dalam agama Islam dan apa saja karakteristiknya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فالزكاة في اللغة: مشتقة من الزكاء وهو النماء والزيادة. وسمي ما يخرج من المال للمساكين -بإيجاب الشرع- زكاة لأنها تزيد في المال الذي أخرجت منه وتوفره وتقيه الآفات.
Zakat secara bahasa (etimologi) berasal dari kata az-zaka yang berarti pertumbuhan (an-nama) dan pertambahan (az-ziyadah). Apa yang dikeluarkan dari harta untuk orang-orang miskin —berdasarkan kewajiban syariat— dinamakan zakat karena ia menambah keberkahan pada harta yang dikeluarkan darinya, melimpahkannya, serta menjaganya dari berbagai malapetaka.
والزكاة في الشرع عرفت بتعريفات منها: أنها حق يجب في المال، ومنها: أنها اسم لأخذ شيء مخصوص من مال مخصوص على أوصاف مخصوصة لطائفة مخصوصة.
Adapun zakat secara istilah syariat (terminologi) didefinisikan dengan beberapa pengertian, di antaranya: bahwa zakat adalah hak yang wajib ada pada harta. Definisi lainnya: zakat adalah sebutan bagi pengambilan sesuatu yang khusus dari harta yang khusus, dengan sifat-sifat yang khusus, untuk diserahkan kepada golongan yang khusus pula.
والزكاة ركن من أركان الإسلام الخمسة الثابتة بالكتاب والسنة والإجماع. وتختص الزكاة من بين الجبايات والضرائب المالية الأخرى بسمات من أبرزها وأعمها: ما يقترن بهذه الفريضة من روح الإيمان والاحتساب والقيام بالواجب، وهي الروح التي تتجرد منها الضرائب الرسمية.
Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang ketetapannya berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma (kesepakatan ulama). Zakat memiliki kekhususan dibandingkan dengan pungutan atau pajak keuangan lainnya melalui ciri-ciri yang paling menonjol dan umum: yaitu adanya keterikatan ibadah ini dengan ruh keimanan, semangat mengharap pahala (ihtisab), dan penunaian kewajiban secara sukarela karena ketaatan—suatu ruh yang tidak dimiliki oleh pajak-pajak resmi negara.
وتختص بأنها تؤخذ من الأغنياء الذين يستوفون شروط وجوبها ويملكون نصابها وتصرف في مصارفها المحددة من الفقراء والمساكين والغارمين وغيرهم من أصناف مستحقي الزكاة، وهذا بالعكس في الجبايات والضرائب والمكوس التي تفرض من الحكومات.
Kekhususan lainnya adalah zakat diambil dari orang-orang kaya yang memenuhi syarat wajib dan memiliki nishab, untuk kemudian disalurkan kepada pos-pos (masharif) yang telah ditentukan, seperti orang-orang fakir, miskin, gharimin (orang yang terlilit hutang), dan golongan penerima zakat lainnya. Hal ini berkebalikan dengan pungutan, pajak, dan bea (makus) yang ditetapkan pemerintah, yang seringkali diambil dari rakyat kecil atau kalangan menengah namun terkadang manfaatnya kembali kepada orang-orang kaya dan kuat di antara mereka.
أما الزكاة فهي كما قال رسولنا صلى الله عليه وسلم:
Adapun zakat, ia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Zakat itu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (Muttafaqun ‘Alaih)
فهي فريضة فرضها الله عبادة للموسرين، ولطفاً ورحمة بالفقراء والمحتاجين. يقول السيد محمد رشيد رضا في تفسيره: (ولو أقام المسلمون هذا الركن من دينهم لما وجد فيهم -بعد أن كثرهم الله ووسع عليهم في الرزق- فقير مدقع، ولا ذو غرم مفجع، ولكن أكثرهم تركوا هذه الفريضة فجنوا على دينهم وأمتهم) انتهى.
Maka zakat adalah kewajiban yang Allah tetapkan sebagai bentuk ibadah bagi orang-orang yang berkelapangan harta, serta sebagai bentuk kelembutan dan rahmat bagi fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berkata dalam tafsirnya: “Seandainya kaum Muslimin menegakkan rukun agama mereka ini, niscaya tidak akan ditemukan di antara mereka —setelah Allah memperbanyak jumlah mereka dan meluaskan rezeki bagi mereka— orang fakir yang sengsara, tidak pula orang yang terlilit hutang yang memilukan. Akan tetapi kebanyakan mereka meninggalkan kewajiban ini, sehingga mereka telah berbuat aniaya terhadap agama dan umat mereka sendiri.” Selesai kutipan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply